Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit

Jumat, 30 Okt 2026, 21:15 WIB

JAKARTA – Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji membidik peningkatan utilisasi industri hingga 80-85 persen dari posisi saat ini 66,13 persen agar memperbesar kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian nasional.

Sarmuji menyampaikan, peningkatan utilisasi menjadi salah satu peluang untuk mendorong ekspansi industri nasional, mengingat kinerja manufaktur saat ini menunjukkan tren pertumbuhan positif di tengah narasi deindustrialisasi yang berkembang.

Ket. Foto: Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji dalam Rapimnas Kadin 2026 di Jakarta, Jumat (30/10/2026). — Sumber: ANTARA/A Muzdaffar Fauzan.

Sarmuji di Jakarta, Jumat (30/10), menjelaskan industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen pada triwulan II 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.

Tren tersebut juga terlihat pada 2025, ketika industri pengolahan tumbuh 5,3 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,11 persen.

"Jadi ekonomi lagi tumbuh dan ini sebenarnya crossing pertama kali sejak 12 tahun yang lalu. Biasanya sektor industri itu sedikit di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. Tapi mulai 2025 akhir, sektor industri tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional," kata Sarmuji pada Rapimnas Kadin 2026 di Jakarta.

Menurutnya, capaian tersebut membuktikan industri nasional masih menjadi tulang punggung perekonomian dan tidak sedang mengalami kontraksi.

Kontribusi industri pengolahan juga tercermin dari realisasi investasi yang mencapai 38,98 persen dari total investasi nasional. Sementara kontribusi ekspor industri pengolahan pada Agustus 2026 mencapai 159,55 miliar dolar AS atau 82,40 persen dari total ekspor nasional.

Indikator lainnya, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Oktober 2026 mencapai 53,77, meningkat dari posisi September sebesar 51,9. Sementara Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia pada September 2026 tercatat sebesar 52,1.

Kedua indikator tersebut menurutnya, menunjukkan aktivitas manufaktur masih berada dalam fase ekspansi.

Sarmuji menilai, peluang pengembangan industri juga ditopang oleh besarnya pasar domestik Indonesia yang memiliki 287,2 juta penduduk.

Selain itu, konsumsi rumah tangga pada 2025 tercatat sebesar Rp12.834,8 triliun, dengan 78 persen produk manufaktur nasional diserap pasar dalam negeri.

"Jadi sekalipun di dunia ada gejolak ekonomi global, ada disrupsi yang mungkin sangat tinggi di dunia internasional, tapi ketahanan industri kita sebenarnya masih cukup kuat ditopang oleh potensi pasar domestik yang sangat besar," ujarnya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.