Berpotensi Melemah Lanjutan - 15 Oktober 2026
Kamis, 15 Okt 2026, 07:55 WIBJAKARTA â Rupiah berpotensi kembali tertekan seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap inflasi AmeÂrika Serikat (AS) dan ketidakpastian konflik di Timur TeÂngah.
Inflasi yang persisten dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama sehingga menoÂpang dollar AS dan membatasi arus modal ke pasar negaÂra berkembang, sementara eskalasi konflik Timur Tengah berisiko memicu kenaikan harga minyak dan mendorong investor beralih ke aset aman.
Data terbaru menunjukkan inflasi Consumer Price Index (CPI) di AS pada September meningkat menjadi 0,6 persen secara bulanan, dari 0,4 persen pada Agustus, sesuai perÂkiraan ekonom.
Secara tahunan, inflasi naik menjadi 3,7 persen, melampaui perkiraan 3,6 persen dan lebih tinggi diÂbandingkan 3,4 persen pada bulan sebelumnya.
Kenaikan ini berpotensi memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka kembali peluang kenaikan suku bunga untuk mengendalikan inflasi.
Karenanya, Direktur PT Traze Andalan Futures, IbraÂhim Assuaibi memproyeksikan kurs rupiah terhadap dolÂlar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Kamis (15/10), bergerak di kisaran 17.900 - 17.950 rupiah per dollar AS dengan kecenderungan melemah.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Rabu (14/10), bergerak melemah 3 poin atau 0,02 persen dari sehari sebelumnya menjadi 17.903 rupiah per dollar AS.
âRupiah hari ini yang datar-datar saja diÂpengaruhi oleh global antisipasi data inflasi CPI (Consumer Price Index) AS nanti malam (Rabu, 14/10), dan sikap dovish dari pejabat The Fed terkait kenaikan suku bunga tahun depan,â kata Analis Bank Woori Saudara (BWS) Rully Nova di Jakarta.
Mengutip Anadolu, inflasi AS yang diperkirakan akan meningkat akibat naiknya biaya energi, akan memberikan gambaran mengenai potensi arah kebijakan moneter FedeÂral Reserve ke depannya.
Estimasi pasar uang menunjukÂkan adanya kemungkinan sebesar 78 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga bulan ini.
Sementara itu, Presiden The Fed New York John Williams menyatakan pandangannya bahwa bank sentral sebaiknya menaikkan suku bunga sekali lagi tahun ini, namun tidak memerlukan kenaikan lebih lanjut setelahnya, karena dia memperkirakan inflasi akan turun secara signifikan tahun depan.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara, Muchamad Ismail
Berita Terkait:
-
Kacau Lagi di Asian Games 2026, Bus Tim Pakistan Salah Antar ke Venue Pertandingan
-
Senat AS Tolak Resolusi untuk Akhiri Perang di Iran
-
Wajib Halal Mulai Berlaku, Pemerintah Bidik Industri Dalam Negeri Makin Kompetitif
-
Rupiah Terancam Melemah - 06 Oktober 2026
-
Musik Indonesia Go International! KJRI Guangzhou Dukung Konser Grup Swing di Tiongkok
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.