IHSG Hari Ini Terkoreksi Ikut Terseret Bursa Asia, Inflasi Global Mengancam
📅 Kamis, 24 Sep 2026, 17:58 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah mengikuti tekanan bursa Asia karena proyeksi inflasi global yang masih tinggi meningkatkan kekhawatiran terhadap arah suku bunga bank sentral.
Kondisi ini mendorong investor lebih berhati-hati, menekan minat terhadap aset berisiko, dan membuat ruang penguatan pasar saham semakin terbatas.
IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (24/9) sore, ditutup melemah 76,30 poin atau 1,20 persen ke posisi 6.298,61 mengikuti pelemahan bursa kawasan Asia, dipicu oleh ekspektasi kenaikan inflasi dan suku bunga acuan di tingkat global.
Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 8,68 poin atau 9,92 persen ke posisi 623,26.
"IHSG dan bursa regional Asia cenderung tertekan seiring tekanan koreksi yang terjadi di penutupan Wall Street Amerika Serikat (AS) dan bursa di Eropa,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus dalam kajiannya di Jakarta.
Dari mancanegara, Nico mengatakan koreksi pada bursa global dipicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi AS, kekhawatiran inflasi, serta meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah yang mendorong harga minyak serta ekspektasi The Fed akan lebih agresif.
Sebelumnya, beberapa pejabat The Fed menyuarakan kekhawatiran yang lebih luas terkait risiko inflasi yang terus berlanjut, dengan mengatakan bahwa kenaikan suku bunga lagi kemungkinan diperlukan, serta mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah.
Selain itu, harga minyak mentah yang tinggi juga meningkatkan risiko inflasi, setelah Iran meragukan kemajuan dalam pembicaraan perdamaian di Timur Tengah di tengah meningkatnya ketidakpastian seputar negosiasi antara AS dengan Iran.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa Teheran tidak akan pernah menyerah kepada AS, namun tetap terbuka untuk dialog dan diplomasi sambil menetapkan syarat untuk kembali melakukan negosiasi.
Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati pertemuan puncak antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Washington, AS, di tengah ketidakpastian yang terus berlanjut mengenai perpanjangan gencatan senjata perdagangan antara AS dengan Tiongkok.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent mengatakan bahwa AS dan Tiongkok telah sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata perdagangan mereka selama dua bulan hingga 10 Januari 2026.
Namun, Tiongkok secara publik belum mengkonfirmasi tanggal berakhirnya gencatan senjata tersebut, dan perpanjangan tersebut kurang dari perpanjangan 3-6 bulan yang sebelumnya disarankan oleh beberapa pejabat AS.
Meskipun ekspektasi terkait pertemuan puncak antara Trump dan Xi tetap moderat, namun pertemuan itu diperkirakan akan membahas kecerdasan buatan, Iran, Taiwan, serta hubungan ekonomi yang lebih luas, seiring kedua pihak yang berupaya menjaga stabilitas dalam hubungan bilateral.
Dari dalam negeri, pelaku pasar cenderung dibayangi oleh tingginya risiko global, seperti lonjakan imbal hasil obligasi global, fluktuasi harga minyak, serta ketegangan geopolitik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!