Rumah Subsidi Bekas Kredit Macet Bisa Dihuni Lagi, Pemerintah Siapkan Skema Recycle KPR untuk MBR
📅 Rabu, 30 Sep 2026, 12:50 WIB | Oleh: Tim PenulisDengan mekanisme yang tepat, rumah yang sama dapat kembali menjadi tempat tinggal bagi keluarga lain yang membutuhkan.
Memanfaatkan aset yang sudah tersedia
Dari perspektif pembangunan, rumah subsidi yang sudah tersedia merupakan aset yang tidak selalu harus dimulai dari nol. Tanah, bangunan, jaringan jalan, utilitas, serta sebagian infrastruktur lingkungan telah tersedia.
Pemanfaatan kembali aset tersebut dapat menjadi pelengkap pembangunan rumah baru, terutama ketika pemerintah terus berupaya meningkatkan ketersediaan hunian bagi MBR.
Konsep tersebut juga sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular dalam sektor bangunan, yakni mempertahankan nilai dan fungsi sumber daya dalam lingkungan binaan melalui pemanfaatan kembali aset yang telah tersedia.
Pemanfaatan kembali bangunan dalam kondisi tertentu juga berpotensi mengurangi kebutuhan sumber daya dibandingkan pembangunan dari awal.
Namun, prinsip tersebut tidak berarti setiap rumah hasil sitaan bank otomatis lebih baik atau lebih murah daripada rumah baru. Justru di sinilah pentingnya regulasi yang jelas.
Rumah yang akan masuk skema recycle KPR perlu memenuhi persyaratan kelayakan fisik, legalitas, harga, lokasi, serta standar rumah layak huni.
Kondisi fisik rumah menjadi salah satu aspek penting karena rumah yang pernah dihuni tentu dapat memiliki kondisi berbeda dengan rumah baru. Pemeriksaan bangunan, instalasi listrik dan air, sanitasi, struktur, serta kondisi lingkungan perlu dilakukan sebelum rumah ditawarkan kepada debitur baru.
Jika diperlukan renovasi, perlu ditentukan sejak awal pihak yang menanggung biaya serta bagaimana biaya tersebut diperhitungkan dalam skema pembiayaan.
Lokasi turut menentukan keterjangkauan
Aspek lokasi juga menjadi pertimbangan penting dalam skema recycle KPR. Sebagian rumah subsidi yang telah dibangun mungkin berada relatif dekat dengan pusat kegiatan, tempat kerja, sekolah, pasar, atau fasilitas pelayanan publik.
Jika demikian, rumah tersebut memiliki nilai tambah karena masyarakat tidak hanya membutuhkan rumah dengan harga terjangkau, tetapi juga biaya hidup dan mobilitas yang terjangkau.
Konsep location affordability yang dikembangkan Center for Neighborhood Technology (CNT) menunjukkan bahwa keterjangkauan hunian sebaiknya tidak hanya dihitung berdasarkan cicilan atau harga rumah, tetapi juga biaya transportasi yang harus dikeluarkan penghuni.
Karena itu, rumah subsidi yang telah tersedia dan berada di lokasi yang relatif strategis berpotensi memberikan manfaat apabila dapat dihuni kembali oleh MBR.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!