Bahaya Kencan Online Ancam Remaja Indonesia, Ini Cara Menghindarinya
📅 Senin, 13 Feb 2023, 13:48 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Unsplash/Pratik Gupta
Andhika Ajie Baskoro, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Hadirnya platform digital telah mengubah sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia, tak terkecuali cara kita menjalani hubungan asmara. Aplikasi kencan memberi kemudahan untuk mencari pasangan yang sesuai kriteria kita.
Tinder, misalnya, masih menjadi aplikasi kencan yang paling populer di dunia maupun di Indonesia.
Meski belum ada datanya di Indonesia, survei tahun 2021 di dunia Barat menunjukkan mayoritas pengguna Tinder (35%) berusia 18-24 tahun, yakni remaja dan dewasa muda.
Kehadiran banyak remaja - yang masih rentan dalam hal pendidikan seksual, kesehatan seksual, hingga kesehatan mental - di aplikasi seperti Tinder patut membuat kita hati-hati. Bagaimana caranya agar kita, baik remaja, anak muda, maupun orang tua, bisa tetap menghindari risiko yang muncul dalam penggunaan aplikasi kencan?
Sebaiknya Anda baca juga:
Pahami Risiko Kencan Daring
Fase remaja merupakan fase yang erat kaitannya dengan pencarian jati diri. Dalam fase ini, beberapa karakter mulai muncul dan juga menjadi dominan pada remaja - salah satunya adalah impulsivitas.
Impulsivitas ini perlu menjadi perhatian karena berdasarkan riset, remaja pada fase ini: (1) banyak melakukan eksplorasi terkait seksualitas, (2) mengalami perubahan biologis yang kemudian menggencarkan perilaku impulsif serta pencarian rasa penghargaan (reward seeking), dan (3) mulai memperoleh kebebasan lebih dalam bersosialisasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketika menggunakan aplikasi kencan, kecenderungan perilaku ini dapat mengekspos remaja pada beberapa risiko, baik psikologis maupun fisiologis.
Pertama, pelecehan seksual adalah risiko yang paling umum dihadapi oleh para pengguna aplikasi kencan - terutama perempuan.
Survei tahun 2019 di Amerika Serikat (AS), misalnya, menemukan 57% responden usia 18-34 pernah mendapatkan pesan atau gambar bernuansa seksual yang tidak mereka inginkan. Media juga mendokumentasikan beberapa kasus pengguna di Indonesia yang menerima kata-kata kotor hingga mendapat kiriman foto kemaluan yang tidak diinginkan dari lawan chat.
Kedua, potensi kekerasan juga bisa menghantui pengguna aplikasi kencan, misalnya setelah mereka memutuskan untuk bertemu pasangan secara langsung.
Di Inggris, misalnya, praktik kriminal yang melibatkan kekerasan setelah bertemu via aplikasi kencan naik sekitar dua kali lipat selama 2015-2018.
Sementara di Indonesia, beberapa pengguna melaporkan bahwa mereka pernah mendapat pemerasan (sextortion) dari pasangan - bahkan setelah baru satu kali bertemu - melalui ancaman penyebaran rekaman relasi seksual mereka yang diambil tanpa sepengetahuan korban. Dalam beberapa kasus, korbannya bahkan masih SMA.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!