Pertunra Gunungkidul Dorong Siswa Berkarya dan Kenalkan Batik sebagai Media Pendidikan
📅 Kamis, 08 Okt 2026, 15:30 WIB | Oleh: Eko SGUNUNGKIDUL — Pertunjukan Rakyat (Pertunra) yang digelar Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menjadi ruang bagi pelajar untuk belajar, berekspresi, dan mengenal budaya melalui karya batik. Kegiatan yang melibatkan perwakilan 11 sekolah tersebut juga diarahkan untuk memperkuat komunikasi publik sekaligus menanamkan karakter dan kemandirian sejak usia dini.
Pertunra/Pendidikan Rakyat dan Pameran Batik bertajuk “Gayeng Guyub Sidomukti” itu diselenggarakan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Gunungkidul di Bangsal Sewokoprojo, Kapanewon Wonosari, Kamis (8/10/2026).
Kepala Diskominfo Kabupaten Gunungkidul, Setiyo Hartato, mengatakan Pertunra dirancang tidak sekadar sebagai pertunjukan, tetapi sebagai sarana interaksi dan komunikasi antara pemerintah daerah dengan masyarakat. Kegiatan tersebut sekaligus mendukung program prioritas Bupati Gunungkidul, yakni “Gunungkidul Berdikari” dan “Bocah Pinter”.
“Melalui kegiatan ini, para siswa diharapkan dapat memahami bahwa kreativitas dapat dimulai dari rumah dan sekolah, sehingga nilai kemandirian serta semangat berdikari terwujud di Kabupaten Gunungkidul,” terang Setiyo.
Pembelajaran budaya dalam kegiatan tersebut dilakukan secara langsung melalui pameran dan praktik membatik. Sebanyak 14 meja peragaan disiapkan dengan melibatkan perwakilan dari 11 sekolah. Para siswa diperkenalkan dengan sejumlah tahapan membatik, mulai dari batik cap dan batik tulis hingga proses pewarnaan, dengan pendampingan mitra organisasi seperti Dompet Dhuafa.
Sebaiknya Anda baca juga:
Karya yang ditampilkan tidak hanya menonjolkan keterampilan teknis, tetapi juga mengangkat cerita dan identitas lingkungan sekolah. Beragam motif dikembangkan dengan mengambil inspirasi dari lingkungan sekitar serta pengalaman yang memiliki makna bagi masing-masing sekolah.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, mengatakan pembelajaran melalui batik memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami pentingnya proses, ketelitian, dan kesabaran. Ia menilai keterampilan tersebut menjadi bagian dari pembentukan karakter generasi muda.
“Saat anak-anak belajar membatik, mereka diajarkan ketelitian, kesabaran, dan rasa menghargai proses. Kita ingin generasi Gunungkidul tumbuh menjadi pribadi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, namun tetap bangga dan mengakar pada budayanya,” tutur Bupati.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Endah, kekayaan motif yang dihasilkan para siswa menunjukkan bahwa batik dapat menjadi media untuk menerjemahkan pengalaman dan lingkungan sekitar ke dalam sebuah karya. Salah satunya Motif Daun Klumpit yang terinspirasi dari pohon klumpit besar di lingkungan sekolah.
Pohon tersebut memiliki fungsi sebagai tempat berteduh, membantu menahan air tanah, sekaligus menjaga ekosistem. Nilai-nilai tersebut kemudian diterjemahkan menjadi gagasan dalam motif batik karya siswa.
Motif lainnya adalah Daun Pepaya yang menggambarkan perjalanan awal berdirinya sebuah sekolah dengan berbagai keterbatasan. Rasa pahit daun pepaya dimaknai sebagai simbol obat yang dapat menguatkan dan menyehatkan.
Bupati meminta agar motif-motif khas hasil kreativitas siswa tersebut tidak berhenti sebagai karya pameran. Ia menginstruksikan agar motif batik khas sekolah segera didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sehingga mendapatkan perlindungan hukum dan tidak diklaim pihak lain.
Pemkab Gunungkidul juga mendorong kerja sama dengan Dinas Perindustrian untuk mendampingi pengelolaan dan pemasaran produk batik sekolah. Karya tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai seragam internal sekaligus dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif yang memiliki nilai tambah melalui UMKM maupun BLUD Sekolah.
Bupati menilai pengenalan seni dan budaya kepada anak sejak sekolah penting untuk mendukung pembangunan daerah yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi. Pembangunan manusia serta penguatan hubungan sosial juga perlu mendapat perhatian.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!