Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Traktat Kadesh, Perjanjian Damai Pertama di Dunia

📅 Kamis, 06 Jul 2023, 06:10 WIB | Oleh:
Traktat Kadesh, Perjanjian Damai Pertama di Dunia Doc: Khaled DESOUKI / AFP

Sebelum berkuasanya Ramses II, Mesir terus berperang dengan Het untuk mempertahankan Kota Kadesh yang strategis. Bosan berperang, keduanya menandatangani Traktat Kadesh pada 1258 SM, sebuah perjanjian damai yang dikenal pertama di dunia.

Hampir tidak ada situs kuno di Mesir yang tidak menyebutkan nama Ramses II (1279-1213 SM) dan kisah kemenangannya di pertempuran Kadesh pada 1274 SM. Namun, prestasi terbesarnya bukan pada saat berperang, namun ketika melakukan perjanjian damai yang dikenal dengan Traktat Kadesh.

Perdamaian yang dilakukan tercatat sebagai penandatanganan perjanjian damai pertama dalam sejarah dunia. Karena perjanjian damai dengan orang Het, dalam pemerintahannya selama 67 tahun, Ramses II membawa Mesir menjadi saksi kemakmuran sehingga banyak kuil dan monumen yang dibangunnya untuk menghormati penaklukan dan pencapaiannya.

Meskipun memang ada perjanjian sebelumnya, yang dikenal sebagai Perjanjian Mesilim, antara Kota Mesopotamia Umma dan Lagash tertanggal 2550 SM, namun konsensus ilmiah menolak ini sebagai perjanjian damai yang sebenarnya dan para sejarawan mendefinisikan perjanjian itu sebagai traktat pembatasan yang artinya hanya perjanjian yang menetapkan perbatasan wilayah saja.

Perjanjian Mesilim sebenarnya adalah perjanjian tertulis antara Dewa Umma dan Lagash, dan bukan antara penguasa kota atau perwakilan penguasa tersebut. Oleh karenanya hal itu tidak dapat dianggap sebagai perjanjian damai yang sebenarnya. Oleh karenanya Traktat Kadesh tahun 1258 SM disebut sebagai traktat perdamaian pertama di dunia.

Traktat Kadesh dilakukan karena Mesir selalu mendapat ancaman dari Kerajaan Het. Pada tahun kelima masa pemerintahannya, firaun muda Ramses II bergerak dari Kota Per-Ramses (Rumah Ramses) menuju Suriah untuk mengamankan Kota Kadesh, sebuah kota yang dikenal sebagai perhentian berharga rute perdagangan Mesir saat itu.

Pada saat itu, Raja Het, Muwatalli II (1295-1272 SM), selalu melakukan serangan rutin ke wilayah Mesir selama beberapa waktu. Setelah Ramses II dapat membentengi Kadesh, serangan itu tetap menjadi ancaman yang lebih besar daripada sekedar gangguan di mata Ramses II.

Orang Het di Anatolia atau di Turki saat ini, telah tumbuh berkuasa sejak milenium ke-2 SM hingga sekitar 1530 SM. Wilayah ini menggantikan Babilonia sebagai kerajaan dan mulai menguji kekuatan negara tetangga mereka, Mesir. Sebelumnya usaha upaya menaklukkan Het dilakukan Firaun Akhenaten (1353-1336 SM) dari dinasti ke-18. Sayangnya ia gagal dalam menaklukkan orang-orang Het di sepanjang perbatasan.

Jenderal Akhenaten Horemheb (yang akan memerintah sebagai firaun pada 1320-1292 SM) tidak berhasil berkampanye melawan orang Het. Pada saat pemerintahan Tutankhamun (penerus Akhenaten pada 1336 SM), mereka telah tumbuh lebih kuat dan orang-orang itu bahkan cukup berani untuk membentengi daerah di dekat perbatasan Mesir.

Ketika Horemheb menjadi firaun pada 1320 SM, dia memulai kebijakan yang lebih agresif melawan orang Het dan mengamankan perbatasan Mesir. Namun upaya itu tetapi tidak pernah menyelesaikan serangan orang Het secara meyakinkan.

Ketika Seti I (1290-1279 SM) berhasil mengamankan Palestina dan Kadesh untuk Mesir, ia merasa puas dengan kemenangan tersebut. Kemenangan itu tidak membuat ia ingin menguasai kota tersebut. Namun baru ketika Ramses II dari dinasti ke-19 berkuasa, Mesir harus menghadapi masalah invasi orang Het.

Pada 1274 SM, mengumpulkan pasukannya di Per-Ramses untuk mengusir orang Het dari Kadesh dan mematahkan kekuatan pasukan mereka. Ketika mengendarai keretanya di depan empat divisi (20.000 orang) Ramses II, ia sangat yakin akan kemenangan.

Divisi pertama yang penuh semangat maju dengan tergesa-gesa sehingga jaraknya menjauh dari tiga divisi lainnya. Ketika mendekati Kadesh, mereka menemukan Badui lalu ditawan dan diinterogasi tentang keberadaan pemimpin Het, Muwatalli II, dan pasukannya.

Mereka menjawab bahwa tentara tidak berada di dekat Kadesh dan bahwa Muwatalli II takut akan kekuatan Mesir dan firaun muda. Kedua Badui sebenarnya adalah mata-mata, yang ditanam oleh orang Het. Pada saat itu, Muwatalli II telah membentengi Kadesh dan keretanya (3.500 di antaranya) serta infanteri (37.000 orang) sedang menunggu di atas bukit berikutnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Olahraga
Iran Membidik Langkah Berse...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.