Indahnya Jalinan Keberagaman di Sanggar Raras Moro

Rabu, 11 Okt 2017, 06:00 WIB

Suara gamelan mengalun disertai tembang-tembang Jawa yang merdu, memecah keheningan malam. Sejumlah orang yang tergabung dalam kelompok karawitan terlihat serius dengan alat musik gamelan masing-masing agar alunan nada yang dihasilkan enak didengar.

Itulah yang tampak di sebuah bangunan yang berada di lereng perbukitan pada jalur alternatif Kabupaten Semarang dan Kabupaten Temanggung. Bangunan tersebut berada di Dusun Janggleng, Desa Tlogowungu, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Ket. Foto: Berlatih Karawitan - Sejumlah anggota Sanggar Raras Moro yang berasal dari berbagai latar belakang dan agama berlatih karawitan, di Dusun Janggleng, Desa Tlogowungu, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, baru-baru ini. — Sumber: istimewa

Kelompok karawitan itu berlatih di sebuah bangunan sekolah agama Buddha milik Yayasan Dhamas Eka. Jika ditilik lebih saksama, para anggota sanggar yang diberi nama Raras Moro itu bukanlah para anggota yayasan, mereka hanya meminjam tempat untuk bisa berlatih.

Latihan rutin dilakukan setiap Rabu dan Sabtu malam. Terdapat dua kelompok karawitan di bawah asuhan Ki Sugeng Suryowongso. Sugeng mengatakan para pegiat seni ini berasal dari berbagai daerah, suku, dan bahkan dari agama yang berbeda. Terdapat penganut agama Buddha, Islam, Kristen, dan Katolik yang bergabung.

Di Dusun Janggleng, keberagaman memang begitu terlihat, bahkan dari sisi jalan raya yang bisa dilihat saat orang melintas. Memasuki kawasan itu, di kiri jalan terlihat vihara. Tak jauh dari vihara, mungkin hanya beberapa langkah sudah berdiri masjid serta gereja.

Sudah menjadi kodrat manusia jika harus menyandang suku, golongan, agama, dan bangsa yang berbeda antara satu dan yang lain. Namun, hal itu akan kembali ke manusianya sendiri untuk bisa hidup berdampingan secara damai. "Jika akarnya sudah kuat, mau digoyahkan seperti apa juga tetap kuat. Seperti itu juga toleransi di sini," kata pria kelahiran 12 Desember 1968 ini.

Kebersamaan antarumat beragama juga terlihat saat hari raya keagamaan, di mana para warga akan saling mengunjungi untuk mengucapkan selamat merayakan. Saat ada kerja bakti di tempat ibadah pun, warga yang berbeda agama dengan sukarela membantu, baik berupa makanan maupun tenaga.

Toleransi Kuat

Sugeng menceritakan akar toleransi yang kuat itulah yang membuat alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha di Kota Salatiga ini akhirnya membentuk sebuah sanggar kesenian pada tahun 2008. Nama Raras Moro yang juga nama anak keduanya itu memiliki arti mengajak siapa saja untuk datang, bersama, dan menikmati keindahan seni.

Awal mula mendirikan sanggar ini saat dia pindah dari Kota Semarang ke Kabupaten Temanggung. Ketika pindah, dia merasakan ada hal yang berbeda dengan Kecamatan Kaloran, tempatnya kini tinggal.

Dulu, di kecamatan berhawa sejuk tersebut merupakan sentra berbagai seni budaya, seperti karawitan, srandul, ketoprak, pedalangan hingga tari tradisional Jawa. Namun sayangnya, hal itu tak lagi dijumpai saat dia kembali. "Saya lahir di sini, kemudian merantau dan kembali lagi. Jadi, sudah lebih dari 20 tahun kesenian di daerah ini mati suri," kata Sugeng.

Sugeng kemudian berkeliling dari pintu ke pintu untuk kembali mengajak siapa pun yang peduli untuk membangkitkan kejayaaan kesenian. Bermodal satu set gamelan usang, berdirilah Sanggar Raras Moro yang kini sudah cukup dikenal. Awalnya, anggota kelompok sanggar berlatih dengan meminjam rumah-rumah warga yang mengizinkan untuk menggelar latihan karawitan.

Sejak lima tahun terakhir, para anggota Sanggar Raras Moro mengadakan latihan di gedung sekolah milik Yayasan Dhamas Eka, yang berada persis di bawah tempat tinggal Sugeng. "Saya pun sudah sampaikan pada petinggi yayasan bahwa sanggar ini dari berbagai kalangan. Mereka justru menyambut dengan baik dan bahkan banyak membantu," paparnya.

Ketika awal sanggar berdiri, Sugeng sempat mengajukan proposal ke Kementerian Agama bidang Agama Buddha dan mendapatkan bantuan dua set gamelan. Kelompok seni dari sanggar yang diasuhnya kini sudah sering manggung di beberapa daerah untuk berbagai acara.

Endang (37 tahun), warga Dusun Janggleng, mengakui toleransi di wilayahnya memang terjalin baik. Hal ini bisa dilihat dari pemilihan aparat di kampungnya yang hanya melihat dari kemampuan, bukan dari agama atau suku. Di sini damai dari dulu sampai sekarang.

Pada kesempatan berbeda, Wakil Gubernur Jateng, Heru Sudjatmoko, mengajak semua lapisan masyarakat menjaga kerukunan antarumat beragama dalam keberagaman latar belakang. Para pendiri negara memberikan keteladanan bagaimana hidup berbangsa dan bernegara di tengah keberagaman, bersama mewujudkan cita-cita luhur bangsa.

n SM/Ant/N-3

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Antara, Henri pelupessy

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.