Logo

Follow Koran Jakarta di Sosmed

  • Facebook
  • Twitter X
  • TikTok
  • Instagram
  • YouTube
  • Threads

© Copyright 2025 Koran Jakarta.
All rights reserved.

Senin, 30 Mei 2022, 20:00 WIB

Protein Hewani Penting untuk Atasi Kekurangan Gizi Anak

protein

Foto: ISTIMEWA

JAKARTA - Permasalahan gizi kronis pada balita masih belum selesai, karena asupan makanan yang tidak sesuai dengan kandungan gizi yang disarankan. Dampak dari kekurangan zat gizi tersebut mengganggu pertumbuhan kognitif dan fisik anak.

Salah satu yang terjadi anak-anak masih kekurangan dalam asupan protein. Padahal senyawa tersebut diibaratkan "batu bata" yang berperan besar dalam menyusun hampir semua bagian tubuh, seperti otak, otot dan tulang, jantung, paru-paru, otak, kulit dan rambut.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, Dr Piprim Basarah Yanuarso., S.pA (K), mengungkapkan, supan protein hewani sangat penting bagi tumbuh kembang anak. Sumber protein hewani seperti daging, ikan, telur dan susu untuk mencegah terjadinya tengkes (stunting).

"Sebab, protein hewani mengandung asam amino yang diperlukan untuk tumbuh kembang anak. Bila anak kekurangan asam amino esensial dapat menjadi potensi terjadinya stunting," ujar dalam acara berjudul Webinar Nasional Edukasi Gizi, Senin (30/5).

Saat ini kata Piprim, konsumsi telur dan daging di Indonesia terutama pada anak-anak di Indonesia cukup rendah. Padahalkedua bahan pangan tersebut merupakan salah satu pencegah tengkesyangefisien.

"Dengan literasi gizi pada anak-anak PAUD juga dapat dilakukan dengan melakukan kegiatan yang menyenangkan tenang konsumsi telur dan daging. Maka ia yakin anak-anak akan senang untuk mengkonsumsinya," jelasnya.

Menurut pemerhati anak dan pendongeng, Awam Prakoso, mendidik anak tidak dapat dilakukan secara mendadak. Hal itu harus seharusnya dilakukan secara terus-menerus dengan metode komunikatif, salah satu caranya dengan mendongeng.

Ia mengharapkan agar orang tua dan guru dapat mendongeng di hadapan siswa PAUD. Dengan cara mendongeng edukasi gizi seperti pentingnya protein bagi pertumbuhan mereka dapat diterima dengan mudah.

"Saat kita ingin mendongeng, kita perlu menggali tentang cerita atau naskah yang akan diceritakan. Selain itu bahasa tubuh dan suara yang ekspresif, komunikatif, dan unik menjadi poin utamanya. Anak juga nanti akan merasa senang dan tertarik akan cerita kita," jelas Awam.

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah, Prof. Dr. Masyitoh Chusnan, M. Ag., mengatakan, orang tua dan keluarga sebagai lingkungan terdekat anak menjadi ujung tombak dari kecukupan gizi anak. Namun disamping itu, PAUD sebagai lembaga pembelajaran dini bagi anak juga memiliki peranan penting untuk pemenuhan gizi anak.

"Pada lingkup organisasi Aisyiyah, guru merupakan ujung tombak pendidikan. Karena itu guru dituntut untuk memiliki kompetensi serta cerdas akan literasi. Hal ini dikarenakan untuk memberikan pemahaman kepada anak, karena terkadang anak lebih mendengar gurunya sendiri dan dapat menasehati orang tua dari anak tersebut," ujar dia.

Guru harus terus menerus mencari edukasi dan budaya guru itu ada empat, yaitu membaca ilmu terkait tugas guru, menulis, mengajar dan dapat mengamalkan ilmu yang telah mereka dapat. Ia menyarankan kepada para guru untuk selanjutnyabisa menyempurnakan panduan kepada murid seperti melalui buku panduan terkait gizi.

Ketua Harian Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (Yaici) Arif Hidayat dalam kesempatan itu mengakui, saat ini persoalan gizi tidak hanya menyangkut tengkes, melainkan juga resiko anak kelebihan berat badan atau obesitas. Konsumsi makanan dan minuman yang tidak terkontrol saat ini banyak terlihat di anak Indonesia. "Salah satu akibatnya yaitu anak menjadi gagal tumbuh karena tidak mendapatkan nutrisi yang tepat," ungkapnya.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Haryo Brono

Tag Terkait:

Bagikan:

Portrait mode Better experience in portrait mode.