- Home
-
- Luar Negeri
-
- Hingga 500 Sekolah di Pran...
Hingga 500 Sekolah di Prancis Ditutup di Tengah Protes Siswa yang Makin Meluas
Senin, 05 Okt 2026, 00:30 WIBPARIS â Hingga 500 sekolah menengah atas di seluruh Prancis akan ditutup sepenuhnya atau sebagian pada Senin (5/10), menyusul gelombang demonstrasi siswa yang dalam beberapa hari terakhir berkembang menjadi aksi dengan kekerasan.
Dari France 24, Menteri Pendidikan Prancis Edouard Geffray mengatakan sekitar 400 hingga 500 sekolah akan menghentikan kegiatan belajar mengajar, baik seluruhnya maupun sebagian. Keputusan tersebut diambil karena kondisi keamanan di sejumlah sekolah dinilai belum memungkinkan untuk kegiatan belajar berlangsung normal.
Jumlah sekolah yang terdampak pada Senin diperkirakan tidak jauh berbeda dengan kondisi pada Jumat (2/10). Pemerintah berencana membuka kembali sekolah secara bertahap seiring membaiknya situasi.
Geffray mengatakan sedikitnya 24 sekolah telah dibakar atau dijarah sejak gerakan protes dimulai. Selain itu, sebanyak 78 staf pendidikan dilaporkan mengalami luka-luka.
âIni sesuatu yang belum pernah kami lihat sebelumnya,â ujar Geffray, seperti dikutip France 24.
Menurutnya, sebagian sekolah dan tenaga pendidikan sengaja menjadi sasaran karena merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional.
Protes bermula dari sebuah sekolah menengah di Paris pada 17 September. Dalam perkembangannya, aksi tersebut meluas ke berbagai wilayah Prancis dan melibatkan ribuan siswa sekolah menengah atau lycée.
Para siswa mempersoalkan sejumlah masalah di lingkungan pendidikan, mulai dari kekurangan guru, tingginya tingkat ketidakhadiran pengajar, jam belajar yang panjang, ruang kelas yang terlalu padat hingga kondisi sejumlah bangunan sekolah yang dinilai buruk.
Dalam beberapa hari terakhir, demonstrasi di sejumlah lokasi berubah menjadi bentrokan antara pelajar dan aparat keamanan. Polisi menggunakan gas air mata dan pentungan untuk membubarkan massa di beberapa titik.
Geffray juga menuding adanya kelompok aktivis, khususnya yang disebutnya berasal dari sayap kiri ekstrem, yang masuk dan mengambil alih sebagian gerakan siswa serta terlibat dalam aksi kekerasan. Pernyataan tersebut merupakan klaim dari pemerintah Prancis dan menjadi bagian dari kontroversi di tengah aksi protes.
Para pengkritik pemerintah, sementara itu, menuduh polisi menggunakan taktik yang terlalu keras dalam menghadapi demonstran.
Penyelenggara aksi menyerukan agar demonstrasi kembali digelar pada Selasa (6/10). Mereka menilai pemerintah belum memberikan langkah konkret untuk menjawab tuntutan para siswa.
Sejak gerakan tersebut dimulai, lebih dari 5.000 orang telah ditangkap. Sekitar 85 persen dari mereka disebut masih berusia di bawah umur.
Ketegangan juga terjadi di La Ciotat, Prancis selatan. Seorang remaja berusia 16 tahun ditahan pada Minggu terkait dugaan penyerangan terhadap seorang guru berusia 59 tahun saat demonstrasi siswa pada Jumat.
Guru tersebut dilaporkan disiram bensin dan dipukul. Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan seseorang berpakaian hitam dan mengenakan penutup wajah menyiramkan cairan ke arah guru tersebut ketika sebuah pohon terbakar di dekat lokasi.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
TikTok Food Fest 2026 Pertemukan Kreator, Pelaku Usaha, dan Komunitas Kuliner untuk Perkuat Pertumbuhan Industri F&B Indonesia
-
Kota Bandung Siap Hadapi Pekan Olahraga Provinsi 2026
-
Era Mobil Hidrogen Dimulai, BMW Uji iX5 dengan Jarak Tempuh 750 Km
-
Cuaca Jakarta Hari Ini Cerah Berawan Seharian, Suhu Udara Mencapai 36°C
-
Gempa NTT Jadi Alarm, TII Dorong Manajemen Bencana Antisipatif
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.