Bahasa dan Musik Lokal Mesti Diselamatkan

Senin, 05 Okt 2026, 01:10 WIB

TANGERANG – Banyak bahasa lokal terancam punah, atau bahkan sudah tidak ada yang menggunakan lagi. Untuk itu, keberadaan bahasa lokal harus benar-benar diselamatkan. Dalam rangka menyelamatkan bahasa lokal tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang, Provinsi Banten, menyiapkan rancangan Peraturan Bupati (Perbup). Nantinya, perbup berisi langkah-langkah untuk pelestarian bahasa lokal dalam satuan pendidikan.

“Regulasi ini diharapkan dapat melestarikan kekayaan seni, budaya, dan bahasa daerah. Ini khususnya dalam penerapan bahasa Sunda, Jawa, dan Betawi. Ini wajib dijaga dan diwariskan ke generasi muda,” tandas Bupati Tangerang, Maesyal Rasyid, Minggu (4/10). Lebih jauh diungkapkan, peraturan diturangkan dalam bentuk perbup, supaya seluruh sekolah bisa memelihara dan mengabadikan bahasa yang ada di Kabupaten Tangerang. 

Ket. Foto: Bupati Tangerang, Maesyal Rasyid menghadiri agenda Gebyar Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Kabupaten Tangerang Tahun 2026 di Yayasan Budi Pekerti, Kecamatan Solear pada Sabtu (3/10). — Sumber: ANTARA/HO-Pemkab Tangerang

Pemkab juga menyelenggarakan “Gebyar Festival Tunas Bahasa Ibu” (FTBI) di Yayasan Budi Pekerti, Kecamatan Solear. Kegiatan ini diproyeksikan sebagai penguatan warisan budaya ke generasi muda. “Ketiga Bahasa tadi Jawa, Sunda, dan Betawi harus kita lestarikan,” ujar Maesyal.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang, Dilli Windu Rezeki Seganda, menambahkan bahwaFTBI 2026 diikuti 37 peserta dari jenjang SD hingga SMP. Festival ini berisi menulis cerpen menggunakan bahasa daerah, pidato bahasa daerah, monolog dan berbalas pantun.

Dilli menjelaskan, kegiatan ini bertujuan membentuk generasi muda yang berkarakter, berbudaya, kreatif, dan peduli terhadap warisan leluhur. “Ini menjadi bagian dari komitmen bersama agar bahasa, budaya, dan sejarah Tangerang terus hidup dan dikenal generasi muda,” katanya.

Musik Tradisi

Kalau Pemkb Tangerang ingin menyelamatkan bahasa lokal, maka lain lagi dengan Pemerintah Kabupaten Bogor. Pemkab Bogormencoba mengenalkan kekayaan musik tradisi kepada generasi muda. Pengenalan dilakukan dengan penyelenggaraan Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) 2026 bertajuk “Sangitaloka” di kawasan Gelora Pakansari, Cibinong, Sabtu.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bogor, Titi Sugiarti, menyatakan, keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan seni dan musik tradisional agar tetap dikenal lintas generasi. “Melalui kegiatan ini kita dapat bersama-sama menopang pariwisata budaya daerah, khususnya budaya Kabupaten Bogor,” jelas Titi.

FMTI 2026 Kabupaten Bogor mengusung tema “Bambu dan Bunyi Ritus” dengan rangkaian kegiatan berupa seminar hingga pagelaran musik tradisi. Menurut Titi, seminar Sangitaloka menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperoleh pengetahuan mengenai musik dan kebudayaan tradisi sebelum menyaksikan penerapannya dalam pertunjukan.

Sekitar 400 peserta mengikuti seminar yang diselenggarakan di Ruang Serbaguna I Sekretariat Daerah Kabupaten Bogor. Sedangkan pagelaran FMTI dijadwalkan berlangsung di Lapangan VIP Pakansari Sabtu malam.

Titi menyebut penyelenggaraan festival tersebut juga menjadi bagian dari kolaborasi Pemerintah Kabupaten Bogor dengan Kementerian Kebudayaan dan berbagai pihak dalam menjaga keberlangsungan kebudayaan daerah. Menurutnya, kebudayaan tidak cukup hanya ditempatkan sebagai warisan masa lalu. Dia harus terus dirawat, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

“Pagelaran FMTI menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menyaksikan secara langsung kekayaan seni dan budaya yang dimiliki Kabupaten Bogor,” ujarnya. Sementara itu, perwakilan Yayasan Halimun Salak Indonesia, Deden Fahmi Padilah, menuturkan FMTI mengusung tema “Merajut Bayang-bayang Musik Nusantara.”

“FMTI bernama Sangitaloka dan tema Bambu dan Bunyi Ritus. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi ruang apresiasi, kreasi, dan pelestarian musik tradisi, khususnya di Bogor dan Jawa Barat,” kata Deden. Dia berharap penyelenggaraan FMTI tidak berhenti sebagai agenda festival. Tetapi menjadi ruang berkelanjutan untuk meningkatkan apresiasi generasi muda menjaga warisan musik tradisi.

  • Pelestarian Bahasa Lokal

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.