Mengejutkan! RSUD Dompu Layani Lebih dari 100 Pasien Cuci Darah

Minggu, 20 Sep 2026, 04:27 WIB

DOMPU - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dompu, Nusa Tenggara Barat, telah melayani lebih dari 100 pasien melalui layanan hemodialisis atau cuci darah hingga September 2026.

Kasi Humas dan Pemasaran RSUD Dompu Muhammad Iradat mengatakan layanan tersebut didukung 10 mesin hemodialisis dan saat ini digunakan rata-rata 76 pasien yang menjalani terapi secara rutin setiap pekan.

Ket. Foto: Dokter dan petugas medis RSUD Dompu memeriksa kondisi salah satu pasien di ruang pelayanan rumah sakit di Dompu, NTB, Sabtu (19/9). — Sumber: Antara foto

"Untuk pasien yang sudah dilayani lebih dari 100 orang, sedangkan yang rutin menjalani cuci darah setiap pekan sekitar 76 pasien,” kata Iradat kepada ANTARA di Dompu, Sabtu.

Menurut dia, tingginya kebutuhan terhadap layanan tersebut juga terlihat dari masih adanya sekitar 80 pasien yang masuk dalam daftar antrean untuk mendapatkan layanan cuci darah di RSUD Dompu.

Layanan tersebut tidak hanya dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Dompu, tetapi juga pasien dari Kabupaten Bima, Kota Bima, serta pasien yang sedang bepergian atau kembali ke daerah asal dan membutuhkan terapi layananan tersebut.

Iradat menjelaskan hemodialisis merupakan salah satu terapi pengganti fungsi ginjal bagi pasien dengan gangguan fungsi ginjal yang telah mencapai kondisi tertentu sesuai indikasi medis.

Gangguan fungsi ginjal dapat berkaitan dengan berbagai kondisi, antara lain diabetes, tekanan darah tinggi, batu ginjal, penyakit autoimun, kelainan genetik, infeksi ginjal, serta sejumlah penyakit atau kondisi lain yang memengaruhi fungsi organ tersebut.

Pada kondisi gagal ginjal tahap akhir, pasien dapat membutuhkan terapi pengganti fungsi ginjal berupa hemodialisis, continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD), atau transplantasi ginjal sesuai kondisi medis dan rekomendasi dokter.

Iradat menambahkan pasien yang menjalani cuci darah di RSUD Dompu tidak hanya berasal dari kelompok dewasa dan lanjut usia. Sejumlah pasien usia remaja juga membutuhkan terapi tersebut akibat berbagai kondisi medis.

Pada kelompok usia muda, gangguan fungsi ginjal dapat berkaitan dengan kelainan bawaan, infeksi, gangguan sistem kekebalan tubuh, maupun efek penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang yang perlu mendapat pengawasan medis.

Karena itu, ia mengingatkan masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko penyakit yang dapat memengaruhi fungsi ginjal.

Pola makan tinggi gula dan garam serta konsumsi makanan cepat saji secara berlebihan dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan tekanan darah tinggi yang diketahui berkaitan dengan penurunan fungsi ginjal. Sementara itu, kurang asupan cairan dapat menyebabkan dehidrasi dan pada kondisi tertentu memengaruhi kesehatan saluran kemih dan ginjal.

“Pemeriksaan kesehatan secara rutin penting dilakukan untuk mengetahui kondisi tubuh lebih awal, sehingga apabila ada gangguan fungsi ginjal atau penyakit penyerta dapat segera ditangani,” ujarnya.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.