Batu Purba Berbicara di Tengah Keseharian
Jumat, 18 Sep 2026, 07:42 WIBLUASNYA persebaran situs megalitikum di kawasan Pasemah, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, menjadikan kawasan ini seolah museum terbuka yang tidak memiliki pagar dan pintu masuk. Perjalanan lebih menyerupai penelusuran sebuah lanskap arkeologi yang tersebar di tengah kehidupan masyarakat
Sudah lama kawasan ini menjadi objek penelitian arkeologi. Para peneliti, baik lokal maupun asing, berusaha mencari jawaban atas pertanyaan penting berkaitan dengan kapan kebudayaan megalitik Pasemah berkembang.
Selama bertahun-tahun, para peneliti mencoba menempatkan tinggalan tersebut dalam kerangka kronologi yang tepat. Penelitian arkeologi menemukan petunjuk bahwa masyarakat pendukung budaya Pasemah telah mengenal teknologi logam.
Ekskavasi di Tegurwangi pada masa penelitian Van der Hoop menemukan antara lain manik-manik kaca dan benda logam. Petunjuk lainnya terdapat pada relief yang menampilkan bentuk nekara tipe Heger I. Nekara tipe ini berasal dari kebudayaan Dong Son di Vietnam dan merupakan jenis nekara yang paling banyak ditemukan di wilayah Indonesia.
Berdasarkan hasil penelitian arkeologi oleh Balai Arkeologi Kota Palembang melalui pengujian penanggalan karbon (radiocarbon dating), kebudayaan megalitik di Situs Pasemah diperkirakan berusia sekitar 1.000 hingga 1.400 tahun, atau berlangsung sekitar abad ke-6 hingga ke-10 Masehi.
âArtefak tersebut diperkirakan berumur 1.400 tahun atau merupakan peninggalan abad ke-14,â kata Kristantina Indriastuti, peneliti dari lembaga tersebut, dikutip dari Antara pada 23 Oktober 2011.
Pertanggalan karbon kemudian memberikan indikasi bahwa tradisi megalitik Pasemah telah berkembang sejak sekitar abad ke-3 Masehi. Artinya, tinggalan tersebut bukan semata-mata produk dari masa prasejarah yang sangat awal, melainkan berkembang pada periode ketika masyarakat di kawasan ini telah mengenal teknologi logam.
Fakta tersebut membuat gambaran tentang Pasemah menjadi semakin menarik. Masyarakat yang menghasilkan monumen batu besar tersebut ternyata hidup dalam lingkungan budaya yang sudah mengenal teknologi dan jaringan pertukaran tertentu.
Pasemah bukan wilayah yang baru dikenal oleh para peneliti. Tinggalan megalitiknya telah menarik perhatian sejak abad ke-19. Nama-nama seperti Tombrink, Ullmann, Westenenk, dan Van der Hoop tercatat dalam sejarah penelitian mengenai peninggalan Pasemah. Penelitian kemudian berlanjut melalui berbagai survei, ekskavasi, dan kajian arkeologi oleh peneliti Indonesia.
Namun, semakin lama diteliti, bukan berarti seluruh teka-tekinya telah terpecahkan. Justru sejumlah pertanyaan masih terbuka mengenai apa sebenarnya makna setiap arca, siapa yang membuatnya, bagaimana masyarakat mengorganisasi tenaga untuk memindahkan serta memahat batu, bagaimana hubungan antara satu situs dengan situs lainnya, hingga bagaimana perubahan lingkungan memengaruhi kehidupan masyarakat.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat Pasemah tetap menjadi ladang penelitian arkeologi. Situs-situsnya tidak hanya menyimpan jawaban, tetapi juga pertanyaan baru yang menantang para ilmuwan untuk memecahkannya.
Membaca Masa Lalu
Ada sesuatu yang membuat Pasemah berbeda dari banyak tujuan wisata sejarah lainnya. Di tempat ini, sejarah tidak selalu berada di balik kaca museum. Ia berada di tengah kebun kopi, di tepi sawah, muncul di antara pepohonan, menghadap lembah, berdiri di atas punggungan bukit, dan kadang berada tidak jauh dari rumah penduduk.
Kondisi tersebut memberikan pengalaman yang sangat berbeda. Wisatawan dapat melihat bagaimana tinggalan budaya dan lingkungan modern berdampingan. Dari sebuah arca, kita dapat berbicara tentang seni. Dari dolmen dan bilik batu, pengunjung dapat berbicara tentang kematian dan penghormatan kepada Âleluhur.
Pasemah bukan sekadar tempat untuk melihat benda-benda kuno, melainkan mengajak pengunjung membaca hubungan manusia dengan alam. hay
- arkeologi Indonesia
- Situs Purba
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.