Sadeng, Ujung Aliran Sungai Bengawan Solo Purba
📅 Sabtu, 17 Feb 2024, 06:25 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF
Selain fenomena unik di Dusun Wotawati, peristiwa alam lainnya terjadi di Teluk Sadeng. Dahulu teluk ini menjadi muara dari Sungai Bengawan Solo. Karena tidak lagi ada aliran air sungai dari hulunya, teluk ini berubah menjadi pantai dengan perbukitan kapur di kanan kirinya.
Jalur dari muara Bengawan Solo purba di Kabupaten Gunungkidul bisa disaksikan dengan jelas pada jalur jalan menuju Pantai Sadeng lalu ditelusuri ke utara melewati Dusun Wotawati salah satunya. Penelusuran ini seperti melayangkan imajinasi evolusi wilayah ini pada empat juta tahun yang lalu.
Sebelum sampai di Pantai Sadeng bisa menikmati aliran Bengawan Solo purba tepatnya di wilayah Kecamatan Girisubo, sebuah ibu kota kecamatan di Kabupaten Gunungkidul. Di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), aliran sungai purba ini hanya di kecamatan ini, selebihnya berada di Kabupaten Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah.
Di sepanjang jalan di Girisubo wisatawan bisa menikmati lembah dan perbukitan Bengawan Solo purba hingga berakhir di Pantai Sadeng. Pemandangan ini seperti mengajak menenggelamkan diri ke masa lalu saat daratan mengalami pengangkatan sehingga alirannya berubah arah.
Jalur jalan menuju Pantai Sadeng tidak hanya melewati tebing di sisi aliran sungai itu. Jalan ini juga turun ke bawah menyusuri lembah terutama ketika mulai mendekati wilayah pantai dimana jalanan telah berada di area bekas sungai.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berhenti sejenak di pinggir jalan menuju pantai atau berjalan perlahan adalah cara paling tepat untuk menikmati pemandangan bekas aliran ini. Di sini bisa mengabadikan diri di tebing-tebing kapur yang ditumbuhi pepohonan.
Jika ingin lebih jauh lagi bisa menjelajahi Bengawan Solo purba hingga wilayah hulu tepatnya Pracimantoro di Kabupaten Wonogiri. Di sini bisa dijumpai lahan pertanian yang memanfaatkan lembah sungai yang berkelok-kelok dengan tanaman palawija.
Jika pilihannya hanya menuju Pantai Sadeng, maka akan melihat pantai pasir putih di Teluk Sadeng. Sayangnya pantai Sadeng hanya tersisa sedikit tepatnya di sudut bagian timur di depan pemecah ombak. Selebihnya telah dibuat menjadi pelabuhan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pelabuhan Perikanan Pantai.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sadeng saat ini menjadi pelabuhan perikanan di Yogyakarta yang paling maju. Hal ini terbukti dengan kelengkapan sarana pendukungnya, seperti perahu motor yang berukuran lebih besar, terminal pengisian bahan bakar, rumah pondokan nelayan luar daerah hingga tempat pelelangan ikan dan koperasi.
Sadeng tidak dapat berkembang seperti sekarang tanpa orang luar. Sekitar 1982, serombongan nelayan ikan dari Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, datang ke tempat ini. Mereka melihat teluk tersebut berpotensi sebagai tempat melaut.
Bagi para nelayan migran, tidak mudah menaklukkan pendapat warga setempat yang percaya tidak boleh melaut di pantai yang angker.
Akhirnya, bertahanlah serombongan nelayan dari Gombong itu. Lama kelamaan mereka berhasil mendapatkan ikan seperti yang diharapkan dan akhirnya komunitas nelayan di sini terus bertambah jumlahnya.
Pada 1986, didirikan tempat pelelangan ikan dan dibangun pelabuhan yang dilengkapi mercusuar untuk mendukung aktivitas perikanan tangkap. Sekitar 1989, berdiri sebuah koperasi untuk membantu ekonomi para nelayan. Pada 1995, berdiri kantor yang mengurus hasil tangkapan ikan sekaligus pondokan serupa rumah petak yang dikontrakkan untuk para nelayan.
Di Sadeng bisa disaksikan perahu-perahu dan kapal-kapal nelayan yang bersandar. Aktivitas lainnya adalah nelayan yang berangkat melaut dan juga berlabuh, mengangkut ikan dari kapal ke tempat pelelangan ikan, membersihkan perahu, dan menggiling es batu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!