Mbappe Dikritik Tebas Gara-Gara Kaos Ceuta, Ada Apa?

Kamis, 17 Sep 2026, 04:02 WIB

Barcelona - Presiden La Liga Javier Tebas pada Rabu (16/9) mengkritik tiga pemain bintang Real Madrid, termasuk Kylian Mbappe, karena dinilai tidak mengenakan dengan benar kaos yang mendukung masyarakat Ceuta, wilayah Spanyol di Afrika Utara yang tengah terdampak krisis migrasi.

Tiga pemain Real Madrid, Mbappe, Vinicius Junior, dan Ibrahima Konate, mengenakan kaos penghormatan tersebut dengan cara digulung sebagian sebelum pertandingan melawan Elche di Liga Spanyol pada Selasa (15/9). Real Madrid memenangkan pertandingan itu dengan skor 3-2. Sementara itu, para pemain lainnya mengenakan kaos tersebut secara normal.

Ket. Foto: Penyerang Real Madrid asal Spanyol, Kylian Mbappe (#10), bereaksi saat pertandingan sepak bola Liga Spanyol antara Elche CF dan Real Madrid CF di Stadion Martinez Valero, Elche. — Sumber: AFP

Cara tersebut membuat sebagian pesan bertuliskan "we are all Ceutans" atau "kita semua adalah warga Ceuta" tertutup. Pesan itu merujuk pada masyarakat yang tinggal di wilayah Spanyol di Afrika Utara tersebut.

"Kami melihat tiga pemain memutuskan untuk tidak mengenakannya. Mengenakannya setengah sama saja dengan tidak mengenakannya... buruk, sangat buruk," kata Tebas kepada wartawan.

Inisiatif agar klub-klub mengenakan kaos tersebut berasal dari kelompok pengusaha dari wilayah Valencia. Tebas mengatakan inisiatif itu telah mendapat persetujuan, tetapi bukan diselenggarakan oleh La Liga dan "sama sekali bukan tindakan politik".

Klub-klub La Liga yang bertanding tanpa melawan klub dari wilayah Valencia tidak mengenakan kaos tersebut.

Presiden kelompok suporter Real Madrid di Ceuta, Miguel Angel Montano, mengaku kecewa terhadap keputusan ketiga pemain tersebut yang tidak mengenakan kaos secara benar.

"Kami sangat senang melihat (para pemain) mengenakan kaos tersebut karena kami membutuhkan dukungan, tetapi kami bingung ketika melihat ketiga pemain ini menutupi pesan tersebut," kata Montano kepada stasiun radio Spanyol esRadio.

Villarreal menjamu Real Betis pada Senin dan kedua tim mengenakan kaos dukungan untuk Ceuta. Sementara itu, para pemain Levante mengenakan kaos tersebut sebelum menghadapi juara bertahan Barcelona pada Minggu, tetapi klub asal Catalonia itu memilih tidak menggunakannya.

Kontroversi tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Ceuta setelah terjadi gelombang besar kedatangan migran. Puluhan ribu migran tiba di Ceuta dari Maroko pada 30 dan 31 Juli.

Sebagian besar dari mereka kembali dalam beberapa jam setelah kedatangan, tetapi beberapa ribu orang masih bertahan di Ceuta.

Warga setempat secara rutin melakukan protes ketika para migran terus berkemah di pantai dan tidur di jalanan. Mereka menuduh pemerintah Spanyol meninggalkan kota yang kewalahan menghadapi situasi tersebut di tengah krisis kemanusiaan.

Penyerang Real Betis asal Maroko, Abde Ezzalzouli, membela diri melalui media sosial pada Selasa setelah mendapat kritik karena mengenakan kaos tersebut.

"Saya ingin memperjelas satu hal, bahwa kaos yang merujuk kepada masyarakat Ceuta tersebut sama sekali tidak digunakan untuk tujuan politik ataupun sebagai bentuk penghinaan terhadap rakyat saya, rakyat Maroko," kata Ezzalzouli melalui unggahan di Instagram.

Mantan pemain Barcelona itu menyebut penggunaan kaos tersebut sebagai bentuk kepedulian sosial untuk mendukung masyarakat kota tersebut, "tanpa memandang kewarganegaraan mereka".

  • Krisis Ceuta

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.