Hentikan Kebocoran, Audit BUMN Boncos Tak Bisa Ditunda
Kamis, 29 Okt 2026, 00:00 WIBJAKARTA â PengungÂkapan Danantara meÂnunjukkan persoalan struktural dalam pengeÂlolaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), mulai dari rendahnya efisiensi hingga ketimpangan kontribusi terhadap penerimaÂan negara.
Ketika 52 persen dari 1.074 perusahaan merugi 23 triliun rupiah per tahun dan 97 persen dividen hanya ditopang delapan perusahaan, efektivitas pengelolaan aset neÂgara patut dipertanyakan.
Kondisi ini menegaskan bahwa konsolidasi BUMN tidak cukup sebatas penggabungan perusahaan, tetapi harus diÂsertai pembenahan tata kelola, evaluasi anak-cucu usaha, dan penghentian pemborosan.
Hal itu dimaksudkan agar BUMN benar-benar menjadi sumber nilai tambah bagi negara, buÂkan beban fiskal.
Pengamat kebijakan pubÂlik FITRA, Badiul Hadi menilai kerugian lebih dari separuh perusahaan dalam ekosistem BUMN menjadi alarm serius bagi tata kelola kekayaan neÂgara.
âPenyelesaiannya tidak cukup melalui penutupan perÂusahaan dan peningkatan seÂtoran dividen, tetapi harus diÂsertai transparansi penyebab kerugian, evaluasi direksi dan komisaris, serta pertanggungÂjawaban setiap keputusan reÂstrukturisasi,â jelasnya di JakarÂta, Rabu (28/10).
Badiul mendorong DananÂtara membuktikan pengheÂmatan melalui audit indepenÂden, mengungkap risiko fiskal BUMN, dan menjelaskan damÂpak restrukturisasi terhadap pelayanan publik.
Dia juga meÂnekankan pentingnya mengÂakhiri impunitas, memperjelas tanggung jawab direksi, komiÂsaris, pemegang saham, dan regulator, serta memastikan setiap kerugian ditindaklanjuti secara tepat.
Selain itu, DPR dan pemeÂrintah diminta memperkuat akuntabilitas fiskal dengan membuka hubungan DananÂtara, pemerintah, APBN, dan perusahaan negara, termasuk dukungan berupa penyertaan modal, subsidi, kompensasi penugasan, jaminan pemerinÂtah, serta potensi kewajiban kontinjensi.
âKeberhasilan reformasi BUMN harus diukur dari kuaÂlitas pengelolaan kekayaan neÂgara dan manfaatnya bagi maÂsyarakat, bukan semata-mata jumlah perusahaan yang dituÂtup atau besarnya dividen yang disetorkan,â jelasnya.
Sebelumnya, Danantara melaporkan sebanyak 52 perÂsen dari 1.074 BUMN yang dikelolanya dalam kondisi meÂrugi.
Total kerugian mencapai 20 triliun rupiah atau sekitar 1,5 miliar dollar AS per tahun.
Kondisi tersebut menjadi alasÂan Danantara mendorong konÂsolidasi dan restrukturisasi beÂsar-besaran.
Pembenahan Serius
Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas DipoÂnegoro (Undip), Esther Sri Astuti menilai banyak BUMN membutuhkan pembenahan serius karena menghadapi teÂkanan keuangan, penumpukan utang, inefisiensi, pergantian manajemen yang dipengaruhi kepentingan politik, serta leÂmahnya tata kelola.
Sektor konÂstruksi dan farmasi termasuk yang masih menghadapi teÂkanan likuiditas dan masalah keuangan berat, sementara sekÂtor perbankan, energi, pertambangan, manuÂfaktur, logistik, dan perÂkebunan relatif mampu mencetak laba besar.
Pemerintah meÂnutup 290 BUMN beÂserta anak dan cucu usahanya per Agustus 2026, yang diklaim menghemat anggaran hingga 50 triliun rupiah per tahun dari pengeluaran tidak produktif.
Esther juga mengingatkan besarnya utang BUMN berpoÂtensi menimbulkan risiko fiskal dan mengancam keberlanjutan keuangan negara.
Untuk memÂperbaiki kinerja BUMN, Esther mengusulkan tujuh strategi, yakni holdingisasi berdasarkan jenis usaha, penerapan manaÂjemen profesional, pemisahan pengelolaan dari kepentingan politik, transformasi digital, peÂnyaluran Penyertaan Modal NeÂgara (PMN) secara selektif, peÂnguatan orientasi profitabilitas, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk efisiensi opeÂrasional dan pengawasan.
âRestrukturisasi perlu diÂarahkan pada peningkatan kiÂnerja, transparansi, daya saing, dan kontribusi BUMN terhadap penerimaan negara,â ujarnya.
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony OsÂkaria, mengungkapkan keÂtimpangan kontribusi dividen BUMN, dengan 97 persen diviÂden hanya berasal dari delapan perusahaan.
Sementara itu, 52 persen dari total 1.074 perusaÂhaan BUMN mengalami keruÂgian sekitar 20 triliun rupiah.
Danantara berencana menata ulang portofolio BUMN untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan.
InefisiÂensi transaksi berlapis antarpÂerusahaan diperkirakan meÂnimbulkan kerugian 2 miliar dollar AS per tahun, sedangkan penutupan perusahaan yang merugi dan tidak efisien berÂpotensi menghemat 3,5 miliar dollar AS per tahun.
Selain itu, Danantara mengÂhadapi persoalan akumulasi utang yang tidak terkelola dan lebih dari 1.000 kewajiban anÂtarperusahaan (inter-company liabilities), yang menyebabkan perusahaan dalam satu keÂlompok usaha saling memiliki tagihan.
Berita Terkait:
-
Setu Babakan Kemungkinan Bakal Ada Tarif Retribusi
-
Rupiah Dibayangi Gejolak MSCI - 19 Oktober 2026
-
Rupiah Tertekan Potensi Kenaikan Suku Bunga AS - 20 Oktober 2026
-
Piala Asia 2027: LOC Berkomitmen Jaga Persiapan Berjalan Sesuai Jadwal
-
Bikin Boncos Negara, Danantara Bakal Tutup 750 BUMN Hingga Akhir Tahun Ini
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.