Anak Anda Alami Keracunan Makanan? Ini Pertolongan Pertama yang bisa Dilakukan!
Sabtu, 12 Sep 2026, 11:01 WIBJAKARTA - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan sejumlah kiat pertolongan pertama yang dapat orang tua lakukan di rumah ketika anak-anak diduga mengalami keracunan makanan.
"Yang membahayakan anak adalah kehilangan cairan, bukan hanya kumannya. Kita bisa beri oralit sedikit-sedikit tapi sering, ASI dan makanan diteruskan, pantau anak berapa kali berkemih," kata Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI DR. Dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp. ETIA(K) dalam diskusi media di Jakarta, Jumat.
Dokter lulusan Universitas Indonesia itu mengatakan keracunan makanan merupakan penyakit yang timbul setelah mengonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi bakteri dan/atau racun, virus, parasit atau bahan kimia.
Gejala yang lazim ditemui bila anak keracunan adalah timbulnya rasa mual dan muntah, nyeri perut, buang air besar (BAB) cair atau BAB berdarah.
Terdapat pula gejala yang tidak khas dan perlu diwaspadai seperti demam, nyeri kepala atau pusing, pandangan kabur, kelemahan anggota gerak dan kesemutan yang perlu segera mendapatkan penanganan dari tenaga medis.
Pada sebagian besar kasus, Yogi menyebut anak-anak menunjukkan tanda dehidrasi seperti mulut kering, kehausan terus menerus, pusing, berkemih lebih jarang, warna air kemih pekat dan lemas.
Bila anak menunjukkan tanda-tanda tersebut, Yogi menyarankan supaya orang tua segera menghentikan makanan yang dicurigai menjadi penyebab keracunan. Simpan sisanya dan jangan dibuang sampai menemukan bukti yang konkret.
Kemudian berikan anak oralit sedikit demi sedikit untuk mencegah dehidrasi kian parah.
"Muntah bukan alasan berhenti memberi cairan, tapi pemberiannya diperlambat, bukan dihentikan," ujar Yogi.
Ia melanjutkan ASI maupun makan tetap harus diberikan sesuai kemampuan anak. Menurutnya, berpuasa tidak akan mempercepat penyembuhan.
Setelah gejala muntah mereda, berikan makanan lunak dalam porsi kecil. Menu yang ia contohkan seperti bubur, pisang atau roti.
Pastikan anak beristirahat cukup dan pantau berapa kali anak berkemih.
Hal lain yang Yogi sampaikan adalah selama fase itu orang tua perlu menghindari membuat larutan garam sendiri sebagai oralit. Dikhawatirkan kadar garamnya menjadi tidak terkendali dan berbahaya bagi anak.
Jangan merangsang anak untuk muntah maupun memberi arang aktif di rumah.
Yogi juga tidak merekomendasikan orang tua memberi obat penghenti diare tanpa resep dokter, karena racun dan kuman justru bisa tertahan lebih lama di dalam usus.
"Jangan juga memberi antibiotik atas inisiatif sendiri. Batasi sementara susu sapi, teh dan kopi pada anak besar, tetapi ASI jangan dihentikan," kata dia. Ant
- Keracunan Makanan
Redaktur: Koran Jakarta
Penulis: Opik
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.