Gebrakan Ekonomi Biru, DKP Sumut Sulap 4 Daerah Ini Jadi Sentra Raksasa Perikanan

Jumat, 18 Sep 2026, 01:25 WIB

MEDAN - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) memprioritaskan empat daerah utama, yakni Sibolga, Tanjungbalai, Asahan, dan Batu Bara, untuk mengakselerasi pengembangan ekonomi biru di sektor perikanan tangkap. 

"Di sektor perikanan tangkap, DKP Sumut memprioritaskan pengembangan kawasan di Sibolga, Tanjungbalai, Asahan, dan Batu Bara," ujar Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP Provinsi Sumut Jenny Masniari Sinaga dalam temu pers di Kantor Gubernur Sumut, Medan, Kamis (17/9).

Ket. Foto: Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara menyampaikan pemaparan dalam temu pers d Kantor Gubernur Sumut, Kamis (17/9). — Sumber: ANTARA/HO-Diskominfo Sumut

Pihaknya menjelaskan, pengembangan ekonomi biru ini mencakup perikanan tangkap, budi daya, pengolahan hasil perikanan, serta konservasi laut dan pesisir.

Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan produksi dan daya saing sektor kelautan dan perikanan, sekaligus memberikan nilai tambah bagi nelayan dan masyarakat pesisir.

"Di tahun 2026 ini, pengembangan kawasan unggulan itu juga diarahkan komoditas ikan asin sebagai bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah hasil perikanan,” kata dia.

Menurutnya, pengembangan kawasan unggulan tersebut diharapkan mampu meningkatkan produksi perikanan tangkap sekaligus memperkuat daya saing dan nilai tambah hasil tangkapan.

Selain itu, pengembangan kawasan unggulan perikanan ini juga diharapkan mampu mendorong terbentuknya sentra-sentra ekonomi kelautan dan perikanan di daerah.

"Di sektor budi daya, Sumut memiliki potensi yang tersebar di 33 kabupaten/kota, termasuk udang vaname dan rumput laut. Rumput laut diarahkan ke Nias dengan mempertimbangkan potensi pasar, serta optimalisasi sumber daya kelautan yang tersedia,” ujar Jenny.

Ia juga mengatakan, DKP Sumut juga melaksanakan program pengembangan kawasan budi daya berkelanjutan di Deli Serdang, Karo, Dairi, Langkat, dan Batu Bara.

Program ini antara lain pemberian paket budi daya ikan lele, nila, dan ikan emas, serta dukungan pakan untuk membantu meningkatkan produktivitas pembudidaya ikan.

"Kami juga memperkuat pengelolaan wilayah pesisir melalui pengembangan kawasan konservasi. Sejumlah wilayah menjadi bagian pengelolaan, seperti Pulau Berhala di Serdang Bedagai, Pulau Wunga di Nias Utara, dan Pulau Sinuk di Nias Selatan," tuturnya.

Kawasan konservasi perairan juga dikembangkan meliputi Sawo-Lahewa di Nias Utara seluas 29 hektare (ha), Tapanuli Tengah 84 ha, dan Pulau Batu-Batu di Nias Selatan 44 ha.

Kemudian, Pulau Berhala di Serdang Bedagai tiga ha, Pulau Pini di Nias Selatan 44 ha, Pulau Salah Nama di Batu Bara tiga ha, serta Sirombu di Nias Barat 27 ha.

Kawasan konservasi ini juga diarahkan untuk menjaga ekosistem penting guna keberlanjutan sumber daya kelautan dan perikanan, seperti terumbu karang, mangrove, penyu, dan lamun.

"Pendekatan ekonomi biru untuk menciptakan keseimbangan peningkatan produksi, pertumbuhan ekonomi, dan kelestarian ekosistem laut, sehingga manfaatnya sumber dirasakan masyarakat Sumut secara berkelanjutan," katanya pula.

  • perikanan sumut
  • ekonomi biru sumut
  • dkp sumut
  • konservasi laut

Redaktur: alfred

Penulis: Alfred, Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.