Pakar UMY: Robot Humanoid Belum Siap Gantikan Manusia sebagai Pekerja Serbaguna
📅 Kamis, 08 Okt 2026, 15:15 WIB | Oleh: Eko S
Doc: Dok. umy.ac.id
YOGYAKARTA — Kemajuan robot humanoid membuka peluang semakin luasnya pemanfaatan mesin berbasis kecerdasan buatan di lingkungan kerja. Meski kemampuan robot dalam berjalan, menjaga keseimbangan, mengenali objek, memahami instruksi, dan membawa barang terus meningkat, teknologi tersebut dinilai belum mampu mengambil alih seluruh peran manusia dalam pekerjaan yang membutuhkan kemampuan beradaptasi.
Dosen Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus pakar Human-Robot Interaction (HRI), Dr. Muhamad Yusvin Mustar, S.T., M.Eng., mengatakan robot humanoid lebih berpeluang digunakan untuk pekerjaan dengan pola yang jelas dan berulang. Sementara itu, pekerjaan yang membutuhkan penyesuaian terhadap kondisi tidak terduga masih menjadi tantangan bagi robot.
Perkembangan robotika tersebut berlangsung seiring dengan meningkatnya penggunaan mesin otomatis di berbagai sektor industri. International Federation of Robotics (IFR) mencatat sekitar lima juta robot industri beroperasi di pabrik-pabrik dunia pada 2025. Jumlah tersebut naik sembilan persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada September 2026, IFR juga melaporkan pengiriman robot layanan profesional meningkat 24 persen menjadi hampir 250 ribu unit.
Menurut Yusvin, kondisi tersebut menunjukkan otomatisasi semakin terintegrasi dalam aktivitas kerja. Namun, peningkatan penggunaan robot tidak secara otomatis berarti seluruh pekerjaan manusia akan hilang.
Dalam wawancara daring, Rabu (7/10/2026), Yusvin mengatakan robot humanoid sudah semakin memungkinkan untuk diterapkan di lingkungan industri, khususnya pada pekerjaan yang terstruktur dan berulang. Kemampuan robot lebih optimal ketika tahapan pekerjaan serta kondisi lingkungan dapat diprediksi.
“Dalam waktu dekat, saya melihat humanoid lebih realistis digunakan sebagai pekerja semiotonom yang tetap berada di bawah pengawasan manusia. Bukan sepenuhnya menggantikan manusia sebagai pekerja general purpose,” jelasnya.
Ia menyebut pekerjaan yang memiliki tingkat repetisi tinggi, terstruktur, berat, berisiko, dan mempunyai pola kerja yang relatif tetap sebagai jenis pekerjaan yang paling berpotensi diotomatisasi. Contohnya pemindahan barang, mengambil dan meletakkan komponen, loading-unloading, pekerjaan pergudangan, penyortiran, hingga sebagian proses perakitan sederhana.
Meski demikian, Yusvin menilai otomatisasi tidak serta-merta menghilangkan sebuah profesi secara utuh. Perubahan lebih mungkin terjadi pada tugas-tugas tertentu yang sebelumnya dikerjakan manusia.
“Satu pekerjaan manusia bisa terdiri dari banyak tugas, dan mungkin hanya beberapa tugas saja yang nantinya diserahkan kepada robot humanoid,” ujarnya.
Kemampuan robot tersebut semakin berkembang seiring integrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Jika sebelumnya robot menjalankan instruksi berdasarkan program yang telah ditentukan, AI memungkinkan sistem robotik mengenali lingkungan, memahami perintah melalui bahasa, menentukan tindakan, serta menyesuaikan respons terhadap situasi.
Namun, menurut Yusvin, tantangan utama tidak hanya terletak pada pengembangan AI agar semakin cerdas. Kemampuan tersebut harus diterjemahkan menjadi tindakan fisik yang aman. Karena itu, penggabungan AI dengan persepsi, sensor, mekanik, kendali gerak, dan sistem keselamatan menjadi bagian penting dalam pengembangan embodied intelligence atau physical AI.
AI dan Robot Ubah Pola Pekerjaan
Yusvin menilai perkembangan robot humanoid lebih tepat dipahami sebagai perubahan komposisi pekerjaan. Menurutnya, otomatisasi dapat menghasilkan beberapa bentuk perubahan, mulai dari penggantian pekerjaan tertentu, penggunaan robot sebagai alat bantu, hingga munculnya bentuk pekerjaan baru.
Pekerja yang sebelumnya menangani pemindahan material secara manual, misalnya, berpeluang beralih menjadi operator, pengawas, teknisi, maupun pengelola beberapa robot secara bersamaan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!