Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Energi Fosil di Kota Saja Mahal Apalagi di Daerah Terpencil

📅 Sabtu, 24 Jul 2021, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Energi Fosil di Kota Saja Mahal Apalagi di Daerah Terpencil Doc: Sumber: Dewan Energi Nasional - KJ/ONES

» Pemerintah banyak ditipu dengan informasi seolaholah batu bara dan fosil lebih murah, padahal dibangun di perkotaan saja lebih mahal dari EBT.

» Energi hijau ke depan harus dikembangkan lebih masif karena lebih ramah lingkungan.

JAKARTA - Belum konsistennya pemerintah mengurangi emisi karbon dengan terus membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menggunakan batu bara sebagai bahan bakar ditengarai karena banyak menerima informasi-informasi yang salah.

Informasi tersebut sengaja diembuskan para pengusaha dan perusahaan yang berinvestasi di industri batu bara seolah-olah energi kotor tersebut lebih murah dibanding dengan membangun pembangkit listrik yang berbasis energi baru terbarukan (EBT) seperti tenaga surya dan bayu.

Pemerintah banyak dapat informasi salah seolah-olah energi fosil lebih murah, padahal dibangun di perkotaan saja lebih mahal dari EBT, apalagi kalau dibangun di daerah terpencil, misalnya di Saumlaki, Maluku.

Untuk mengirim mesin pembangkit ke daerah terpencil tersebut, biayanya sudah besar, ditambah biaya infrastruktur serta biaya kerusakan lingkungan yang selama ini tidak pernah diperhitungkan.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, yang diminta pendapatnya, di Jakarta, Jumat (23/7), mengatakan listrik dari PLTU jatuhnya lebih mahal daripada listrik dari pembangkit EBT.

Di sektor energi, jelasnya, perhitungannya mengacu pada Levelized Cost of Electricity (LCOE) dengan berbasiskan variabel-variabel belanja modal (capex), biaya operasional dan pengeluaran (opex), capacity factor, dan lain-lain.

Selama ini yang diangkat ke publik, listrik PLTU milik PLN seolah-olah murah karena banyak variabel biaya yang sudah tidak dihitung lagi karena pembangkitnya sebagian besar telah berusia di atas 15 tahun dan investasinya sudah kembali modal.

"Jadi yang dihitung hanya biaya bahan bakar dan operasional serta pemeliharaan, biaya capex-nya tidak lagi diperhitungkan," kata Fabby.

Untuk PLTU yang baru tarif listriknya di atas 6 sen dollar AS per kilowatt per hour (kWh) seperti PLTU Batang. Selain itu, beberapa proyek PLTU nilai kontraknya seakan-akan rendah karena asumsi harga bahan bakar dibuat rendah karena bahan bakar dibebankan ke PLN.

Selain itu, dalam pembangunan PLTU mendapatkan subsidi dalam bentuk concessional finance, yang membuat biaya investasi lebih rendah.

"Jika perhitungan bunga menggunakan market rate, maka biaya investasi PLTU akan naik," kata Fabby.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Merugi, Pemkab Kudus Serahkan Pengelolaan Taman Krida Wisata ke Swasta
    Preview komentar:
    Pemberian masa tenggang atau grace period selama tiga ...
  • Berpotensi Melemah Terbatas, 13 Agustus 2026
    Preview komentar:
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai pergerakan Rupiah hari ...
  • Microchip Perbarui Ethernet Sensor Bridge untuk Perkuat Konektivitas Edge AI
    Preview komentar:
    Penyusutan dimensi perangkat hingga 60 persen yang dipadukan ...
Advertisement
injourney
Advertisement
asd
Advertisement
astra
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile

Daerah Diminta Siapkan Anggaran untuk Menangani Penyakit TBC

53 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Nasional
Daerah Diminta Siapkan Angg...
Luar Negeri
Salah Satu PM yang Pernah A...
Luar Negeri
Putin Kunjungi Kepulauan Ku...

Selesaikan Persoalan LRT City, Danantara Panggil Adhi Karya

1.5 jam yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Megapolitan
Selesaikan Persoalan LRT Ci...
Advertisement
astra
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile
Wah… Menyedihkan dan juga Memalukan, Pebulu Tangkis Indonesia Diselidiki BWF Diduga Jual Angka   

Wah… Menyedihkan dan juga Memalukan, Pebulu Tangkis Indonesia Diselidiki BWF Diduga Jual Angka  

13 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.