Penderita Epilepsi Disebut Miliki Risiko Demensia Dini hingga Enam Kali Lipat, Peneliti Ingatkan Hal yang Perlu Diwaspadai

Minggu, 25 Okt 2026, 15:43 WIB

WASHINGTON DC - Demensia kerap dianggap sebagai penyakit yang datang ketika seseorang memasuki usia senja. Namun, sebuah penelitian besar di Prancis dan Swedia menemukan kaitan yang perlu diperhatikan antara epilepsi dan demensia yang muncul sebelum usia 65 tahun.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Neurology, jurnal medis American Academy of Neurology, menemukan bahwa orang yang baru didiagnosis epilepsi memiliki risiko relatif mengalami demensia onset dini hingga enam kali lipat dibandingkan mereka yang tidak memiliki epilepsi.

Ket. Foto: Peningkatan risiko relatif tidak sama dengan peluang absolut seseorang terkena penyakit. Dalam penelitian ini, sebagian besar pasien epilepsi tidak mengalami demensia onset dini selama periode pengamatan. — Sumber: Istimewa

Temuan ini menjadi perhatian karena demensia yang muncul pada usia produktif dapat mengganggu pekerjaan, kehidupan keluarga, dan kemampuan seseorang menjalani aktivitas sehari-hari.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hubungan tersebut tidak membuktikan epilepsi secara langsung menyebabkan demensia. Kejang yang muncul pada sebagian pasien bahkan mungkin merupakan tanda awal gangguan neurodegeneratif yang sedang berkembang.

Data dari dua negara menunjukkan pola serupa

Dikutip dari Newsweek, penelitian tersebut menggunakan catatan kesehatan nasional untuk mengamati hubungan epilepsi dengan demensia onset dini melalui dua pendekatan berbeda.

Dalam analisis di Prancis, peneliti membandingkan 11.360 orang yang didiagnosis demensia sebelum usia 65 tahun dengan 113.600 orang tanpa demensia yang memiliki usia dan jenis kelamin sebanding.

Hasilnya, 12,5 persen kelompok penderita demensia sebelumnya telah didiagnosis epilepsi. Pada kelompok pembanding tanpa demensia, angkanya hanya 1,2 persen.

Perbedaan juga terlihat pada penggunaan obat epilepsi. Sebanyak 27,3 persen kelompok penderita demensia tercatat pernah menerima pengobatan epilepsi, dibandingkan dengan 10,3 persen pada kelompok tanpa demensia.

Analisis serupa di Swedia, yang melibatkan 16.433 penderita demensia onset dini dan 164.330 orang tanpa kondisi tersebut, menunjukkan pola yang sejalan.

Kesamaan temuan dari dua negara memperkuat indikasi adanya hubungan antara kedua kondisi tersebut, meskipun belum menjelaskan mekanisme yang mendasarinya.

Risiko relatif meningkat, tetapi bukan berarti mayoritas pasien akan mengalami demensia

Peneliti juga mengikuti perkembangan orang dewasa di Prancis berusia 30–55 tahun yang baru didiagnosis epilepsi pada 2008.

Selama periode pengamatan hingga 10 tahun, sebanyak 2,2 persen pasien yang baru didiagnosis epilepsi mengalami demensia onset dini. Angka itu dibandingkan dengan 1,7 persen pada orang yang telah menderita epilepsi sebelum 2008 dan 0,2 persen pada kelompok tanpa epilepsi.

Setelah memperhitungkan sejumlah faktor lain, termasuk stroke, gangguan suasana hati, dan cedera otak traumatis, para peneliti menemukan bahwa kelompok yang baru didiagnosis epilepsi memiliki risiko relatif demensia onset dini enam kali lebih tinggi daripada kelompok tanpa epilepsi. Sementara itu, kelompok yang telah menderita epilepsi sebelumnya memiliki risiko relatif 74 persen lebih tinggi.

Angka tersebut perlu dibaca secara cermat. Peningkatan risiko relatif tidak sama dengan peluang absolut seseorang terkena penyakit. Dalam penelitian ini, sebagian besar pasien epilepsi tidak mengalami demensia onset dini selama periode pengamatan.

Kejang bisa menjadi tanda awal, bukan penyebab

Rebecca Spiegel, ahli neurologi sekaligus kepala bagian EEG dan epilepsi di Stony Brook Medicine, mengingatkan agar hasil penelitian tidak ditafsirkan secara berlebihan.

Menurutnya, kejang yang baru muncul pada sebagian pasien dapat menjadi manifestasi awal proses neurodegeneratif, bukan selalu menjadi penyebab demensia.

Ia juga menyoroti bahwa penderita epilepsi dapat mengalami gangguan kognitif yang tidak serta-merta berarti demensia. Kesulitan tersebut mungkin berkaitan dengan kondisi lain, termasuk depresi dan kecemasan, yang juga ditemukan pada populasi penderita epilepsi.

Karena itu, penurunan daya ingat atau kemampuan berpikir pada penderita epilepsi perlu dinilai secara menyeluruh oleh tenaga medis. Tidak semua keluhan kognitif menunjukkan penyakit demensia.

Penelitian masih memiliki keterbatasan

Para peneliti mengakui bahwa basis data yang digunakan belum menyediakan informasi terperinci mengenai jenis dan penyebab spesifik demensia maupun variasi epilepsi yang dialami para peserta.

Selain itu, data berasal dari Prancis dan Swedia, dua negara berpenghasilan tinggi dengan sistem layanan kesehatan yang relatif luas. Hasil penelitian belum tentu dapat diterapkan dengan cara yang sama pada seluruh populasi, termasuk di negara dengan sistem kesehatan berbeda.

Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui mengapa epilepsi dan demensia onset dini berkaitan, serta apakah penanganan faktor risiko tertentu dapat mengurangi kemungkinan terjadinya penurunan kognitif.

Spiegel menekankan bahwa sebagian besar pasien epilepsi dalam penelitian tersebut tidak mengalami demensia onset dini. Meski demikian, temuan ini menjadi alasan untuk memberi perhatian lebih besar terhadap pemeriksaan fungsi kognitif pada pasien epilepsi.

Pada akhirnya, penelitian ini tidak berarti epilepsi merupakan vonis demensia. Namun, kaitan yang ditemukan memberikan pesan penting bagi dunia medis: perubahan kemampuan berpikir dan mengingat pada penderita epilepsi sebaiknya tidak diabaikan, terutama jika gejalanya menetap atau semakin memburuk.

Mengenali perubahan sejak dini dan melakukan pemeriksaan medis yang tepat dapat membantu pasien memperoleh penilaian serta penanganan sesuai kondisi masing-masing.

  • Demensia

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.