Kabut Asap Indonesia Memburuk, Singapura Selidiki 20 Perusahaan

Sabtu, 24 Okt 2026, 05:00 WIB

Singapura – Singapura pada Jumat (23/10) memperluas penyelidikan terhadap perusahaan-perusahaan yang terkait dengan kebakaran di Indonesia. Pemerintah negara kota itu meminta 10 perusahaan yang berbasis di Singapura memberikan informasi mengenai upaya mereka memadamkan kebakaran yang dituding menyebabkan kabut asap beracun menyelimuti kawasan.

Negara kota tersebut memperketat langkah-langkah untuk mengatasi kebakaran yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Singapura juga telah berjanji mengambil tindakan hukum terhadap perusahaan yang bertanggung jawab atas kebakaran tersebut, yang menyebabkan kualitas udara di kawasan itu menjadi salah satu yang terburuk di dunia.

Ket. Foto: Haze from fires burning in Indonesia has clouded Singapore and other parts of the region — Sumber: AFP

Dalam sepekan terakhir, Singapura telah mengeluarkan pemberitahuan kepada 10 perusahaan berbasis di luar negeri. Perusahaan-perusahaan tersebut diminta mengerahkan tim pemadam kebakaran, menghentikan pembakaran maupun pembukaan titik api baru di Indonesia, serta menyampaikan informasi mengenai keterkaitan mereka dengan perusahaan afiliasi di Indonesia dan Singapura.

Informasi tersebut akan ditinjau oleh Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA).

Selain perusahaan-perusahaan itu, NEA juga meminta informasi dari 10 perusahaan terdaftar di Singapura yang bergerak di sektor kelapa sawit atau kehutanan dan memiliki keterkaitan dengan lahan di Indonesia, menurut pernyataan badan lingkungan tersebut pada Jumat malam.

Informasi yang diminta mencakup “keterkaitan dengan perusahaan afiliasi di Singapura dan Indonesia, lokasi konsesi lahan yang dimiliki, serta langkah-langkah pencegahan kebakaran atau upaya pemadaman”, demikian isi pernyataan tersebut.

Singapura juga menyatakan akan membentuk panel ahli yang terdiri atas firma hukum, firma audit, dan perusahaan investigasi yang memiliki keahlian dalam melakukan penyelidikan dan pemeriksaan lintas negara untuk membantu proses penyelidikan tersebut.

Kebakaran rutin terjadi di Indonesia selama musim kemarau. Para ahli mengatakan deforestasi selama bertahun-tahun dan pengeringan lahan gambut untuk kegiatan budi daya telah membuat bentang alam yang sebelumnya tahan terhadap kebakaran menjadi rentan.

Dipicu oleh siklus El Nino yang kuat dan kekeringan yang menyertainya, kebakaran tahun ini berlangsung sangat parah. Kebakaran telah melahap hampir dua juta hektare lahan, menurut pemantau deforestasi Nusantara Atlas.

Kebakaran melanda kawasan hutan dan lahan gambut, serta perkebunan kelapa sawit dan kayu yang memasok kebutuhan perusahaan multinasional.

Kelompok masyarakat sipil secara berkala menuding sejumlah perusahaan bertanggung jawab atas kebakaran tersebut. Mereka menunjuk keberadaan titik panas (hotspot) di perkebunan milik pemasok, yang terkadang disebut sebagai kawasan konsesi.

Sejumlah perusahaan yang dikaitkan dengan kebakaran itu bersikeras bahwa mereka bukan pihak yang menyebabkan kebakaran. Di antara perusahaan tersebut adalah First Resources, yang tercatat di Bursa Singapura, dan Asia Pulp and Paper, yang terdaftar di Singapura. Keduanya disebut oleh NEA dalam pembaruan terbaru penyelidikan Singapura.

Kuala Lumpur dan Singapura kembali masuk dalam daftar 10 kota besar paling tercemar di dunia pada Jumat malam, menurut pemantau kualitas udara IQAir yang berbasis di Swiss.

  • Dampak Karhutla

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.