Rupiah Melemah, Kredibilitas Ekonomi Jadi Kunci Stabilitas Kurs
Jumat, 23 Okt 2026, 03:05 WIBJAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali melemah pada pembukaan perdagangan Kamis (22/10), seiring dengan sentimen domestik khususnya keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen. Di tengah tekanan pasar keuangan, penguatan rupiah dinilai tidak cukup hanya mengandalkan suku bunga tinggi, tetapi juga membutuhkan kepercayaan investor dan penguatan fundamental ekonomi.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen.
Dalam keputusan tersebut, BI menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen, sedangkan suku bunga lending facility dipertahankan pada level 6,5 persen.
Selain itu, BI menurunkan giro wajib minimum (GWM) rata-rata perbankan sebesar dua poin persentase untuk memperkuat kecukupan likuiditas rupiah. GWM bank umum konvensional diturunkan dari 9 persen menjadi 7 persen, sedangkan GWM bank umum syariah dan unit usaha syariah turun dari 7,5 persen menjadi 5,5 persen.
Di tengah dinamika pasar keuangan, BI juga mewaspadai potensi arus keluar modal asing menyusul pengumuman MSCI mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia. Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati karena dapat memengaruhi persepsi investor terhadap pasar keuangan domestik.
Dari sisi eksternal, Rully melihat peluang peningkatan permintaan terhadap obligasi pemerintah Indonesia seiring meningkatnya minat terhadap obligasi pemerintah AS yang mendorong penurunan imbal hasil atau yield menjadi 5,1 persen.
Kredibilitas Investor
Sementara itu, Pengamat Kebijakan Publik Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Badiul Hadi, menilai stabilitas rupiah tidak dapat dipertahankan hanya melalui kebijakan suku bunga. Kepercayaan investor, kredibilitas kebijakan, serta ketahanan fundamental ekonomi menjadi faktor penting dalam menjaga nilai tukar secara berkelanjutan.
Menurut dia, kebijakan suku bunga memang dapat membantu menjaga daya tarik aset keuangan domestik. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada keyakinan investor terhadap prospek ekonomi dan konsistensi kebijakan pemerintah.
âMeski begitu, efektivitasnya bergantung pada kepercayaan investor, bukan sekadar selisih imbal hasil. Uang mengikuti keuntungan, tetapi modal jangka panjang mengikuti kredibilitas,â kata Badiul.
Ia juga menyoroti surplus perdagangan yang belum tentu berbanding lurus dengan penguatan rupiah. Indonesia mencatat surplus perdagangan sekitar 3,55 miliar dollar AS pada Agustus 2026. Namun, investasi portofolio asing justru mengalami arus keluar bersih sebesar 80 juta dollar AS pada triwulan III-2026.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa surplus perdagangan tidak selalu cukup untuk mengimbangi tekanan di pasar keuangan. Arus modal asing turut dipengaruhi persepsi risiko, prospek imbal hasil, serta kepercayaan terhadap pengelolaan ekonomi nasional.
âDevisa dari perdagangan tidak otomatis menutup hilangnya kepercayaan di pasar keuangan,â katanya.
Badiul menilai upaya mempertahankan rupiah tanpa transformasi struktur produksi hanya memberikan ruang waktu bagi perekonomian untuk menghadapi tekanan eksternal. Indonesia memang memiliki bantalan cadangan devisa yang relatif kuat, tetapi instrumen tersebut tidak dapat menggantikan kebutuhan reformasi struktural.
Ia mendorong perubahan strategi dari sekadar menstabilkan nilai tukar menjadi membangun ketahanan ekonomi. BI perlu menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi yang terukur dan pendalaman pasar lindung nilai.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
10 Pemain dengan Penjualan Termahal Serie A Musim Panas 2026, Marco Palestra di Puncak
-
Kemarau Ekstrem, Pemkot Jambi Distribusikan 1,9 Juta Liter Air Bersih untuk Warga
-
Pelemahan Nilai tukar rupiah
-
WALHI Gorontalo Dampingi Warga Bonepantai yang Menolak Tambang PT CBM.
-
Bacitra Tak Lagi Gratis? Balikpapan Siapkan Rp17 Miliar untuk Kelola Sendiri
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.