Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video

Apa Sih Perbedaan Varian Covid-19 Alpha, Beta dan Delta? Simak Penjelasannya

Foto : Istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Virus Corona varian Alpha, Beta dan Delta sedang banyak diperbincangkan oleh masyarakat. Ketiga varian tersebut dapat menimbulkan gejala yang berbeda satu sama lain.

Istilah ini pertama kali dikenalkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memudahkan sebutan variants of concern (VoC) dan menghilangkan stigma.

Di Indonesia telah dilaporkan bahwa ketiga varian tersebut sudah menyebar. Lalu apa sih bedanya?

1. Varian Alpha

Varian Alpha atau B117 untuk pertama kali diidentifikasi di Inggris pada akhir tahun 2020 lalu. Para ahli percaya bahwa varian ini lebih mudah menyebar dari versi aslinya.

Beberapa vaksin yang diklaim dapat melawan varian ini antara lain Pfizer dan Moderna.

Gregory Towers, seorang ahli virus di University College London dilansir dari New York Times menjelaskan reaksi yang ditimbulkan dari varian ini lebih kuat.

"Orang yang terinfeksi varian Alpha memiliki reaksi yang lebih kuat daripada varian lainnya, batuk dan mengeluarkan lendir yang mengandung virus tidak hanya dari mulut mereka, tetapi juga hidung mereka," ujar Towers.

Gejala paling khas ditimbulkan dari varian ini adalah batuk berlendir dan mengeluarkan lendir bervirus dari mulut dan hidung.

2. Varian Beta

Varian Beta atau B1351 pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan pada Oktober 2020 dan telah ditemukan di lebih 80 negara. Para ahli berpendapat bahwa varian ini bisa menurunkan efektivitas vaksin.

Selain itu, varian ini disebut-sebut tidak bekerja bagi orang yang mendapatkan vaksin AstraZeneca karena hanya memberikan perlindungan 10 persen terhadap gejala ringan hingga sedang.

Gejala yang ditimbulkan tidak jauh beda dari varian klasik, yaitu demam, sakit kepala, batuk, sakit perut, dan kehilangan indera penciuman.

3. Varian Delta

Varian Delta atau B1617.2 pertama kali terdeteksi di India. Menurut WHO, varian Delta memiliki tiga jenis strain, yakni B1617.1, B.1617.2, dan B.1617.3. Namun hanya B.1617.2 yang menjadi VoC, sementara untuk dua jenis lainnya memiliki tingkat penularan rendah.

Varian Delta diperkirakan 40 persen lebih mudah menular dibandingkan jenis Alpha serta strain lainnya dan menggandakan risiko rawat inap. Ada tingkat ketidakpastian yang tinggi tentang efektivitas vaksin AstraZeneca meskipun seseorang telah mendapatkan dua dosis vaksin.

Inilah yang menyebabkan varian Delta disebut sebagai yang paling buruk dari semua jenis varian yang ada.

Gejala yang ditimbulkan dari varian ini adalah sakit kepala, radang tenggorokan, flu parah, batuk dan demam.


Editor : Fiter Bagus
Penulis : Reisky Aulia

Komentar

Komentar
()

Top