IAEA Desak Iran Buka Akses Nuklir, Nasib 440 Kg Uranium Jadi Sorotan

Rabu, 28 Okt 2026, 06:29 WIB

PBB, New York – Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi pada Selasa (27/10) mendesak Iran dalam pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar segera memberikan akses kepada badan tersebut untuk memverifikasi material nuklir Republik Islam itu.

IAEA tidak memperoleh akses ke sejumlah fasilitas nuklir penting di Iran sejak Israel, dengan dukungan Amerika Serikat (AS), melancarkan konflik selama 12 hari pada Juni 2025 yang mencakup serangan terhadap fasilitas nuklir.

Ket. Foto: Rafael Grossi, dalam foto yang diambil pada September, mengatakan bahwa pemberian akses kepada IAEA merupakan “kewajiban hukum Iran”. — Sumber: AFP

Fasilitas nuklir Iran juga menjadi sasaran dalam perang terbaru yang pecah pada 28 Februari. IAEA berulang kali mendesak Iran agar memberikan akses ke fasilitas-fasilitas tersebut.

“Saya mengundang Iran untuk bekerja sama dengan IAEA tanpa penundaan lebih lanjut guna memperjelas persoalan pengamanan yang belum terselesaikan serta memberikan informasi dan akses yang dibutuhkan badan tersebut, sehingga IAEA dapat memverifikasi seluruh fasilitas dan material terkait, sebagaimana merupakan kewajiban hukum Iran,” kata Grossi.

Pertemuan Dewan Keamanan PBB itu digelar setelah Dewan Gubernur IAEA pada bulan lalu mengesahkan resolusi yang merujuk Iran ke badan tertinggi PBB tersebut atas dugaan “ketidakpatuhan” terhadap kewajiban nuklirnya.

Resolusi yang diajukan Inggris, Prancis, Jerman, dan AS itu menandai pertama kalinya dalam 20 tahun Iran dirujuk ke Dewan Keamanan PBB karena tidak memenuhi kewajiban pelaporan nuklirnya.

Langkah tersebut dinilai sebagian besar bersifat simbolis karena Tiongkok dan Rusia memiliki hak veto yang dapat digunakan untuk menggagalkan sanksi terhadap sekutu mereka, Teheran. Kedua negara tersebut, bersama Niger, menentang resolusi IAEA itu.

Perwakilan Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, mengecam “sikap diam” Dewan Keamanan PBB terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel ke negaranya.

“Pertemuan hari ini menggambarkan standar ganda yang telah mengakar, ketika pihak yang melakukan agresi dilindungi dari hukuman, korban justru menjadi sasaran kritik, dan bahasa nonproliferasi secara sinis digunakan untuk memajukan tujuan geopolitik,” katanya.

Sebelum serangan pada Juni 2025, IAEA memperkirakan Iran memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen. Tingkat pengayaan tersebut mendekati 90 persen yang dibutuhkan untuk membuat bom nuklir dan jauh melampaui batas 3,67 persen yang ditetapkan dalam kesepakatan nuklir dengan Iran pada 2015, yang kini tidak lagi berlaku.

Sejak Juni 2025, keberadaan persediaan uranium tersebut masih belum diketahui secara pasti.

Presiden AS Donald Trump berulang kali mengancam akan kembali melancarkan serangan terhadap Iran, kemungkinan setelah pemilihan paruh waktu AS pada pekan depan.

“Apakah saya membuat kesepakatan dengan mereka atau menghabisi mereka? Itulah satu-satunya pertanyaan bagi saya. Apakah saya membuat kesepakatan atau menghabisi mereka?” kata Trump dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu.

  • Fasilitas Nuklir Iran

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.