Rupiah Dibayangi Gejolak MSCI - 19 Oktober 2026

Senin, 19 Okt 2026, 07:55 WIB

JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (19/10) diprediksi bergerak fluktuatif dengan kecenderung­an melemah, seiring tekanan sentimen global dan domes­tik, terutama ketidakpastian kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS) serta usulan perubahan klasifikasi pasar sa­ham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Pada penutupan perdagangan Jumat (16/10), rupiah me­lemah 89 poin atau 0,50 persen menjadi 18.027 rupiah per dollar AS dibandingkan penutupan sebelumnya sebesar 17.938 rupiah per dollar AS.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Research and Development Indonesia Commodity & De­rivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menga­takan tekanan terhadap rupiah dipengaruhi potensi suku bunga AS bertahan pada level tinggi lebih lama dari perki­raan pasar.

Ia menjelaskan inflasi AS pada September 2026 mening­kat menjadi 3,7 persen secara tahunan dari 3,4 persen pada Agustus.

Perkembangan tersebut membuat pelaku pasar te­rus mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

“Jika suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama, dollar AS berpotensi tetap kuat dan menekan mata uang negara ber­kembang, termasuk rupiah,” ucapnya di Jakarta.

Selain itu, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah turut menjadi perhatian karena berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Kondisi tersebut dapat me­ningkatkan kebutuhan devisa Indonesia untuk membiayai impor energi sehingga menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Dari dalam negeri, pasar keuangan juga mencermati usulan MSCI untuk mengubah klasifikasi pasar saham In­donesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).

Usulan tersebut memicu tekanan besar di pasar saham Indonesia dan meningkatkan kekhawatiran investor terha­dap prospek arus modal asing.

Reuters melaporkan bahwa pengumuman MSCI pada pertengahan Oktober turut me­micu kejatuhan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pelemahan rupiah.

Menurut Amru, perubahan persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia berpotensi mendorong penye­suaian portofolio investasi asing.

Namun, dampaknya ter­hadap rupiah tidak dapat dipastikan secara langsung ka­rena turut dipengaruhi pergerakan dollar AS dan kebutuhan valuta asing di dalam negeri.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.