Aksi Protes di Ibu Kota Albania Berakhir dengan Pembakaran Gedung Publik

Senin, 19 Okt 2026, 06:53 WIB

TIRANA - Aksi protes anti-pemerintah di Tirana, ibu kota Albania menyebabkan beberapa gedung pemerintah rusak parah dan setidaknya satu gedung terbakar, saat demonstrasi berubah menjadi kekerasan.

Para pengunjuk rasa dan polisi antihuru-hara bentrok di Tirana saat ribuan demonstran berkumpul menuntut kondisi perkuliahan yang lebih baik dan mendesak Perdana Menteri (PM) Edi Rama untuk mundur.

Ket. Foto: — Sumber: AFP

Selama beberapa jam, polisi mengerahkan meriam air dan gas air mata sementara para demonstran menyerang kantor-kantor pemerintah dan toko-toko di pusat kota, menghancurkan jendela, serta membakar sejumlah gedung.

Polisi antihuru-hara berulang kali berusaha memaksa mereka mundur, bahkan dengan menggunakan gas air mata, namun kerumunan tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda akan bubar. Saat malam tiba, kerumunan terus menyebar ke seluruh kota, menyerang gedung-gedung pemerintah.

Dalam satu insiden, para demonstran menghancurkan jendela sebelum membakar salah satu lantai gedung Kementerian Kehakiman.

Polisi mengusir para demonstran sebelum petugas pemadam kebakaran berhasil mengendalikan api.

Sepanjang hari, para demonstran melemparkan batu paving dan bom molotov, membakar tempat sampah, serta menggunakan pagar jalan untuk mendirikan barikade.

Para pengunjuk rasa juga menyerang Kementerian Keuangan, menggunakan pagar untuk menghancurkan jendela dan mendobrak pintu, sementara beberapa di antaranya sempat masuk ke dalam gedung.

Setelah dipaksa mundur oleh polisi, para pengunjuk rasa bergerak menuju kantor perdana menteri, di mana mereka melemparkan batu ke arah gedung sehingga memaksa polisi menggunakan meriam air.

Sebuah pohon di dekat pintu masuk gedung sempat terbakar sebelum dipadamkan oleh petugas pemadam kebakaran.

Menteri Dalam Negeri Ervin Demo mengakui kekhawatiran para mahasiswa, namun menyalahkan “tangan-tangan jahat pihak luar” atas terjadinya kekerasan tersebut.

“Kepada mereka yang saat ini membakar dan merusak properti publik maupun swasta, saya katakan: mundurlah sebelum terlambat,” ujarnya.

Media lokal melaporkan bahwa para demonstran juga sempat mencoba menyerbu sebuah kantor polisi, menghancurkan mobil-mobil polisi, dan merusak pintu masuk sebelum akhirnya diusir. Beberapa bank diserang dan banyak etalase toko dihancurkan di pusat kota.

Polisi mengatakan pada Sabtu (17/10) bahwa 14 petugas terluka dan 35 orang ditahan. Enam petugas terluka dan 16 orang ditangkap.

“Polisi terus mengidentifikasi dan menahan individu-individu yang telah melakukan tindakan kekerasan dan mengenakan topeng selama demonstrasi,” kata sebuah pernyataan.

Para demonstran awalnya berkumpul pada Rabu (14/10) untuk menuntut pengunduran diri PM Rama dan dukungan lebih besar bagi mahasiswa di negara tersebut, dengan alasan kondisi universitas yang buruk dan biaya kuliah yang tinggi.

Selama lebih dari empat bulan, demonstrasi anti-pemerintah secara rutin menarik ribuan orang.

Awalnya dipicu oleh proyek pariwisata mewah yang terkait dengan keluarga Presiden AS Donald Trump di bagian selatan negara tersebut, demonstrasi tersebut sesekali memanas menjadi kekerasan di tengah seruan yang terus-menerus agar PM Rama mengundurkan diri.

Uni Eropa menyatakan keprihatinannya atas apa yang disebutnya sebagai “eskalasi kekerasan dalam aksi protes di Tirana”.

Uni Eropa juga menyerukan dilakukannya penyelidikan segera atas tuduhan penggunaan kekuatan yang berlebihan oleh polisi dan meminta “semua pihak untuk meredakan ketegangan”. AFP

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Deri Henriawan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.