• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Kecerdasan Buatan Hancurka...

Kecerdasan Buatan Hancurkan Nasib 200.000 Pekerja di Amerika, di Jakarta untuk Atasi Kemiskinan

Selasa, 13 Okt 2026, 09:46 WIB

JAKARTA – Kemajuan teknologi selalu ada dua sisi: positif dan negatif. Positifnya memajukan kehidupan, tapi juga bisa menghancurkan nasib manusia di sisi negatifnya. Contoh di Amerika, kecerdasan buatan telah mematikan sedikitnya 200.000 orang di Amerika karena kehilangan pekerjaan.

Kecerdasan buatan (AI) telah menyebabkan hampir 200.000 orang di Amerika Serikat (AS) kehilangan pekerjaan sejak 2023, dengan lebih dari 60 persen pemutusan hubungan kerja (PHK) tersebut terjadi pada tahun ini, menurut perhitungan RIA Novosti berdasarkan data perusahaan konsultan ketenagakerjaan dan manajemen sumber daya manusia AS, Challenger, Gray & Christmas.

Ket. Foto: sisi lain AI — Sumber: isssst

Sejak 2023, AI menjadi alasan PHK terhadap hampir 192.000 pekerja di AS. Dari jumlah tersebut, sebanyak 120.100 orang kehilangan pekerjaan pada Januari-September tahun ini, atau setara dengan 21 persen dari seluruh PHK di negara itu sepanjang tahun ini.

Pada 2025, sebanyak 54.800 orang di AS kehilangan pekerjaan akibat AI. Sementara itu, pada 2024, jumlahnya mencapai 12.700 orang. Pada 2023, jumlah kehilangan pekerjaan terkait AI tercatat sebanyak 4.200 orang.

Dalam dua tahun terakhir, jumlah PHK terkait AI tertinggi terjadi pada Mei 2026, ketika 38.600 orang kehilangan pekerjaan. Angka tersebut disusul Oktober 2025 dengan 31.000 orang dan April 2026 dengan 21.500 orang.

Atasi Kemiskinan

Sementara itu, Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI untuk mendukung penanggulangan kemiskinan di DKI Jakarta berdasarkan data yang lebih akurat dan tepat sasaran.

Hal ini disampaikan Iin dalam bedah buku "Satu Data Satu Tujuan, AI Sebagai Solusi Kemiskinan Jakarta" di Perpustakaan Jakarta dan Pusat Sastra HB Jassin, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Senin.

“AI bukan aktor baru dalam kolaborasi, melainkan teman yang membantu merumuskan, memverifikasi, memetakan, hingga mencari data yang tepat agar program penanggulangan kemiskinan tepat sasaran,” kata Iin kepada wartawan di Jakarta, Senin.

Iin sebagai penulis buku tersebut menjelaskan gagasan pemanfaatan AI berasal dari penelitian disertasinya mengenai model CollaborativeGovernanceAI (CG-AI).

Menurut Iin, kemiskinan merupakan persoalan kompleks yang berkaitan dengan berbagai indikator sosial dan ekonomi, termasuk ketimpangan.

Oleh karena itu, penanganannya membutuhkan koordinasi lintas instansi dan penggunaan data terpadu agar kebijakan serta bantuan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Adapun Pemerintah Provinsi  Jakarta melalui Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) telah melakukan pemadanan data dari sejumlah instansi, di antaranya Badan Pusat Statistik (BPS), Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek), Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP), serta Dinas Sosial.

Iin mengatakan integrasi tersebut perlu diperkuat agar data yang digunakan dalam penyusunan program penanggulangan kemiskinan dapat saling melengkapi dan mendukung pengambilan keputusan di tingkat wilayah.

Selanjutnya, ia mendorong pembentukan desk kolaborasi serta pengembangan dasbor interaktif untuk membantu analisis data kemasyarakatan.

Sistem tersebut direncanakan memanfaatkan teknologi machine learning untuk membaca berbagai indikator, termasuk data penggunaan listrik warga, sebagai salah satu bahan analisis.

“Kami juga membuka ruang bagi akademisi dan perguruan tinggi untuk bersama-sama meneliti dan mengimplementasikan gagasan ini. Pengakhiran kemiskinan membutuhkan perpaduan antara wawasan akademisi dan pengalaman praktisi di lapangan,” katanya.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.