- Home
-
- Luar Negeri
-
- Dipertanyakan, Alasan The ...
Dipertanyakan, Alasan The Fed Tahan Kenaikan Suku Bunga
Kamis, 29 Okt 2026, 03:05 WIBWASHINGTON- Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve/The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan Rabu (28/10), meskipun inflasi masih tinggi. Keputusan tersebut diambil enam hari menjelang pemilihan paruh waktu pada 3 November, yang menjadi ujian politik penting bagi Presiden Donald Trump.
Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dijadwalkan mengumumkan keputusan pada pukul 14.00 waktu setempat, dilanjutkan konferensi pers Ketua The Fed Kevin Warsh.
Pada pertemuan September lalu, para pembuat kebijakan menaikkan suku bunga ke kisaran 3,75-4,00 persen untuk pertama kalinya dalam tiga tahun. Langkah itu ditempuh untuk mengendalikan inflasi yang selama lebih dari lima tahun belum kembali ke target jangka panjang sebesar 2 persen.
Tekanan harga telah meningkat akibat lonjakan harga energi setelah perang AS terhadap Iran pada akhir Februari, kebijakan tarif impor yang luas, serta besarnya investasi dalam teknologi kecerdasan buatan (AI) dan pembangunan pusat data.
Inflasi konsumen AS pada September tercatat 3,7 persen, lebih tinggi dari perkiraan dan mendekati level tertinggi dalam tiga tahun yang dicapai pada Mei. Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap rumah tangga, terutama kelompok pekerja yang menghadapi kenaikan biaya hidup.
Kendati demikian, sejumlah pejabat The Fed mengisyaratkan belum perlunya kenaikan suku bunga lanjutan dalam waktu dekat. Warsh sebelumnya menyatakan kondisi ekonomi AS secara umum masih sesuai dengan ekspektasi pembuat kebijakan.
Alasan Dipertanyakan
Peneliti senior Brookings Institution, Wendy Edelberg, menilai penundaan kenaikan suku bunga menjadi skenario paling mungkin. Menurut dia, keputusan menaikkan suku bunga menjelang pemilihan akan mengejutkan, terlebih sejumlah pejabat telah mengisyaratkan dukungan terhadap jeda kebijakan.
Edelberg pun mempertanyakan alasan ekonomi untuk menahan suku bunga apabila kenaikan pada September dinilai diperlukan. Pasalnya, pasar tenaga kerja AS relatif stabil, sementara inflasi masih jauh di atas target.
Pandangan serupa disampaikan mantan Kepala Federal Reserve Cleveland, Loretta Mester. Ia menilai stabilitas pasar tenaga kerja dan tingginya inflasi memberikan dasar bagi The Fed untuk melanjutkan pengetatan moneter.
The Fed memiliki mandat menjaga stabilitas harga sekaligus mendukung kesempatan kerja maksimal. Kenaikan suku bunga dapat menekan inflasi, tetapi berisiko memperlambat aktivitas ekonomi. Sebaliknya, penurunan suku bunga dapat mendorong pertumbuhan, tetapi berpotensi meningkatkan tekanan harga.
Di tengah perdebatan tersebut, independensi The Fed turut menjadi sorotan. Trump berulang kali menekan bank sentral agar menurunkan suku bunga dan berupaya memberhentikan Gubernur The Fed Lisa Cook. Mester menegaskan bahwa pertimbangan politik tidak semestinya memengaruhi keputusan moneter.
Tekanan Gedung Putih tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi The Fed dalam menentukan kebijakan berdasarkan kondisi ekonomi, bukan kepentingan politik.AFP/SB/E-9
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: AFP, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Atasi BBM Langka, Pertamina Percepat Pemulihan Layanan di Bali
-
Penghulu hingga Tokoh Agama Bisa Jadi Agen Perlinsos Bantu Warga Daftar Bansos
-
Timnas Indonesia Juara FIFA Asean Cup 2026, Tundukkan Thailand 4-2 Lewat Adu Penalti
-
Pemerintah Kota Sawahlunto Bantu Upaya Pemulihan Bencana Solok
-
Rupiah Tertekan Potensi Kenaikan Suku Bunga AS - 20 Oktober 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.