Kemiri NTB Dibidik Jadi Komoditas Ekspor Bernilai Tambah
📅 Minggu, 27 Sep 2026, 14:25 WIB | Oleh: Haryo BronoGubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan kolaborasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memperbesar manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Kemiri adalah salah satu potensi NTB yang dapat kita tingkatkan nilai tambahnya. Kolaborasi ini penting agar pengembangannya tidak berhenti pada produksi, tetapi terhubung dari hulu hingga hulu dan mampu menjangkau pasar global,” ujar Iqbal. (Catatan: redaksi dapat menyesuaikan jika maksud naskah asli "dari hulu hingga hilir").
Target Produksi hingga 3.600 Ton
Berdasarkan kajian dan asesmen lapangan Yayasan Insan Bumi Mandiri, program tersebut memiliki target pengembangan yang cukup besar. Jumlah petani yang terlibat di Lombok, Sumbawa, dan Bima ditargetkan meningkat dari 350 menjadi sekitar 550–720 orang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Produksi kemiri juga ditargetkan meningkat secara bertahap menjadi 2.400–3.600 ton per tahun. Peningkatan tersebut diharapkan diikuti kenaikan pendapatan petani sebesar 20–25 persen dan efisiensi produksi hingga 60–70 persen.
Dari sisi pasar, program tersebut menargetkan penambahan tiga hingga enam negara tujuan ekspor. Dampaknya terhadap perekonomian daerah diperkirakan dapat mencapai Rp30 miliar hingga Rp40 miliar per tahun.
Direktur Eksekutif LPEI Sukatmo Padmosukarso mengatakan pengembangan kemiri perlu menghubungkan produksi di tingkat petani dengan kebutuhan pasar ekspor, termasuk standar kualitas dan proses pengolahan.
“Kemiri NTB memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi komoditas ekspor bernilai tambah. Tantangannya adalah bagaimana kita menghubungkan potensi di tingkat petani dengan standar kualitas, pengolahan, dan akses pasar global,” ujar Sukatmo.
Menurut dia, penguatan rantai nilai diharapkan membuat manfaat ekspor tidak hanya tercermin dalam peningkatan transaksi, tetapi juga dirasakan petani dan masyarakat di daerah.
Pasar Ekspor Kemiri Masih Terbuka
Peluang pengembangan kemiri untuk pasar internasional masih cukup terbuka. Kajian IEB Institute mencatat nilai ekspor kemiri Indonesia mencapai 9,58 juta dolar AS pada Januari–September 2025.
Pada 2024, Indonesia tercatat sebagai eksportir kemiri terbesar ke-13 di dunia dengan pangsa sekitar 0,5 persen dari total ekspor global. Bangladesh dan Malaysia menjadi dua pasar utama dengan pangsa gabungan mencapai 64 persen.
Selain pasar yang sudah terbentuk, terdapat sejumlah negara yang dinilai memiliki peluang untuk perluasan ekspor, antara lain Tiongkok, Amerika Serikat, Vietnam, Jerman, dan Belanda.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!