Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Orangtua Perlu Pahami MPASI

📅 Sabtu, 26 Okt 2024, 01:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Orangtua Perlu Pahami MPASI Doc: ANTARA/Lifia Mawaddah Putri.
Ket. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Ani Ruspitawati saat dijumpai di Jakarta Pusat, Jumat (25/10).

JAKARTA - Bangsa ini tengah menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul untuk menyambut masa depan gemilang. Langkah ini perlu dibarengi dengan pembangunan manusia yang sehat. Salah satunya dengan member makanan pendamping untuk anak balita agar tidak menjadi stunting.

"Untuk menekan angka stunting Jakarta, para orangtua perlu memahami secara mendalam terkait pola pemberian Makanan Pendamping air susu ibu atau MPASI secara baik dan benar," tandas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta, Ani Ruspitawati, Jumat (25/10).

Dia menjelaskan, stunting memang banyak penyebabnya, tidak hanya kekurangan gizi. Salah satu ternyata juga disebabkan ketidakpahaman orangtua tentang pola makan," jelas Ani.

Dia juga mengimbau agar para orang tua tak sembarangan dalam memberikan MPASI. Ini demi menghindari buah hati menjadi stunting. Ini lebih-lebih jangan memberikan MPASI instan atau membeli MPASI siap makan yang tak memiliki izin.

Selain itu, orangtua juga perlu cermat dalam mengikuti konten-konten media sosial terkait pembuatan dan pemberian MPASI. Ani menjelaskan, untuk memberikan edukasi kepada para orangtua terkait pemberian MPASI, setiap Posyandu memiliki kegiatan bernama "Kelompok Pendidik Gizi."

Dalam kegiatan itu, orangtua bisa mendapatkan informasi terkait cara memilih makanan yang bernutrisi. Juga cara mengolahnya, termasuk cara menyuapi agar anak-anak mendapatkan nutrisi yang baik.

"Jadi, itu tujuannya adalah kita ingin pada akhirnya ada perubahan berlaku, sehingga perubahannya akan berjalan secara kuat, sustain, tidak naik turun berat badannya," tukas Ani. Menurut data Dinas Kesehatan Jakarta sepanjang Januari hingga Agustus terdapat 36.664 balita menghadapi masalah gizi.

Dari data tersebut, 26,74 persen atau 10.340 anak mengalami stunting. Ada juga anak mengalami gizi buruk dan kekurangan dalam berat badan. Kendati demikian, dari 10.340 kasus stunting, 5.969 anak sudah membaik dan 4.371 anak masih berjuang. Maka, Pemprov Jakarta berkolaborasi dengan berbagai pihak melalui program Jakarta Beraksi untuk mengurangi masalah stunting.

Prioritas

Menurut Ani, dinkes akan memprioritaskan program percepatan penurunan stunting pada tahun depan. "Dalam semua siklus hidup harus ada program kesehatannya. Itu prinsipnya," tandas Ani. Dia menjelaskan, siklus tersebut dari mulai dari ibu hamil, melahirkan, balita, remaja putri, dewasa produktif, dan lansia.

Adapun rencana kegiatan dan anggaran 2025 terdiri atas pemberian pangan keperluan medis khusus (PKMK) sebesar 22 miliar. Ini untuk 4.527 kasus stunting, pemberian makanan tambahan (PMT) terhadap kasus berat badan turun sebesar 10 miliar. Ini untuk 29.220 kasus.

Selanjutnya, PMT untuk berat badan di bawah standar 1,8 miliar untuk 3.629 kasus, PMT gizi kurang 3,7 miliar untuk 3.156 kasus, dan tatalaksana balita gizi buruk 2,5 miliar untuk 1.006 kasus.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
SBY: Kepercayaan Publik Jad...
Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
Nasional
DPR Minta Kepala BGN Baru F...
Nasional
Huntara di Langkahan roboh ...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
Nasional
Pelaksanaan program penghap...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.