- Home
-
- Luar Negeri
-
- Ribuan Orang Memprotes Kur...
Ribuan Orang Memprotes Kurangnya Tindakan atas Krisis Iklim
Senin, 21 Sep 2026, 02:30 WIBLAUSANNE â Ribuan orang berunjuk rasa di Kota Jenewa dan Lausanne, Swiss, pada Sabtu (19/9) Â untuk memprotes kelambatan pemerintah dalam menghadapi pemanasan global.
Mereka turun ke jalan untuk menanggapi seruan dari koalisi yang terdiri dari lebih dari seratus asosiasi dan partai politik di bawah panji bersama: "Tidak ada musim panas dengan suhu 50 derajat!"
Orang-orang dari segala usia ikut serta dalam aksi protes tersebut sambil membawa plakat dengan slogan-slogan bertuliskan "Tidak Ada Planet B" dan "Kita sudah tamat!", seperti yang dicatat oleh jurnalis AFP.
Demonstrasi yang lebih besar terjadi di Lausanne, di mana penyelenggara mengatakan setidaknya 8.000 orang telah berpartisipasi.
Salah seorang peserta aksi, aktivis serikat pekerja berusia 31 tahun bernama Guillaume Matthey, mengatakan kepada AFP bahwa ia berharap ini adalah awal dari siklus baru mobilisasi rakyat yang meluas untuk menekan para pemimpin politik dan keuangan negara atas kurangnya respons mereka terhadap krisis iklim.
Pada tahun 2024, Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa telah memutuskan bahwa Swiss tidak melakukan cukup upaya untuk memerangi perubahan iklim. Putusan ini adalah yang pertama kalinya diputuskan oleh pengadilan internasional yang isinya menentang suatu negara dalam masalah ini.
"(Putusan) itu tentang memberi tahu pihak berwenang bahwa inilah saatnya untuk bertindak," kata seorang peserta pawai berusia 60-an, Yves Froidevaux. "Kita tidak bisa hanya membiayai senjata lalu tidak peduli dengan hal-hal lainnya. Itu tidak bisa diterima," imbuh dia.
"Musim panas ini benar-benar kekurangan air," kata Vincent Fontannaz, seorang aktor berusia 47 tahun yang memakai kostum seperti tetesan air raksasa. "Ini bukan semata tentang mengisi kolam renang, tetapi yang terpenting adalah tentang pertanian dan untuk kelangsungan hidup kita," imbuh dia.
Salah satu peserta demonstrasi, Laurent Guidetti, seorang arsitek berusia 55 tahun, mengenakan masker gas yang terbuat dari botol plastik. âSaya termasuk orang yang beruntung memiliki apartemen yang terisolasi dengan baik sehingga tetap sejuk di malam hari," kata dia.
Namun musim panas ini, ia memikirkan orang-orang yang tidak seberuntung dirinya. "Ini akan sangat sulit bagi mereka," ucap dia.
Dan bahkan jika mereka berhasil melewati gelombang panas musim panas ini, dia tidak tahu bagaimana mereka akan menghadapi suhu yang lebih tinggi yang diperkirakan akan terjadi di musim panas mendatang.
Setelah demonstrasi hari Sabtu, aksi protes lainnya telah direncanakan di beberapa kota di Swiss dalam beberapa pekan mendatang hingga 2 Oktober.
Gelombang panas musim panas di Swiss dilaporkan telah memaksa penutupan pembangkit listrik tenaga nuklir dan menyebabkan permukaan air Danau Zurich berada pada level terendah sepanjang sejarah. AFP/I-1
Berita Terkait:
-
Tayang 1 Oktober, Film "Lobang Buaya" Garapan Hanung Bramantyo Berlatar Peristiwa Kelam Tahun 1965
-
Danantara Laporkan Progres Kampung Haji dan Peluang Saham Bandara Madinah ke Prabowo
-
"Moana" Melempem di Box Office, Ini Kata Dwayne Johnson
-
Cristiano Ronaldo Isyaratkan 2026 Jadi Tahun Terakhirnya sebagai Pesepak Bola Profesional
-
Bunga Pinjaman Bulog Dipangkas! Dari 8 Jadi 5 Persen, Ini Dampaknya ke Harga Beras
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.