Di Banjarmasin, Tiga Guru Penggerak Pacu Transformasi Pendidikan Terus Berdetak
📅 Selasa, 18 Apr 2023, 14:12 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rup
Doc: Muhamad Ma'rup
Sejak mengajar pada tahun 1999, Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Akhmad Basuki, pernah menjadi pribadi yang tertutup. Dia sulit berkomunikasi, bahkan dengan sesama guru mata pelajaran bahasa Inggris. Dalam kondisi tersebut, dia termotivasi untuk mendorong pembelajaran ke arah lebih baik.
"Saya sangat menyukai tentang mau berbagi dan terus melakukan perubahan dari segi metode pelajaran," ujar Akhmad, kepada Koran Jakarta, Selasa (18/4).
50 tahun usianya ternyata bukan halangan untuk melakukan perubahan. Kesulitan tidak berlangsung selamanya. Pada tahun 2021, dia mendaftarkan diri dalam program Guru Penggerak angkatan ke-2. Awalnya, dia merasa berat untuk mengikuti program tersebut mengingat harus menjalani pendidikan selama sembilan bulan.
Bayangan kesulitan tersebut seketika lenyap setelah menjalani Pendidikan Guru Penggerak (PGP). Dia merasa waktu berjalan begitu singkat. Lokakarya-lokakarya dari fasilitator dan instruktur benar-benar dirasakan sangat membantunya. Meski harus terjaga sampai pukul dua bahkan tiga dini hari, tugas-tugas tetap dia rampungkan.
"Karena hanya itulah waktu yang saya punya sesudah mengajar anak-anak dari pagi sampai siang hari," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Program Guru Penggerak merupakan episode ke-5 Merdeka Belajar. Program Guru Penggerak berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui guru sebagai agen teladan dan obor perubahan. Guru Penggerak adalah pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif, dan proaktif.
Gairah Perubahan
Setelah menjadi Guru Penggerak, Akhmad merasakan banyak perubahan. Pria yang sehari-harinya juga sebagai pembimbing English Club bersama OSIS ini tidak hanya merasakan kemampuan diri yang meningkat, tetapi juga caranya mengajar terus lebih baik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam mata pelajaran bahasa Inggris, dia tidak lagi meminta murid untuk membaca buku saja. Dia justru mendorong siswa dengan bebas membuat proyek untuk mengeksplorasi minat, hobi, dan lingkungan sekitar. Pada tugas akhir dia menugaskan para siswa untuk menceritakan pengalaman mereka di tempat wisata, pusat perbelanjaan, bermain gim, dan lain sebagainya, dalam bahasa Inggris.
"Ya enggak apa-apa, yang penting kan prosesnya. Itu kemudian kita tampilkan (videonya), mereka ketawa sendiri, malah senang begitu," terangnya.
Akhmad percaya, dengan mendorong perubahan bagi siswa, guru juga akan terdampak. Guru akan terus mengikuti perkembangan zaman dan mencari inovasi dalam pembelajaran. "Setiap guru penggerak, kita harus melakukan perubahan, karena itu saya selalu ingin mengasah kemampuan dalam mengajar," ucapnya.
Meski tujuan Guru Penggerak salah satunya untuk melahirkan pemimpin di sektor pendidikan seperti pengawas dan kepala sekolah, Ahmad mengungkapkan hal tersebut bukan alasan kuatnya untuk mengikuti program. Tujuannya, agar bisa berbagi dan terus belajar. Menurutnya, hal tersebut dapat berdampak pada peserta didik menjadi semakin berkualitas dan bisa bersaing di tingkat nasional.
"Saat ini (saya) punya confident. Mau mengajar, sharing dengan guru lain, tidak ada masalah," tandasnya.
Budaya Positif
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!