Menko PM Dorong Nilai Tambah Kopi Kembali ke Petani
Rabu, 07 Okt 2026, 21:53 WIBBANDUNG - Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar, mendorong pengolahan kopi Arabika Manglayang untuk meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan petani setempat. Upaya tersebut dilakukan dengan memperkuat kapasitas pascapanen, pengolahan, kualitas produk, branding, serta akses pasar kopi petani.
Produksi kopi Arabika Manglayang mencapai 50 ton, namun baru 14 ton terserap untuk pengolahan menjadi produk bernilai tambah. Sementara itu, sebanyak 36 ton produksi lainnya masih dijual mentah kepada tengkulak atau bandar oleh petani setempat.
Muhaimin mengatakan kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya peluang pengembangan rantai nilai kopi di kawasan Manglayang. Menurutnya, peningkatan produksi harus diikuti dengan penguatan kapasitas pascapanen dan pengolahan.
âKopi Manglayang ini punya potensi besar. Dari sekitar 50 ton produksi, baru 14 ton yang diolah, sementara 36 ton masih dijual mentah. Ruang nilai tambahnya masih sangat besar,â kata Muhaimin Iskandar saat diwawancarai awak media usai mengunjungi Pesan Trend atau Sekolah Rimba Indonesia yang dikembangkan Yayasan Pemuda Hijrah, Rabu (7/10).
Ia menilai penguatan ekosistem kopi perlu mencakup pascapanen, pengolahan, penyimpanan, branding, dan akses pasar guna memperkuat nilai tambah. Langkah tersebut penting agar petani memperoleh manfaat ekonomi lebih besar dari hasil produksinya melalui pengembangan produk bernilai tambah.
âJangan hanya mengejar peningkatan produksi, tetapi pastikan hasil kopi diolah agar nilai tambahnya lebih banyak dinikmati petani. Produksi meningkat tanpa pengolahan maksimal membuat manfaat ekonomi yang diterima petani belum optimal,â ucap Muhaimin.
Perkebunan kopi Arabika di kawasan Manglayang saat ini memiliki luas sekitar 12,7 hektare. Pengembangan kebun juga dilakukan melalui tambahan sekitar dua hektare lahan yang telah ditanami kopi Arabika.
Pengelolaan perkebunan dilakukan bersama Kelompok Tani Putra Manglayang yang beranggotakan 31 orang. Budidaya kopi menerapkan sistem agroforestri dengan memadukan tanaman kopi, tanaman kayu, dan tanaman produktif lainnya.
Program pengembangan kopi tersebut telah berjalan sekitar tiga tahun melalui Coffee Garung. Program ini mencakup pengembangan kopi berbasis agroforestri dari budidaya, pengolahan pascapanen, roasting hingga pemasaran.
Sejumlah proses pengolahan telah dilakukan, di antaranya pulping, fermentasi, penjemuran, hulling, dan sortasi. Produk yang dihasilkan meliputi greenbean, roastbean, dan kopi bubuk.
Meski demikian, kapasitas pengolahan masih belum mampu menyerap seluruh hasil produksi. Dari sekitar 50 ton produksi pada 2026, baru 14 ton atau kurang dari sepertiga yang masuk proses pengolahan.
Muhaimin mengatakan peningkatan kapasitas pengolahan menjadi peluang untuk memperbesar manfaat ekonomi bagi petani. Penguatan tersebut juga perlu dibarengi dengan peningkatan kualitas produk dan perluasan akses pasar.
âKami ingin produksi kopi semakin besar, tetapi manfaat ekonomi yang diterima petani juga harus semakin meningkat. Nilai tambah dari kopi harus mampu memperkuat kesejahteraan petani dan masyarakat di wilayah penghasil,â ucap Muhaimin.
Ia menegaskan peningkatan produksi kopi harus berjalan seiring dengan penguatan rantai nilai. Dengan demikian, nilai tambah dari komoditas kopi tidak hanya dinikmati di luar wilayah produksi, tetapi turut dirasakan petani. ils/I-1
- Kopi
- Menko PM
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
Berita Terkait:
-
Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Terima Menhan China Laksamana Dong Jun, Perkuat Hubungan Bilateral dan Bahas Kerja Sama Militer
-
Polisi Tangkap Pelaku Pembunuhan Wanita Hamil di Bekasi
-
Wagub Rano Karno Dukung Kinder Joy of Moving 2026, Ajak Anak Jakarta Aktif Berolahraga
-
Produk UMKM Jadi Idola Tiap Daerah untuk Dipromosikan
-
Taman Margasatwa Ragunan Rayakan HUT ke-162
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.