- Home
-
- Luar Negeri
-
- Target Akhiri Kelaparan Gl...
Target Akhiri Kelaparan Global 2030 Terancam Gagal
Senin, 21 Sep 2026, 01:00 WIBNew York - Target Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengakhiri kelaparan global pada 2030 diperkirakan tidak akan tercapai jika tren saat ini terus berlangsung, kata Kepala Kantor Penghubung Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) untuk Rusia Oleg Kobyakov.
"Jika kita ingat kembali bahwa umat manusia, melalui keputusan Majelis Umum PBB, telah menetapkan tugas untuk menghapuskan fenomena kelaparan di dunia pada 2030, jelas bahwa saat ini tugas ini tidak dapat dilaksanakan. Setidaknya, dengan laju perkembangan saat ini, target tersebut mustahil tercapai," kata Kobyakov kepada RIA Novosti seperti dilaporkan dari Moskow, Sabtu (19/9).
Dikutip dari Antara, Menurut Kobyakov, sejumlah kemajuan sebenarnya telah dicapai, termasuk penurunan skala kelaparan global. Namun, laju perbaikan tersebut dinilai belum cukup untuk mencapai target tanpa kelaparan pada 2030.
Jika dinamika saat ini berlanjut, sekitar 512 juta orang di seluruh dunia diperkirakan masih mengalami kelaparan pada 2030. Angka tersebut bahkan belum memperhitungkan dampak konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Ancaman terhadap ketahanan pangan global juga datang dari gangguan perdagangan dan produksi pangan. Kobyakov mengatakan blokade Selat Hormuz berpotensi menekan produksi dan pasokan pangan global pada paruh kedua 2026 hingga 2027.
"Dampaknya tidak hanya berpengaruh pada tingkat harga saat ini, tetapi juga pada hasil panen di musim-musim berikutnya, sehingga menyebabkan penurunan produksi dan pasokan pangan pada paruh kedua tahun 2026 dan pada 2027," katanya.
FAO sebelumnya juga memperingatkan bahwa gangguan di Selat Hormuz dapat menghambat pasokan pupuk dan meningkatkan biaya produksi pertanian. Keterlambatan pasokan pupuk selama beberapa pekan dapat membuat petani mengurangi penggunaan pupuk atau bahkan tidak menggunakannya, sehingga berpotensi menurunkan hasil panen pada musim berikutnya.
Kobyakov mengatakan dampak tersebut dapat memperburuk kondisi negara dan kawasan yang telah menghadapi krisis pangan berkepanjangan atau akut.
"Menurut analisis yang dilakukan FAO, berbagai guncangan yang saling terkait akibat krisis ini dapat menyebabkan kenaikan harga pangan serta meningkatnya kondisi kelaparan di negara-negara dan kawasan yang sudah terdampak krisis pangan berkepanjangan atau akut," jelasnya.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
RI Bakal Alami Kerentanan Pangan Jika Kebergantungan Impor Bawang Putih Tak Dikurangi
-
Taat Bayar Pajak Bisa Berangkat Umrah, Ini Insentif dari Pemprov Bengkulu
-
BPBD Bantul Koordinasi dengan BBWSSO Tangani 9 Lokasi Terdampak Bencana Hidrometeorologi
-
AI Makin Canggih, Tapi Profesi Akuntan Diprediksi Tetap Aman! Ini Alasannya
-
HPP Gabah Rp6.500/kg, Mentan Ungkap Komitmen Presiden untuk Sejahterakan Petani
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.