Jepang Bentuk Tim Ahli Siber Usai Jutaan Data Bocor

Jumat, 06 Nov 2026, 01:00 WIB

TOKYO – Pemerintah Jepang berencana membentuk tim ahli keamanan siber yang melibatkan sektor publik dan swasta untuk membantu perusahaan menangani serangan digital, menyusul meningkatnya kasus kebocoran data pribadi yang berpotensi berdampak terhadap jutaan orang.

Sumber pemerintah mengatakan rencana tersebut merupakan bagian dari paket langkah darurat yang diperkirakan rampung paling cepat pada Jumat. Paket itu juga mencakup pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) untuk mendeteksi kerentanan sistem keamanan serta mendorong perusahaan mengevaluasi data pribadi yang disimpan berdasarkan kebutuhan.

Ket. Foto: Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara — Sumber: AFP/JIJI Press

Pemerintah Jepang juga berencana memperluas kerja sama dengan perusahaan teknologi informasi (TI) asing dan pengembang sistem AI canggih. Langkah tersebut ditujukan untuk mempercepat pertukaran informasi mengenai serangan siber sekaligus mencegah ancaman serupa.

Dalam kasus yang berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap keamanan nasional, pemerintah dapat mengirimkan tim bantuan yang terdiri atas pejabat Kantor Keamanan Siber Nasional, Badan Kepolisian Nasional, dan Kementerian Pertahanan.

Pemerintah juga akan memanfaatkan berbagai instrumen, termasuk kebijakan "pertahanan siber aktif", untuk mengakses secara proaktif server yang digunakan pelaku serangan dan menetralisasi ancaman.

Dalam rapat tingkat menteri mengenai keamanan siber pada akhir Oktober, Perdana Menteri Sanae Takaichi mengatakan pemerintahannya akan menyusun paket darurat untuk menangani kebocoran data pribadi perusahaan akibat akses tanpa izin.

Kepala Sekretaris Kabinet Minoru Kihara mengatakan pada Kamis bahwa paket tersebut menjadi langkah awal Jepang dalam membangun masyarakat dengan ketahanan siber kelas dunia. Dengan demikian, dampak serangan dapat ditangani secara cepat melalui bantuan yang segera diberikan.

Serangan Ransomware

Universitas Metropolitan Osaka, misalnya, bulan lalu mengungkapkan bahwa data sedikitnya 130.000 mahasiswa dan dosen kemungkinan bocor setelah serangan ransomware pada Jumat (2/10). Sekitar 500 server pendukung sistem informasi universitas berhenti beroperasi, menyebabkan jaringan kampus dan portal staf pengajar tidak dapat diakses. Kegiatan perkuliahan pun terpaksa ditangguhkan.

Pada Selasa (6/10), operator jaringan toko diskon Mr. Max Holdings Ltd. melaporkan hingga 1,7 juta data pelanggan kemungkinan bocor akibat akses tanpa izin ke server layanan belanja daring. Perusahaan menghentikan sementara layanan, memblokir jalur serangan, dan menggandeng spesialis keamanan eksternal serta kepolisian untuk penyelidikan.

Perusahaan layanan internet GMO Research & AI Inc. juga mengungkapkan hingga 948.500 data anggota dicuri. Sejumlah poin hadiah milik anggota senilai sekitar 2,9 juta yen diduga ditukarkan secara ilegal dengan kode kartu hadiah Amazon.

  • perlindungan data

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.