Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Negara Eropa Bagi Wilayah Afrika untuk Minimalkan Konflik

📅 Kamis, 04 Jul 2024, 06:10 WIB | Oleh:
Negara Eropa Bagi Wilayah Afrika untuk Minimalkan Konflik Doc: AFP

Setelah menjajah Amerika dan Asia, beberapa negara Eropa menargetkan Afrika sebagai tanah jajahan baru pada abad ke-19. Melalui Konferensi Berlin, mereka membagi-bagi benua ini untuk meminimalkan konflik sesama mereka.

Pada abad ke-19, negara-negara adikuasa di Eropa terkunci dalam pertempuran untuk supremasi global. Setelah menjajah benua Amerika dan Asia, incaran kolonial mereka diarahkan ke Afrika yang lama dilupakan.

Pada awal abad ke-19, kekuatan-kekuatan besar Eropa yang didorong oleh nafsu kolonialisme, telah mulai menyebarkan jangkauan mereka ke seluruh dunia. Pertama adalah Inggris telah menaklukkan India dan telah lama mendirikan koloni di Amerika utara dan Australia.

Thomas Bailey, sarjana geografi dari Bangor University yang banyak menulis tentang penjajahan di Afrika, menyebutkan negara tetangga Prancis juga telah berusaha untuk memperluas kendali kekaisaran mereka di Amerika utara. Negara-negara Iberia, Spanyol, dan Portugis, juga berhasil memperoleh monopoli atas Amerika selatan.

Namun Afrika relatif tidak terpengaruh oleh kolonialisme Eropa, meskipun telah dihancurkan oleh perdagangan budak transatlantik. Namun benua ini kemudian mengalami kunjungan yang semakin sering dari penjelajah dan kartografer Eropa.

"Benua itu kemudian menjadi medan pertempuran bagi persaingan Eropa. Kekuatan-kekuatan itu berebut untuk menaklukkan seluruh daratan. Dampak penaklukan Afrika oleh Eropa akan menghantui orang-orang Afrika selama beberapa generasi dan mengubah arah sejarah benua itu selamanya," kata Bailey pada laman The Collector.

David Livingstone, seorang petualang Skotlandia yang terkenal, menjelajahi secara ekstensif wilayah pedalaman benua tersebut, yang sebelumnya tidak pernah dijangkau oleh orang Eropa. Sebelumnya Eropa hanya mendirikan pemukiman perdagangan kolonial kecil di sepanjang pantai Afrika, sebagian besar untuk membantu perdagangan budak transatlantik.

Namun kemudian Inggris mengesahkan Undang-Undang Perdagangan Budak pada tahun 1807 yang menjadikan perbudakan ilegal. Hal ini diikuti AS yang melarang impor budak pada tahun 1808. Sayang, berakhirnya perdagangan budak tidak akan mengakhiri kolonialisme Eropa.

Negara-negara Eropa mulai memperluas wilayah Afrika mereka dengan cepat. Prancis mengambil alih Aljazair pada tahun 1830. Inggris memperoleh kendali atas Koloni Tanjung (Afrika Selatan modern) pada tahun 1877 dan Pantai Emas (Ghana modern) pada tahun 1874.

Portugis menguasai koloni Angola, Mozambik, dan Guinea-Bissau. Sebenarnya negara ini telah hadir sejak lama di Afrika yaitu sejak abad ke-15 dengan menguasai rute perdagangan di pantai timur benua tersebut.

Pada tahun 1870-an, Eropa menguasai 10 persen wilayah benua Afrika. Ada beberapa faktor utama pada abad ke-19 berkontribusi pada perluasan kolonial Eropa di Afrika. Yang terpenting, Inggris menghadapi defisit perdagangan yang terus meningkat, mengekspor lebih banyak barang daripada mengimpornya, yang menjadi perhatian ekonomi yang besar bagi kekuatan di daratan Eropa.

Semua itu terjadi bertepatan dengan depresi panjang, salah satu resesi ekonomi terparah dalam sejarah, yang dimulai pada tahun 1873. Eropa terutama Inggris, terpukul keras dan banyak negara mulai mengadopsi kebijakan ekonomi yang lebih proteksionis. Afrika dan bahan bakunya yang melimpah memberi peluang untuk menumbuhkan pasar terbuka baru bagi perdagangan dan investasi modal.

Persaingan yang terus-menerus terjadi antara kekuatan-kekuatan Eropa juga kemungkinan berkontribusi pada perebutan tanah. Sumber daya dan potensi ekonomi Afrika akan memberikan keuntungan yang signifikan bagi mereka yang memperoleh pijakan terbesar di daratan tersebut.

Benua tersebut juga memiliki nilai strategis yang besar. Afrika merupakan persimpangan penting bagi perdagangan antara Eropa dan Asia. Terusan Suez di Mesir dan Tanjung Afrika Selatan merupakan posisi strategis yang vital untuk mengendalikan rute pelayaran.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Rona
Penyanyi Legendaris Peabo B...
Megapolitan
Polres Metro Bekasi Kota Be...
Nasional
PT KAI Tutup 116 Perlintasa...
Megapolitan
Wali Kota Bogor Aktivasi Mu...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.