- Home
-
- Luar Negeri
-
- Demo Pelajar Meluas, Ratus...
Demo Pelajar Meluas, Ratusan Ribu Warga Prancis Tantang Pemerintahan Macron
Rabu, 14 Okt 2026, 06:30 WIBParis - Puluhan ribu orang menggelar demonstrasi di berbagai wilayah Prancis pada Selasa (13/10) untuk mendukung aksi protes pelajar sekolah menengah atas (SMA). Serikat pekerja memperkirakan jumlah peserta mencapai 480.000 orang, di tengah meningkatnya kemarahan atas kondisi sekolah dan dugaan kekerasan polisi yang memicu gerakan untuk menentang pemerintahan Presiden Emmanuel Macron.
Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat sekitar 161.500 orang mengikuti aksi tersebut, lebih dari dua kali lipat dibandingkan 71.500 peserta dalam demonstrasi nasional terakhir pada Kamis pekan lalu.
Sementara itu, serikat pekerja yang turut mengorganisasi demonstrasi memperkirakan jumlah peserta di seluruh negeri mencapai 480.000 orang.
Angka tersebut menunjukkan meningkatnya gelombang penolakan terhadap pemerintah, hanya enam bulan sebelum Prancis memilih pengganti Macron, yang sedang menjalani masa jabatan keduanya sekaligus terakhir sesuai batas konstitusi.
Pada Sabtu, demonstrasi nasional menentang lonjakan biaya hidup dijadwalkan berlangsung. Serikat pekerja dan kelompok mahasiswa memperkirakan kedua gelombang protes itu akan menyatu.
Gejolak tersebut terjadi ketika pemerintahan berhaluan tengah pimpinan Macron kesulitan meloloskan anggaran yang berorientasi pada penghematan melalui parlemen, di tengah memburuknya kondisi utang yang memicu kekhawatiran pasar obligasi.
Sebagian besar demonstrasi pada Selasa berlangsung damai. Namun, kekerasan terjadi di sekitar salah satu dari dua aksi unjuk rasa di Paris, yang menurut Kementerian Dalam Negeri diikuti 41.500 orang.
Jurnalis AFP melihat sejumlah mobil dibakar. Polisi menembakkan gas air mata ketika sejumlah pemuda bertopeng berusaha mendirikan barikade di jalan dan melemparkan benda ke arah petugas. Gas air mata juga ditembakkan saat demonstrasi berlangsung di Lyon.
Aktivis asal Swedia, Greta Thunberg, turut menghadiri demonstrasi di Saint-Denis, pinggiran Paris. Ia mengatakan dirinya hadir karena "masa depan kami sedang dirampas".
Mahasiswa menjadi salah satu kelompok yang menonjol dalam demonstrasi tersebut, bersama para guru dan pemimpin serikat pekerja.
Aksi itu juga mendapat dukungan dari partai oposisi sayap kiri jauh, France Unbowed (LFI). Pemimpin partai tersebut, Jean-Luc Melenchon, yang berambisi maju dalam pemilihan presiden, terlihat berada di antara massa di Paris.
Dialog, Bukan Represi
Menurut kepolisian dan wartawan AFP, ribuan orang juga berunjuk rasa di Nantes, Lyon, Lens, Strasbourg, Toulouse, Bordeaux, dan Marseille.
"Kami menyatakan solidaritas dengan sekolah-sekolah menengah yang kondisinya lebih buruk. Kami membutuhkan langkah nyata dan dialog yang semestinya, bukan represi," kata Emeline, 16 tahun, di luar sebuah sekolah di Marseille.
"Kami berada di sini karena benar-benar merasa pemerintah tidak mendengarkan kami," kata Nina, 17 tahun.
Gerakan pelajar tersebut bermula bulan lalu. Para remaja di lycéeâsekolah menengah atas bagi siswa berusia 15 hingga 18 tahun di Prancisâmemblokir pintu masuk sejumlah sekolah untuk menuntut perbaikan kondisi belajar di kelas.
Respons polisi yang dinilai berlebihan terhadap para pelajar mendorong lebih banyak orang bergabung dalam demonstrasi pada Selasa.
Seorang remaja kehilangan tangannya setelah mengambil granat kejut polisi saat berlangsungnya protes. Remaja lainnya kehilangan satu mata, sedangkan seorang remaja lain kehilangan sejumlah gigi setelah seorang petugas menembakkan tabung gas air mata ke wajahnya.
Polisi telah membuka penyelidikan internal atas 34 dugaan tindakan kekerasan terhadap demonstran.
Kementerian Pendidikan Prancis menyatakan sebanyak 147 tenaga pengajar mengalami luka-luka dalam rangkaian aksi protes tersebut.
'Kami tidak akan mundur'
"Kami tidak akan menyerah dalam perjuangan ini, baik untuk membela para pelajar SMA yang menghadapi tindakan keras maupun untuk mengecam kekerasan polisi," kata Patricia, mahasiswa berusia 20 tahun di Paris yang tidak menyebutkan nama belakangnya.
Sejumlah wisatawan asal India yang tanpa sengaja berada di tengah demonstrasi di Paris mengaku sempat merasa cemas.
"Awalnya kami sangat ketakutan," kata Snehil Jain, 45 tahun, yang sedang berlibur selama sepekan di Paris bersama istrinya.
"Kami melihat gambar-gambar kekerasan di media terkait demonstrasi ini. Namun, kemudian kami melihat bahwa aksi tersebut berlangsung damai, sehingga kami merasa lebih tenang," ujarnya.
Kementerian Pendidikan Prancis menyatakan sebanyak 214 sekolah, sebagian besar SMA, ditutup pada Selasa.
Sementara itu, serikat mahasiswa L'Union Ãtudiante melaporkan 90 persen universitas di seluruh negeri ditutup sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan protes.
Para pelajar Prancis menyatakan akan terus memperjuangkan tuntutan mereka, termasuk terkait ketidakhadiran guru, kondisi bangunan sekolah yang rusak, jadwal pelajaran yang terlalu padat, serta berbagai persoalan lainnya.
Mereka menolak janji pemerintah yang disampaikan setelah demonstrasi pekan lalu untuk mengirimkan 3.000 guru pengganti ke 114 sekolah yang paling terdampak.
"Kami akan terus memblokir sekolah. Kami tidak akan mundur," kata Naouel, seorang pelajar SMA di Brest. Ia berharap demonstrasi berlanjut setelah libur tengah semester pada akhir Oktober.
Mariolino, pelajar berusia 16 tahun di Nantes, menyampaikan pandangan serupa.
"Mereka yang berpikir kemarahan ini akan hilang setelah liburan benar-benar tidak memahami situasinya," katanya.
Pada Senin, Macron menyerukan agar para demonstran menahan diri. Ia mengatakan persoalan yang mereka angkat "membutuhkan waktu, konsultasi, diskusi, dan sikap saling menghormati".
- Aksi Pelajar Prancis
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: AFP
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.