Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video Infografis

Mewaspadai Virus Nipah, Apa Saja yang Harus Anda Ketahui?

Foto : AP/Shijith.K

Orang-orang yang mengenakan pakaian pelindung bersiap mengkremasi jenazah anak laki-laki berusia 12 tahun yang meninggal karena virus Nipah di Kozhikode, negara bagian Kerala, India, Minggu, 5 September 2021.

A   A   A   Pengaturan Font

Paul Hunter, University of East Anglia

Wabah virus Nipah yang mematikan terjadi di Kerala, India. Lima orang telah tertular virus ini. Dua di antaranya meninggal .

Pihak berwenang di distrik Kozhikode, tempat wabah itu terjadi, telah menetapkan "zona pembendungan" di wilayah tersebut dan sekolah-sekolah telah ditutup.

Sebanyak 76 orang yang berkontak dengan orang terinfeksi sedang dimonitor secara ketat untuk mengetahui tanda-tanda penyakit tersebut.

Ini merupakan wabah virus Nipah yang keempat di Kerala. Yang paling mematikan terjadi pada 2018, dengan 18 kasus terkonfirmasi laboratorium dan lima kasus suspek, 17 di antaranya meninggal.

Virus Nipah adalah virus RNA dari keluarga Paramyxoviridae. Wabah pada manusia pertama kali terdeteksi terjadi di Malaysia pada 1998 dan menyebabkan 265 kasus dan 105 kematian. Sejak itu, satu atau dua wabah terjadi setiap tahunnya. Lebih dari separuh orang yang terinfeksi meninggal.

Wabah paling sering dilaporkan tidak hanya di Bangladesh, tapi juga di India, Malaysia, Singapura, dan Filipina.

Proporsi infeksi virus Nipah yang tidak menunjukkan gejala bervariasi dari satu wabah ke wabah lainnya dan berkisar antara 17% hingga 45%. Bila virus memang menimbulkan penyakit, dampak utamanya adalah ensefalitis (pembengkakan otak). Pasien mengalami demam dan mengeluh sakit kepala hebat. Banyak pula yang mengalami disorientasi, kantuk, dan kebingungan. Beberapa pasien juga mengalami infeksi dada.

Tidak ada obat khusus untuk mengatasi virus Nipah, sehingga perawatan medis hanya bersifat "suportif", yaitu mengobati gejala individu dan menjaga kenyamanan pasien hingga diharapkan sembuh.

Beberapa pengobatan tampaknya memiliki potensi, setidaknya dalam penelitian pada hewan, tapi hanya sedikit riset pada manusia. Sebuah uji coba kecil terhadap obat yang disebut ribavirin menunjukkan obat ini dapat mengurangi kematian, tapi penelitian lebih lanjut perlu dilakukan.

Sebuah terapi bertarget yang disebut antibodi monoklonal telah terbukti efektif dalam mengurangi kematian pada monyet hijau jika diberikan cukup dini selama masa pengobatan pada infeksi virus Nipah. Namun belum ada penelitian yang menunjukkan seberapa efektif obat ini pada manusia dengan virus Nipah.

Namun demikian, pihak berwenang India membeli antibodi monoklonal dari Australia untuk digunakan dalam wabah saat ini.

Tidak ada vaksin untuk melawan virus Nipah meskipun vaksin mRNA untuk melawan virus tersebut sedang diuji pada manusia.

Bagaimana orang bisa terinfeksi?

Pada wabah awal di Malaysia, faktor risiko utama adalah kontak dengan babi atau menjadi peternak babi, tapi tidak ada bukti adanya penularan dari orang ke orang. Pada saat itu masih belum jelas mengapa babi mulai menularkan infeksi tersebut.

Sejak awal wabah, kita telah belajar lebih banyak tentang virus ini dan faktor risiko yang terkait dengan penularannya ke manusia. Kini diketahui bahwa inang utama virus Nipah adalah kelelawar buah, khususnya rubah terbang India (Indian flying fox). Virus Nipah sebelumnya telah terdeteksi pada kelelawar di Kerala.

Sebagian besar infeksi diperkirakan berasal dari kontak dengan hewan yang terinfeksi, baik kelelawar buah itu sendiri atau dari hewan perantara seperti babi. Ini pertama kali terjadi saat wabah terdeteksi di Malaysia.

Namun, ada perbedaan menarik antarwabah. Di Bangladesh, ada kaitan dengan minum getah kurma, baik mentah atau difermentasi. Dalam sebuah penelitian di Bangladesh, para peneliti menggunakan kamera inframerah sensor gerak untuk menunjukkan bahwa kelelawar buah sering mengunjungi pohon-pohon kurma di desa-desa yang mengumpulkan getah kurma untuk dikonsumsi.

Awalnya, virus Nipah diperkirakan tidak menular dari orang ke orang karena tidak ada petugas kesehatan yang terinfeksi selama wabah besar di Malaysia. Sejak saat itu, petugas kesehatan dilaporkan tertular virus tersebut, seperti pada wabah terbaru ini. Salah satu kematian terjadi pada seorang petugas kesehatan yang merawat orang yang terinfeksi virus tersebut.

Mematikan, tapi tidak menular dengan mudah

Sebuah penelitian terhadap 248 infeksi virus Nipah di Bangladesh yang dilakukan selama beberapa tahun menyimpulkan bahwa sekitar sepertiga pengidap tertular virus dari manusia lain. Para peneliti memperkirakan bahwa nilai R (reproduksi)--jumlah orang yang kemungkinan besar akan menularkan penyakit ini kepada orang yang terinfeksi--adalah sekitar 0,33. Ini berarti kemungkinan besar infeksi tersebut tidak akan menyebar jauh dari sumber hewannya.

Meskipun virus Nipah menyebabkan infeksi yang mematikan, tidak ada bukti bahwa virus ini kemungkinan akan menyebar luas di luar wilayah yang manusia atau hewan ternak mereka melakukan kontak dengan kelelawar yang terinfeksi.

Namun, wabah virus Nipah mungkin merupakan indikasi lain bahwa hilangnya habitat akibat serbuan manusia memaksa kontak yang lebih besar antara manusia dan hewan sehingga meningkatkan risiko penularan dari hewan ke manusia.

Meskipun nilai R-nya rendah, jika hewan yang terinfeksi diangkut ke kota-kota besar, peningkatan kepadatan populasi akan meningkatkan risiko penularan dari orang ke orang. Ini dapat memungkinkan virus berevolusi untuk menjadi lebih mudah menular ke manusia dan memicu pandemi baru.The Conversation

Paul Hunter, Professor of Medicine, University of East Anglia

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.


Redaktur : -
Penulis : -

Komentar

Komentar
()

Top