Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video
Proyeksi Perekonomian I RI Keluar dari Keterpurukan Ekonomi pada Awal 2022

UMKM Faktor Pendorong Utama Pertumbuhan Ekonomi

Foto : Sumber: BPS, BI– Litang KJ/and - KORAN JAKARTA/ONE
A   A   A   Pengaturan Font

» UMKM merupakan motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan kontribusi lebih dari 60 persen terhadap PDB.

» Kebangkitan ekonomi negara- negara mitra dagang utama akan meningkatkan harga komoditas ekspor RI.

JAKARTA - Perekonomian Indonesia diperkirakan tumbuh 3,5 persen pada tahun ini dan meningkat menjadi sekitar 5 persen pada 2022 mendatang. Hal itu didasarkan pada makin meluasnya jangkauan program vaksinasi sehingga menekan angka infeksi Covid-19.

Ekonom Bank UOB Indonesia, Enrico Tanuwidjaja, dalam acara UOB Economic Outlook di Jakarta, Rabu (15/9), mengatakan Indonesia mulai keluar dari keterpurukan ekonomi pada awal tahun depan setelah sempat dilanda resesi ekonomi tahun lalu.

"Kami melihat tahun 2022 adalah tahunnya Indonesia di mana kita diharapkan akan bertumbuh lima persen atau lebih tinggi," kata Enrico.

Untuk tumbuh seperti perkiraan, maka pemerintah harus melanjutkan reformasi struktural, menciptakan aliran pendapatan komoditas yang berkelanjutan, memanfaatkan konsumsi domestik yang kuat, serta memanfaatkan konektivitas dengan rantai nilai global.

Faktor pendorong utama meningkatnya pertumbuhan ekonomi, kata Enrico, adalah sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sebab, UMKM merupakan motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan kontribusi lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan mampu menyerap lebih dari 97 persen dari total tenaga kerja produktif.

"UMKM saat ini tengah menghadapi kendala dalam melayani kebutuhan dan preferensi konsumsi masyarakat Indonesia yang jumlahnya terus meningkat," katanya.

Oleh sebab itu, UMKM, kata Enrico, perlu melakukan reformasi di tiga bidang strategis agar dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian dan mencatatkan kemajuan yang berarti. Bidang-bidang tersebut antara lain dengan meningkatkan digitalisasi, akses kredit dan kolaborasi dengan perusahaan besar di dalam dan di luar Indonesia.

Lebih lanjut, Enrico melihat tingkat inflasi Indonesia masih terjaga dalam kisaran rendah, yaitu 2,4 persen pada 2021 dan meningkat menjadi 2,7 persen pada 2022, sehingga memungkinkan kebijakan moneter akan lebih akomodatif. Sinergi kebijakan fiskal yang ekspansif dan restrukturisasi kredit/pembiayaan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan mempercepat pemulihan ekonomi nasional secara menyeluruh dan berkesinambungan.

Untuk nilai tukar rupiah, dia memperkirakan akan bergerak di kisaran 14.650-14.850 rupiah per dollar Amerika Serikat (AS) pada akhir tahun ini. Seiring dengan bergeliatnya ekonomi dan impor meningkat maka kurs rupiah sangat mungkin mencapai 15.000 rupiah per dollar AS.

Kepercayaan Masyarakat

Secara terpisah, Pakar Ekonomi dari Universitas Atmajaya Jakarta, Yohanes B Suhartoko, mengatakan proyeksi ekonomi 5 persen pada 2022 sangat mungkin dicapai asalkan pemerintah bisa menurunkan kasus baru Covid-19, meningkatkan kesembuhan dan menurunkan kematian. Program vaksinasi juga harus meningkatkan herd immunity (kekebalan kelompok) agar tidak terjadi lagi gelombang wabah berikutnya yang buruk.

"Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat dan modal bagi pemerintah untuk melakukan kebijakan pelonggaran PPKM agar perekonomian bangkit kembali," kata Suhartoko.

Selain itu, secara global perekonomian juga harus bangkit, khususnya mitra dagang utama Indonesia seperti negara-negara Asean, Tiongkok, AS, Uni Eropa, dan Jepang. Kebangkitan ekonomi negara-negara mitra dagang utama tersebut akan meningkatkan harga komoditas ekspor Indonesia.

Begitu pula sektor riil dan sektor keuangan yang harus bersiap menghadapi kenaikan suku bunga pada 2022.

Sementara itu, Pakar Ekonomi dari Universitas Airlangga, Surabaya, Wasiaturrahma, mengatakan ekonomi bisa tumbuh 5 persen bahkan bisa 7 persen seperti India, kalau perbankan menggunakan metode sinergi untuk perhitungan reformasi struktural yang lebih berkelanjutan.

"Masyarakat harus tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat untuk mengantisipasi varian baru, meskipun vaksinasi dilakukan secara gradual. Jangan terlena, untuk tumbuh 5 persen diharapkan tidak ada lagi pembatasan mobilitas," katanya.


Redaktur : Vitto Budi
Penulis : Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Komentar

Komentar
()

Top