Pakar UMY: Robot Humanoid Belum Siap Gantikan Manusia sebagai Pekerja Serbaguna
📅 Kamis, 08 Okt 2026, 15:15 WIB | Oleh: Eko SGambaran tersebut sejalan dengan proyeksi World Economic Forum (WEF) melalui Future of Jobs Report 2025. Laporan itu memperkirakan 170 juta pekerjaan baru dapat tercipta hingga 2030, sedangkan 92 juta pekerjaan terdampak disrupsi. Secara bersih, perubahan tersebut diproyeksikan menghasilkan tambahan 78 juta pekerjaan.
WEF juga memasukkan robot dan sistem otonom sebagai salah satu teknologi yang diperkirakan memengaruhi dunia usaha hingga 2030. Perubahan tersebut turut menggeser pola Human-Robot Interaction (HRI), dari sekadar interaksi antara manusia dan mesin menuju kolaborasi melalui human-robot teaming (HRT), ketika manusia dan robot menjalankan peran berbeda dalam satu tim.
Reskilling Diperlukan Hadapi Otomatisasi
Indonesia dinilai perlu mempersiapkan tenaga kerja menghadapi perubahan tersebut. Pasalnya, sebagian tenaga kerja masih bergantung pada pekerjaan fisik, operasional, dan berulang.
Seiring robot humanoid menjadi lebih terjangkau dan efisien, sejumlah pekerjaan seperti operator produksi sederhana, pekerja gudang, material handling, dan perakitan berulang berpotensi mengalami perubahan. Namun, Yusvin menilai dampak otomatisasi sangat bergantung pada bagaimana proses peralihan tenaga kerja dipersiapkan.
“Kalau otomatisasi dilakukan tanpa persiapan tenaga kerja, kita bisa menghadapi kesenjangan keterampilan dan pengangguran struktural. Tetapi jika dibarengi dengan reskilling dan upskilling, pekerja dapat beralih menjadi operator robot, teknisi pemeliharaan, pengawas sistem otomatis, teknisi sensor, atau tenaga pendukung otomasi,” tuturnya.
Menurut Yusvin, salah satu kemampuan yang perlu dimiliki pekerja pada masa mendatang adalah robot literacy. Kemampuan tersebut mencakup pemahaman mengenai sistem robotik, pengoperasian, pengawasan, hingga kemampuan bekerja berdampingan dengan robot.
Selain kesiapan pekerja, pemerintah dan dunia industri juga perlu menyiapkan kerangka regulasi untuk mendorong responsible automation atau otomatisasi yang bertanggung jawab. Penggunaan robot tidak harus dibatasi, tetapi perlu disertai jaminan keselamatan, penerapan human in the loop pada pekerjaan berisiko tinggi, penilaian dampak terhadap tenaga kerja, serta program reskilling sebagai bagian dari tanggung jawab perusahaan.
Kajian IFR juga menunjukkan bahwa dampak robot terhadap pasar kerja tidak hanya berupa penggantian tenaga manusia. Otomatisasi berpotensi meningkatkan produktivitas, melahirkan tugas dan jenis pekerjaan baru, serta memperkuat daya saing perusahaan.
“Prinsipnya bukan melarang otomatisasi, tetapi memastikan bahwa inovasi tetap berjalan, keselamatan terjaga, dan tenaga kerja tidak ditinggalkan dalam proses transisi teknologi,” pungkas Yusvin.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!