Ilmuwan Temukan Spesies Kucing Liar Baru Setelah 100 Tahun

Minggu, 20 Sep 2026, 02:00 WIB

Paris - Para ilmuwan mengidentifikasi spesies kucing liar yang sebelumnya tidak dikenal dan hidup di sebuah suaka margasatwa di Bolivia. Kucing kecil berbintik tersebut telah bertahun-tahun hidup di suaka sebelum analisis genetik mengungkap bahwa hewan itu merupakan spesies kucing liar baru pertama yang berhasil diidentifikasi dalam lebih dari satu abad.

Spesies kucing yang sebelumnya belum diketahui itu ditemukan di tempat yang selama ini terlihat jelas, yakni sebuah suaka margasatwa di Bolivia. Kucing berbulu cokelat muda dengan corak bintik gelap seperti macan tutul tersebut telah tinggal di sana selama bertahun-tahun.

Ket. Foto: Ilustrasi kucing hutan. Di Amerika Utara, terdapat beberapa jenis kucing hutan, di antaranya sejenis bobcat, kucing salju, dan beberapa yang lain. — Sumber: Antara

Penemuan yang dilaporkan pada Kamis dalam jurnal Current Biology itu menjadi kali pertama dalam lebih dari satu abad para ilmuwan menamai dan mendeskripsikan spesies kucing liar yang masih hidup dan sebelumnya belum dikenal.

Ahli biologi Bolivia Paola Nogales-Ascarrunz, penjelajah National Geographic sekaligus salah satu penulis utama penelitian, mengatakan seorang koleganya yang menganggap kucing tersebut memiliki penampilan tidak biasa mengundangnya untuk memeriksa hewan itu di sebuah suaka di wilayah Yungas, Bolivia.

Lokasi tersebut berjarak sekitar beberapa jam perjalanan dari ibu kota administratif La Paz, tempat Nogales-Ascarrunz menjadi sukarelawan.

Seekor keluarga setempat sebelumnya menyerahkan kucing tersebut ke suaka setelah menemukannya di hutan dan kesulitan memeliharanya sebagai hewan peliharaan.

Nogales-Ascarrunz mengatakan hal yang paling menarik perhatiannya adalah ukuran kucing tersebut yang sangat kecil. Kucing jantan yang kini berusia sekitar 10 tahun itu berukuran 46 sentimeter dari kepala hingga pangkal ekor dan hanya memiliki berat 1,4 kilogram, lebih kecil daripada rata-rata kucing rumahan.

Bulunya berwarna cokelat muda dengan pola bintik-bintik gelap menyerupai macan tutul.

"Mengetahui kucing liar lainnya, kucing ini memang aneh. Dia benar-benar kecil," katanya.

Untuk mengetahui posisi kucing tersebut dalam silsilah keluarga kucing di Amerika Selatan, para peneliti membandingkan genom atau keseluruhan rangkaian informasi genetik dari lebih dari 30 kucing yang berasal dari sejumlah lokasi, termasuk Kolombia, Peru, dan Brasil.

Peneliti juga menggunakan tulang dan kulit kucing yang tersimpan di museum-museum Amerika Serikat dan Eropa untuk memperoleh DNA ketika sampel segar tidak tersedia.

Analisis tersebut menunjukkan kucing yang berada di suaka itu merupakan spesies yang sebelumnya tidak dikenali. Garis keturunannya diketahui telah berpisah dari kerabatnya sekitar 1,4 juta tahun lalu.

Spesies kucing terakhir yang secara resmi diidentifikasi adalah kucing pampas Uruguay pada 1923.

"Selama ekspedisi para naturalis pada abad ke-17, 18, dan 19, kucing ini tidak pernah dikumpulkan dan spesiesnya tidak pernah dideskripsikan secara tepat," kata Nogales-Ascarrunz.

Alih-alih menggunakan nama ilmuwan atau penjelajah, para peneliti menamai spesies baru tersebut Leopardus tilcayo. Nama itu mempertahankan sebutan yang digunakan masyarakat di hutan awan tropis Pegunungan Andes, Bolivia, tempat hewan tersebut hidup.

Keanekaragaman Hayati

Temuan itu juga membantu mengungkap misteri lama mengenai kucing macan tutul Amerika Selatan. Sebelumnya, para ilmuwan mengklasifikasikan kelompok tersebut sebagai satu spesies karena memiliki penampilan yang sangat mirip.

Namun, analisis DNA para peneliti menunjukkan sedikitnya terdapat lima spesies berbeda, yakni empat spesies yang telah dikenal sebelumnya dan satu spesies baru Leopardus tilcayo.

" Bahkan dalam kelompok yang telah dipelajari dengan sangat baik, seperti keluarga kucing, ternyata masih ada keanekaragaman yang tersembunyi," kata ahli biologi evolusi sekaligus salah satu penulis penelitian dari Universitas Antwerp, Jonas Lescroart.

Tantangan berikutnya adalah mengetahui lebih banyak mengenai kucing berukuran kecil tersebut di habitat liarnya.

"Kita masih belum tahu berapa jumlah mereka," kata Nogales-Ascarrunz.

Ia menambahkan, peneliti masih perlu mengetahui pola makan, perilaku, dan habitat spesies kucing macan tutul baru tersebut secara lebih rinci. Keberadaannya sejauh ini telah dikonfirmasi di hutan Yungas, Bolivia, tetapi wilayah persebaran secara keseluruhan masih belum diketahui.

Para ilmuwan berharap penetapan status sebagai spesies baru dapat membantu melindungi habitat hutan tempat kucing tersebut hidup. Kawasan itu menghadapi ancaman akibat deforestasi yang semakin cepat dan aktivitas pertambangan emas.

"Kita harus segera melakukan penemuan semacam ini karena seluruh keanekaragaman hayati berada di bawah tekanan dan sedang menghilang di depan mata kita," kata Lescroart.

  • Spesies Kucing

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.