Logo

Follow Koran Jakarta di Sosmed

  • Facebook
  • Twitter X
  • TikTok
  • Instagram
  • YouTube
  • Threads

© Copyright 2025 Koran Jakarta.
All rights reserved.

Sabtu, 28 Des 2024, 02:30 WIB

Tradisi Ramah Lingkungan untuk Ciptakan Celana Jins Berkelanjutan di Jepang

Yoshiharu Okamoto memperlihatkan proses pewarnaan dengan menggunakan tangan di pabrik Momotaro Jeans yang berada di Kojima, Distrik Okayama, Jepang, pada awal September lalu. Selain bahannya tahan lama dan dibuat secara ramah lingkungan, rancangan celana

Foto: AFP/Philip FONG

Sebut saja tradisi ini sebagai penangkal limbah fashion dimana celana jins Jepang yang diwarnai dengan tangan menggunakan pewarna nila alami dan ditenun pada alat tenun kuno, lalu dijual dengan harga mahal kepada penikmat denim global.

Tidak seperti produk sejenisnya yang diproduksi secara massal, pakaian tangguh yang dibuat di pabrik kecil Momotaro Jeans di barat daya Jepang ini sengaja dirancang untuk dipakai selama puluhan tahun dan bahkan dilengkapi dengan garansi perbaikan seumur hidup.

Di pabrik itu, Yoshiharu Okamoto dengan lembut mencelupkan benang katun ke dalam bak berisi cairan biru tua, yang mengotori tangan dan kukunya saat ia mengulangi proses tersebut.

“Katun tersebut diimpor dari Zimbabwe, tetapi nila alami yang mereka gunakan dipanen di Jepang karena warnanya jauh lebih kaya daripada imitasi sintetis,” ucap Okamoto.

Ia menyebutnya sebagai metode yang memakan waktu dan mahal yang umum digunakan untuk mewarnai kimono pada periode Edo abad ke-17 hingga ke-19.

Momotaro Jeans didirikan pada tahun 2006 oleh Japan Blue, salah satu dari beberapa lusin produsen denim di kota tepi laut Kojima, yang terkenal dengan kualitas produk mereka.

"Kami sangat ketat tentang semua aspek manufaktur," kata presiden Japan Blue, Masataka Suzuki, kepada AFP. “Termasuk di dalamnya apakah jahitannya benar, dan apakah pewarnaannya bagus, hingga menjadikan pengrajin lokal dengan keterampilan manufaktur tradisional sangat diperlukan,” imbuh dia.

Namun usaha mereka tidaklah murah. Sepasang celana jins Momotaro standar dijual seharga sekitar 30.000 yen, sementara sepasang celana jins campuran sutra harganya 60.000 yen. Produk termahal dari merek tersebut, yang ditenun dengan tangan menggunakan mesin kayu yang diubah dari alat tenun kimono mewah, memiliki banderol harga lebih dari 200.000 yen.

Mengikuti jejak merek denim Jepang kelas atas yang populer seperti Evisu yang berpusat di Osaka dan Sugar Cane di Tokyo, minat terhadap Japan Blue justru tumbuh di kalangan pembeli luar negeri. Mereka kini menyumbang 40 persen dari penjualan eceran, dan perusahaan baru-baru ini membuka toko keenamnya di Kyoto yang menyasar wisatawan berkantong tebal.

Reputasi Khusus

Pembuatan denim berkembang pesat sejak tahun 1960-an di Kojima, yang memiliki sejarah panjang dalam penanaman kapas dan pembuatan tekstil. Pada zaman Edo, kota ini memproduksi tali anyaman untuk samurai guna mengikat gagang pedang. Kemudian, kota ini beralih memproduksi kaus kaki tabi dengan ujung terbelah dan kemudian seragam sekolah. Dan saat ini denim dari Kojima digunakan oleh merek mode mewah internasional.

“Pasar jins Jepang telah tumbuh dalam 10 hingga 15 tahun terakhir," kata Michael Pendlebury, seorang penjahit yang mengoperasikan bisnis jahitnya di Inggris bernama The Denim Doctor.

“Meskipun dipuja oleh penggemar denim di negara-negara Barat, denim masih tidak terjangkau bagi kebanyakan orang dan memiliki reputasi yang khusus," tutur Pendlebury, seraya menambahkan bahwa merek denim produksi massal seperti Levis, Diesel, dan Wrangler, adalah yang terbesar dan paling banyak dipakai, tetapi menurutnya kualitas tertinggi masih buatan Jepang.

Pendlebury pun menambahkan bahwa nilai yen yang lemah dan ledakan pariwisata dapat mendongkrak penjualan jins buatan Jepang.

Momotaro Jeans dinamai berdasarkan pahlawan cerita rakyat di Okayama, tempat Kojima berada. Perusahaan ini merupakan bagian dari wilayah Sanbi yang memproduksi denim, yang juga mencakup Hiroshima.

Faktor lain yang menjadikan merek seperti Momotaro Jeans istimewa dan mahal adalah penggunaan mesin tenun shuttle loom tua yang sangat berisik, yang hanya bisa menghasilkan seperempat dibandingkan hasil produksi alat tenun pabrik terbaru.

Mesin-mesin itu sering rusak, tetapi satu-satunya orang yang tahu cara memperbaiki mesin-mesin itu adalah mereka yang berusia 70-an atau lebih tua, menurut Shigeru Uchida, seorang perajin tenun di Momotaro.

Merek Momotaro Jeans hanya menggunakan beberapa alat tenun shuttle yang dibuat pada tahun 1980-an oleh perusahaan milik Toyota.

"Saat ini hanya ada beberapa mesin seperti itu di Jepang karena sudah tidak diproduksi lagi, kata Uchida yang berusia 78 tahun, sembari berjalan maju mundur di antara mesin-mesin untuk mendeteksi suara-suara tidak biasa yang bisa menjadi tanda kerusakan.

Meski rumit, Uchida mengatakan kain yang mereka gunakan sepadan dengan harganya. "Teksturnya sangat halus saat disentuh, dan jika dibuat menjadi celana jins, teksturnya bertahan cukup lama," imbuh dia.

Sedangkan Suzuki mengatakan Momotaro Jeans adalah pilihan yang berkelanjutan karena kapanpun Anda membawanya kembali (jika terjadi kerusakan), maka mereka akan bertanggung jawab untuk memperbaikinya.

"Ketika orang menghabiskan banyak waktu dengan mengenakan celana jins, jalan hidup mereka akan tertuju pada pakaian tersebut, tergantung pada bagaimana mereka mengenakan atau mencucinya dan bahkan di mana mereka tinggal,” kata Suzuki. "Kami ingin mempertahankan keistimewaan  tersebut selama mungkin," imbuh dia. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

Tag Terkait:

Bagikan:

Portrait mode Better experience in portrait mode.