• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Buku Karya Ita Sembiring #...

Buku Karya Ita Sembiring #HaHa Leadership Ajak Pemimpin Berani Bercermin Lewat Humor

Jumat, 18 Sep 2026, 20:30 WIB

JAKARTA — Pembahasan mengenai kepemimpinan tidak selalu harus disampaikan melalui bahasa yang serius dan penuh teori. Pendekatan berbeda ditawarkan Ita Sembiring melalui buku terbarunya, #HaHa Leadership, yang mengajak pembaca melihat berbagai persoalan kepemimpinan di dunia kerja melalui humor dan cerita yang dekat dengan keseharian.

Buku tersebut diluncurkan dalam acara Book Launching & Press Conference di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, Jumat (18/9/2026). Melalui buku ini, Ita mengajak pembaca tidak hanya tertawa melihat berbagai karakter dan situasi di lingkungan kerja, tetapi juga melakukan refleksi terhadap diri sendiri sebagai pemimpin maupun anggota organisasi.

Ket. Foto: Ita Sembiring berfoto bersama buku karyanya, #HaHa Leadership, yang diluncurkan di Jakarta, Jumat (18/9). Buku ini mengajak pembaca melihat kepemimpinan dan dinamika dunia kerja melalui humor, refleksi diri, dan pengalaman keseharian. — Sumber: Ita Sembiring

Di balik humor yang digunakan, #HaHa Leadership membawa pesan tentang pentingnya keberanian seorang pemimpin untuk bercermin. Pembaca diajak mempertanyakan diri melalui situasi yang digambarkan dalam buku, termasuk dengan pertanyaan sederhana, “Saya pemimpin seperti yang diceritakan di buku ini nggak ya?”

Ita mengatakan, humor dapat menjadi ruang untuk membuka percakapan mengenai berbagai persoalan yang tidak selalu mudah dibahas secara langsung.

“Setiap humor memiliki ruang interpretasi dan lewat komedi pula kita mampu memulai bahkan membangun percakapan sekalipun topiknya tidak mudah. Jadi melalui buku ini saya mencoba menyajikan keresahan pribadi dalam dunia kerja,” ujar Ita, penulis yang telah menelurkan belasan novel dan naskah film, di Jakarta, Jumat (18/9).

Kepemimpinan Tidak Harus Sempurna

Salah satu gagasan yang dibawa dalam #HaHa Leadership adalah pandangan bahwa pemimpin yang baik tidak harus selalu tampil sempurna. Seorang pemimpin justru perlu memiliki keberanian untuk terus belajar dan membuka ruang bagi orang-orang di sekitarnya untuk berkembang.

Gagasan tersebut menjadi relevan di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat. Kreativitas, kolaborasi, keberanian menyampaikan gagasan, serta kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting dalam menjalankan organisasi. Dalam konteks tersebut, kecerdasan seorang pemimpin tidak hanya dilihat dari kemampuan individu, tetapi juga dari bagaimana ia membangun lingkungan yang memungkinkan anggota tim ikut berkembang.

Ita mengungkapkan, proses menulis buku tersebut berkaitan erat dengan pengalaman pribadinya menghadapi berbagai situasi di dunia kerja. Ia menyelesaikan buku tersebut dalam waktu 111 jam dan menyebut proses penulisan itu sebagai bentuk refleksi pribadi.

“Jujur, menulis buku yang saya selesaikan dalam 111 jam ini merupakan terapi jiwa dan alat bantu berkualitas untuk melepas rasa kecewa,” kata Ita.

Menurut dia, pengalaman menghadapi beragam situasi di dunia kerja mendorongnya untuk tidak hanya berbagi cerita, tetapi juga membahas bagaimana seseorang dapat mengelola perasaan dan pengalaman tersebut. Ia menekankan pentingnya kemampuan memimpin diri sendiri sebelum seseorang menjalankan peran sebagai pemimpin bagi orang lain.

“Termasuk cara mengelola rasa itu sendiri demi bisa memimpin diri sendiri terlebih dahulu, agar selanjutnya mampu menerima pemimpin yang bagaimanapun bentuknya,” lanjut Ita.

Mendekatkan Kepemimpinan dengan Keseharian

Ita berupaya membuat pembahasan mengenai kepemimpinan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, buku tersebut tidak semata-mata menempatkan kepemimpinan dalam kerangka teori, tetapi mengaitkannya dengan situasi nyata yang dapat ditemui di lingkungan kerja.

Melalui pendekatan humor, berbagai karakter pemimpin dan dinamika hubungan di tempat kerja diharapkan dapat dikenali tanpa harus selalu disikapi dengan ketegangan. Pembaca diajak tidak hanya melihat perilaku orang lain, tetapi juga melakukan refleksi terhadap dirinya sendiri.

Pada akhirnya, #HaHa Leadership menempatkan humor bukan sekadar sebagai sarana hiburan, melainkan sebagai pintu masuk untuk memahami situasi, membuka ruang percakapan, serta menumbuhkan keberanian untuk melihat kembali perilaku diri sendiri. Dengan pendekatan tersebut, pembahasan kepemimpinan menjadi lebih dekat, mudah dipahami, dan tidak terasa menggurui.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.