- Home
-
- Luar Negeri
-
- Korut Uji Senjata Hiperson...
Korut Uji Senjata Hipersonik Canggih
Kamis, 24 Sep 2026, 02:45 WIBSEOUL - Korea Utara (Korut) tampaknya telah menguji senjata hipersonik canggih yang dapat menghindari pertahanan misil dan terbukti sulit dilacak dan dicegat, kata para analis kepada AFPÂ pada Rabu (23/9).
Korea Selatan (Korsel) dan Jepang mengatakan bahwa Pyongyang menembakkan dua misil balistik jarak pendek di lepas pantai timurnya pada Minggu (20/9), dan mengutuk peluncuran tersebut sebagai ancaman terhadap perdamaian dan keamanan regional.
Korut tidak menyebutkan jenis senjata tersebut, hanya mengatakan bahwa biro misilnya telah berhasil menguji jenis senjata baru dalam demonstrasi teknologi pertahanan ultra-modern.
Para analis mengatakan bahwa senjata itu tampaknya merupakan versi yang ditingkatkan dari misil balistik jarak pendek hipersonik Hwasongpho-11Ma-1 milik Korut.
âDengan daya jangkauan 450 hingga 600 kilometer, misil hipersonik ini dirancang untuk menyerang fasilitas militer utama di seluruh Semenanjung Korea dalam waktu yang sangat singkat," kata Yang Moo-jin, mantan presiden Universitas Studi Korut di Seoul, kepada AFP.
Gambar yang dirilis oleh media pemerintah Pyongyang menunjukkan pemimpin Kim Jong-un dan putrinya, Kim Ju-ae, sedang menonton layar yang menampilkan apa yang tampak sebagai jalur penerbangan misil tersebut, yang diberi label lintasan penerbangan Hwasongpho-11Ma-1.
Pekan ini, pemimpin Korut memperingatkan bahwa kemajuan senjata tersebut akan memberikan musuh rasa sakit kepala yang tak tersembuhkan dan pukulan yang sangat kejam dan tak terhindarkan, menurut kantor berita KCNA.
Terlepas dari sanksi PBB yang telah berlangsung lama, Korut telah mengabadikan statusnya sebagai negara bersenjata nuklir dalam hukum, dengan para pemimpinnya berulang kali menyatakan persenjataan atomnya bersifat permanen dan tidak dapat diubah.
"Korut mungkin membual tentang kemampuannya sendiri, tetapi jelas mereka telah mencapai titik di mana mereka dapat meluncurkan senjata kaliber ini," kata Ahn Chan-il, seorang peneliti yang berasal dari Korut, kepada AFP.
"Saya yakin uji coba ini bukan semata-mata untuk meningkatkan kemampuan militer sendiri, melainkan untuk menguji senjata yang diproduksi oleh industri pertahanannya guna memenuhi kebutuhan perang Russia," imbuh dia.
Sejak Russia melancarkan invasi ke Ukraina pada tahun 2022, menurut para analis Korut telah menjadi sekutu utama Kremlin, mengirimkan pasukan untuk mendukung upaya perang Moskwa sebagai imbalan atas keuntungan ekonomi dan teknologi militer.
Hong Sung-pyo, peneliti senior di Institut Urusan Militer Korea yang berbasis di Seoul mengatakan bahwa jika digunakan terhadap Korsel, senjata hipersonik tersebut akan menimbulkan ancaman serius.
"Namun, satu uji coba yang berhasil saja tidak cukup untuk membuktikan kemampuannya. Jika dikerahkan secara operasional, akan sangat sulit untuk ditangkal," kata dia kepada AFP. "Karena melakukan manuver saat turun selama fase akhir penerbangan, misil ini lebih sulit dilacak dan dicegat daripada misil balistik konvensional, terutama pada kecepatan hipersonik."
Pertemuan Lee-Trump
Sementara itu kantor berita KBS melaporkan bahwa Presiden Korsel, Lee Jae-myung, telah bertemu dengan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, pada Selasa (22/9) malam saat keduanya akan menghadiri Sidang Majelis Umum PBB di New York.
Saat jumpa pers di New York, Kepala Kantor Keamanan Nasional Cheong Wa Dae, Wi Sung-lac, mengatakan kedua pemimpin mengadakan pertemuan selama sekitar 30 menit.
Wi mengatakan kedua pemimpin menyambut kemajuan besar dalam pembahasan proyek investasi antara kedua negara. Kedua pemimpin juga menegaskan tekad bersama untuk memperdalam kerja sama Korsel -AS di berbagai bidang, berdasarkan lembar fakta bersama yang disepakati dalam KTT KorselAS pada November tahun lalu.
Bidang tersebut mencakup isu bahan bakar kapal selam bertenaga nuklir, pengayaan dan pemrosesan ulang nuklir, kerja sama industri perkapalan, serta pengalihan kendali operasional masa perang (OPCON). Kedua pihak juga sepakat melanjutkan konsultasi terkait isu-isu tersebut.
Presiden Trump pun kembali menegaskan keinginannya untuk berdialog dengan Korut. Menurut Wi, kedua pemimpin sepakat untuk berkomunikasi erat sebagai peacemaker dan pacemaker guna membuka jalan dialog dengan Pyongyang serta mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan di Semenanjung Korea.
Kantor Kementerian Luar Negeri AS menyatakan bahwa Presiden Trump bersedia berdialog dengan siapa pun apabila hal itu sejalan dengan kepentingan nasional AS. Pernyataan tersebut dinilai sebagai penegasan kembali bahwa pemerintah AS tetap membuka peluang untuk melanjutkan dialog dengan Korut.
âPresiden Trump, sebagai seorang pembuat kesepakatan, selalu mengambil keputusan berdasarkan kepentingan nasional AS,â ucap Wakil Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, Tommy Pigott.
Selain itu, Presiden Lee menyatakan bahwa KTT AS-Tiongkok yang dijadwalkan berlangsung keesokan harinya, penting bagi situasi kawasan termasuk bagi hubungan Korsel-Tiongkok, seraya menyampaikan harapan agar pertemuan tersebut berlangsung sukses. AFP/KBS/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Rekomendasi Kegiatan Akhir Pekan Seru di Jakarta, dari Berburu Buku di TIM hingga Menikmati Musik Bernadya di GBK
-
Kemenekraf Fasilitasi Klip Video Musisi Jawa Tengah lewat AKTIF Musik
-
Dark Eagle, Detail Baru Senjata Hipersonik AS Terungkap
-
Hebat! Perpustakaan Jimpitan Tangerang Juara Nasional Pelopor Inklusi Sosial
-
MTQ Jayapura 2026 Resmi Dibuka, Targetkan Lahirkan Generasi Qurani Berprestasi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.