Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tekanan Inflasi AS Menguat, BI Berjibaku Redam Gejolak Rupiah

📅 Kamis, 15 Okt 2026, 19:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Tekanan Inflasi AS Menguat, BI Berjibaku Redam Gejolak Rupiah Doc: ANTARA/ REUTERS/ Ajeng Dinar Ulfiana
Ket. Ilustrasi - Logo Bank Indonesia terlihat di kantor pusat Bank Indonesia di Jakarta.

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menyatakan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai fundamentalnya, seiring dengan sentimen inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan.

“Intervensi terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder,” kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G.Hutapea dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (15/10).

Selain itu, imbuh Erwin, BI juga mengelola struktur suku bunga di pasar uang dengan menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif.

Erwin menjelaskan rilis data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan dan meningkat dari periode sebelumnya mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang lebih agresif oleh The Fed.

Untuk diketahui, inflasi Consumer Price Index (CPI) AS secara tahunan meningkat menjadi berada pada level 3,7 persen (year on year/yoy) pada September 2026, lebih tinggi dari konsensus pasar sebesar 3,6 persen (yoy).

Sementara inflasi inti tahunan juga meningkat menjadi 2,6 persen (yoy), lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 2,5 persen (yoy).

Selain itu, Erwin menambahkan bahwa ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak tetap tinggi di atas 105 dolar AS per barel dan meningkatkan risiko fiskal ke depan.

Indeks dolar AS (DXY) sempat meningkat tajam ke level tertinggi sejak Mei 2025, dan imbal hasil (yield) US Treasury tenor 2 tahun sempat naik 12 basis poin (bps) ke level 4,90 persen.

“Memburuknya sentimen risk off tersebut mendorong penguatan dolar AS serta tekanan arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi,” kata Erwin.

Meski begitu, menurutnya, pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan pelemahan terbatas secara quarter-to-date (QTD) sebesar 0,17 persen.

Adapun cadangan devisa tercatat terjaga di level 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026.

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis bergerak melemah 45 poin atau 0,25 persen menjadi Rp17.948 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.903 per dolar AS.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Advertisement
jjroyal-luwak
Advertisement
Karhutla Bromo Memakan Korban Jiwa, Tiga Pahlawan Pemadam Gugur Saat Pertaruhkan Nyawa

Karhutla Bromo Memakan Korban Jiwa, Tiga Pahlawan Pemadam Gugur Saat Pertaruhkan Nyawa

15 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.