Petenis Top Dunia Bersatu, Tuntut Bagian Lebih Besar dari Bisnis Grand Slam
Selasa, 15 Sep 2026, 00:05 WIBNEW YORK â Para petenis papan atas dunia mengubah strategi dalam memperjuangkan hak dan kesejahteraan mereka. Setelah lebih dari setahun menyuarakan tuntutan secara terbuka, para pemain kini sepakat menghentikan kampanye publik dan memilih memperjuangkan kepentingan mereka melalui Player Advisory Council atau Dewan Penasihat Pemain.
Pembentukan dewan tersebut menjadi babak baru dalam hubungan antara pemain dan empat penyelenggara Grand Slam, yakni Australian Open, French Open, Wimbledon, dan US Open.
Gerakan pemain dimulai pada Maret 2025 dengan tuntutan agar mereka memiliki suara lebih besar dalam pengambilan keputusan Grand Slam. Para pemain juga meminta peningkatan dana kesejahteraan serta pembagian pendapatan turnamen yang lebih adil.
Salah satu tuntutan utama adalah agar pemain memperoleh 22 persen dari pendapatan turnamen sebagai hadiah uang pada 2030.
Tekanan terhadap penyelenggara Grand Slam semakin kuat sepanjang tahun ini. Para pemain bahkan memangkas aktivitas media menjelang French Open dan Wimbledon sebagai bentuk protes.
Aksi tersebut ikut mendorong kenaikan hadiah uang di seluruh Grand Slam. Meski target pembagian 22 persen belum tercapai, para pemain menilai perkembangan tersebut sebagai langkah penting.
"Para pemain kini akan bekerja secara langsung dengan Grand Slam untuk membentuk dewan tersebut. Melalui dewan ini, pemain akan dikonsultasikan secara langsung dan dapat melakukan negosiasi secara berkelanjutan," demikian pernyataan kelompok pemain.
Besarnya nilai bisnis tenis profesional menjadi salah satu alasan pemain terus memperjuangkan pembagian pendapatan yang lebih proporsional.
Hadiah Australian Open tahun ini mencapai sekitar 1,41 triliun rupiah. French Open menyediakan hadiah sekitar 1,26 triliun rupiah. Sementara itu, Wimbledon menyiapkan sekitar 1,53 triliun rupiah.
US Open menjadi turnamen dengan hadiah terbesar. Total prize money mencapai rekor 1,90 triliun rupiah.
Dengan demikian, empat Grand Slam secara keseluruhan menyediakan hadiah sekitar Rp6,11 triliun pada tahun ini.
Kelompok pemain memperkirakan lebih dari US$30 juta atau sekitar Rp529,05 miliar dari kenaikan hadiah uang di empat Grand Slam dalam periode terakhir berada di atas tren pertumbuhan historis.
Para pemain juga menyambut proposal French Open untuk mengaitkan pembayaran kepada pemain dengan keuntungan yang diperoleh turnamen.
Bagi kelompok pemain, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa tekanan yang mereka lakukan sejak tahun lalu mulai memberikan hasil.
Namun, perjuangan belum berakhir.
Target utama berupa pembagian 22 persen pendapatan turnamen pada 2030 masih belum terpenuhi. Karena itu, pemain kini menyerahkan perjuangan lanjutan kepada Dewan Penasihat Pemain yang akan menjadi jalur komunikasi dan negosiasi resmi dengan empat Grand Slam.
US Open Jadi Pelopor Kesejahteraan Pemain
Di tengah tuntutan tersebut, US Open mengambil langkah penting dengan menjadi Grand Slam pertama yang berkomitmen mengalokasikan US$2 juta atau sekitar Rp35,27 miliar untuk program kesejahteraan pemain.
Keputusan tersebut mendapat sambutan positif dari kelompok pemain.
Mereka berharap kontribusi US Open terus meningkat pada masa mendatang. Para pemain juga berharap tiga Grand Slam lainnya mengikuti langkah serupa.
"Ini menjadi bukti bahwa aksi pemain yang terkoordinasi dan bersatu dalam olahraga individual dapat menghasilkan kemajuan, ditambah dialog konstruktif dengan Grand Slam dan penyelenggara turnamen," demikian pernyataan kelompok tersebut.
Pembentukan Player Advisory Council menandai perubahan strategi. Jika sebelumnya pemain menggunakan kampanye publik dan aksi protes untuk menekan penyelenggara, kini mereka memilih jalur dialog dan negosiasi langsung.
Namun, pembentukan dewan bukan berarti perjuangan pemain berakhir.
Mereka menegaskan tetap memiliki hak untuk menghidupkan kembali kampanye apabila dewan baru tersebut gagal memenuhi target yang telah ditetapkan.
"Para pemain berhak memulai kembali kampanye apabila dewan gagal memenuhi tujuan-tujuan tersebut," tegas pernyataan itu.
Perebutan Bagian dari Industri Bernilai Besar
Persoalan pembagian pendapatan ini menjadi semakin penting seiring pertumbuhan bisnis tenis profesional. Grand Slam menghasilkan pendapatan besar dari tiket, hak siar, sponsor, hospitality, dan berbagai sumber komersial lainnya.
Para pemain menilai mereka layak memperoleh porsi yang lebih besar karena merupakan aktor utama dalam menciptakan nilai komersial turnamen.
Di sisi lain, penyelenggara Grand Slam memiliki tanggung jawab besar terhadap operasional turnamen, termasuk hadiah uang, fasilitas pemain, venue, keamanan, teknologi, dan biaya penyelenggaraan lainnya.
Karena itu, negosiasi melalui Dewan Penasihat Pemain diperkirakan akan menjadi ujian penting dalam menentukan keseimbangan kepentingan pemain dan penyelenggara.
Untuk saat ini, para petenis memilih meja perundingan ketimbang aksi terbuka.
Namun, pesan mereka jelas: jika tuntutan utama tidak kunjung terpenuhi, kampanye dapat kembali digelar. Pembentukan Player Advisory Council pun bukan akhir perjuangan, melainkan kendaraan baru bagi para pemain untuk memperbesar suara mereka dalam menentukan masa depan tenis profesional.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Diserbu Ribuan Imigran Gelap dari Maroko, Spanyol Kirim Pasukan ke Ceuta
-
Playoff Liga Champions: Bodo/Glimt Singkirkan Inter Milan, Lanjutkan Langkah ke 16 Besar
-
Kalah 0-3 dari Brighton, Chelsea Turun ke Posisi Tujuh Klasemen Liga Inggris
-
Persiapan Kompetisi, Timnas Skateboard Indonesia Jalani Pemusatan Latihan
-
Pemkot Tangerang Siapkan Intervensi Terpadu demi Pastikan Anak Tetap Sekolah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.