Jelang KTT APEC di Shenzhen, AS-Tiongkok Kembali Saling Menekan

Senin, 09 Nov 2026, 03:05 WIB

BEIJING - Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok kembali mencuat menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Pasifik (APEC) di Shenzhen, Tiongkok, pada 18–19 November mendatang. Kedua negara saling mengutarakan kekhawatiran atas kebijakan ekonomi dan perdagangan yang berpotensi menghambat pelaksanaan kesepakatan bilateral.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dan Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, mengadakan pembicaraan melalui telepon dengan Wakil Perdana Menteri Tiongkok, He Lifeng, pada Jumat (6/11). Pertemuan tersebut membahas komitmen ekonomi dan perdagangan yang telah disepakati kedua negara selama setahun terakhir.

Ket. Foto: Menteri Keuangan AS, Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri Tiongkok, He Lifeng. — Sumber: US Treasury Department/AFP

Dalam pernyataan Kementerian Keuangan AS, Washington menekankan pentingnya Tiongkok segera melaksanakan seluruh komitmen secara penuh. Pemerintah AS juga menyoroti kekhawatiran terhadap sejumlah tindakan terbaru Beijing.

Bessent menegaskan bahwa kemajuan hubungan perdagangan kedua negara harus didasarkan pada hasil konkret. Washington, lanjutnya, akan memantau secara ketat pelaksanaan kesepakatan oleh Tiongkok.

Di sisi lain, He Lifeng menyampaikan kekhawatiran serius terhadap kebijakan pembatasan ekonomi dan perdagangan yang baru-baru ini diterapkan AS. Pernyataan Kementerian Perdagangan Tiongkok yang dikutip media pemerintah menyebutkan pembicaraan berlangsung terus terang, mendalam, dan konstruktif.

Kedua pihak sepakat mengelola perbedaan dengan baik serta mendorong stabilitas hubungan perdagangan bilateral. Namun, sejumlah persoalan strategis masih menjadi sumber gesekan, terutama terkait ekspor logam tanah jarang atau rare earths dari Tiongkok.

Logam tanah jarang merupakan bahan penting bagi industri teknologi, termasuk produksi telepon pintar, kendaraan listrik, hingga peralatan militer. Pengendalian ekspor komoditas tersebut menjadi salah satu instrumen strategis Beijing dalam menghadapi tekanan ekonomi Washington.

Bertentangan dengan Konsensus

Kesepakatan Busan menjadi titik meredanya ketegangan setelah kedua negara sempat terlibat eskalasi tarif pada awal 2025. Dalam kesepakatan tersebut, Tiongkok berkomitmen membeli kedelai AS hingga 2028 serta menangguhkan pengendalian ekspor baru terhadap logam tanah jarang dan menerbitkan izin umum ekspor material tersebut.

Gencatan senjata perdagangan yang semula berlaku selama satu tahun kemudian diperpanjang hingga 10 Januari 2027, saat kunjungan Xi ke Gedung Putih pada September lalu.

Di tengah upaya menjaga stabilitas perdagangan, Beijing juga menentang sanksi baru AS terhadap Kuba yang turut berdampak pada dua perusahaan Tiongkok. Kementerian Perdagangan Tiongkok menilai peningkatan sanksi Washington terhadap Beijing bertentangan dengan konsensus yang telah dicapai Trump dan Xi.

KTT APEC di Shenzhen mendatang diperkirakan menjadi momentum penting bagi kedua negara untuk menguji keberlanjutan kesepakatan perdagangan.

  • hubungan dagang

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: AFP, Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.