• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Menang di Festival Film Ve...

Menang di Festival Film Venesia, Film Anuparna Roy Malah Diblokir India

Jumat, 11 Sep 2026, 15:18 WIB

Venesia - Sutradara independen India Anuparna Roy, yang film pertamanya meraih penghargaan utama di Festival Film Venesia tahun lalu, mengatakan kepada AFP bahwa film tersebut diblokir oleh lembaga sensor dan tidak akan ditayangkan di negara asalnya.

Film berjudul Songs of Forgotten Trees karya Roy yang saat itu baru berusia 28 tahun meraih penghargaan Sutradara Terbaik pada kategori Horizons di Festival Film Venesia 2025. Tahun ini, ia kembali ke kota di Italia tersebut dengan film keduanya.

Ket. Foto: Anuparna Roy meraih penghargaan Sutradara Terbaik tahun lalu di Venesia. — Sumber: AFP

Namun, kegembiraannya kembali ke salah satu festival film paling bergengsi di dunia sedikit ternoda oleh keputusan lembaga perfilman India yang melarang distribusi film pertamanya.

"Beberapa hari lalu, mereka menelepon kami dan mengatakan bahwa film itu merupakan 'ancaman bagi masyarakat'. Apakah Anda percaya bahwa Songs of Forgotten Trees adalah ancaman bagi masyarakat?" kata Roy kepada AFP pekan ini.

"Saya sangat kecewa dengan penyensoran tersebut," ujarnya, seraya menambahkan, "Saya mewakili negara di sini, saya menang untuk negara."

Songs of Forgotten Trees mengisahkan persahabatan dua perempuan migran yang tinggal bersama di sebuah apartemen di Mumbai. Salah satunya bekerja sebagai pekerja seks paruh waktu, sementara yang lain bekerja di pusat layanan pelanggan (call centre).

Kesulitan yang dialami film tersebut mengingatkan pada film Santosh karya sutradara Inggris-India Sandhya Suri. Film yang mendapat pujian kritikus setelah tayang perdana di Festival Film Cannes, Prancis, pada 2024 itu juga bermasalah dengan lembaga sensor.

Film tersebut mengangkat isu seksisme, diskriminasi agama, dan korupsi di kepolisian India, serta perlakuan terhadap masyarakat dari kasta rendah.

20260911151743_18ii.jpg

Tekanan

Roy kembali ke Venesia dengan film keduanya, Lovers of the Blue Night, yang juga mengangkat isu sensitif. Film itu menggambarkan kehidupan para migran Bangladesh yang berjuang menghadapi kemiskinan, duka, dan persoalan seksualitas di Mumbai, yang sebelumnya dikenal sebagai Bombay.

"Tujuan saya adalah menampilkan Bombay yang berbeda karena semua gambaran indah tentang Bombay dalam film sudah pernah dibuat," kata Roy kepada AFP menjelang pemutaran perdana film tersebut pada Jumat.

Film itu bersaing untuk meraih penghargaan dalam kategori Horizons yang menjadi ruang bagi para pembuat film pendatang baru. Pemenang diumumkan pada Sabtu.

Roy menilai ruang bagi sineas independen di India semakin terbatas, antara lain karena dominasi film-film Bollywood yang menyasar pasar massal di bioskop serta tekanan politik.

"Ini bagus bagi mereka yang bisa memuji pemerintah dan membuat film propaganda. Saya bukan orang yang bisa melakukan itu," katanya.

Ia juga khawatir pernyataannya yang mendukung hak-hak rakyat Palestina mungkin turut menjelaskan masalah yang dihadapinya dengan lembaga sensor film.

Central Board of Film Certification (CBFC) India bertugas menilai film yang akan dirilis dan memiliki kewenangan untuk meminta pemotongan atau penyuntingan, serta melarang distribusi film.

Meskipun penyensoran memiliki sejarah panjang di negara demokrasi terbesar di dunia tersebut, kelompok hak asasi manusia dan sejumlah pengkritik menilai pemerintahan nasionalis Hindu pimpinan Narendra Modi semakin memperketat kontrol sejak berkuasa pada 2014.

Meroket

Roy merupakan bagian dari generasi baru sutradara perempuan India, termasuk Payal Kapadia yang meraih kesuksesan di Cannes dan tingkat internasional melalui film All We Imagine as Light pada 2024.

Roy sebagian besar belajar membuat film secara otodidak dengan mempelajari seni perfilman dari teman dan para mentornya.

Beberapa tahun lalu, ia bekerja di sebuah pusat layanan pelanggan di New Delhi setelah pindah dari rumah keluarganya di Purulia, wilayah penghasil batu bara di negara bagian Benggala Barat, India timur.

Sejak pindah ke Mumbai pada 2023, energi kota yang terus bergerak sekaligus kerasnya kehidupan di kota yang dijuluki "Maximum City" menjadi sumber inspirasi yang kaya bagi karya-karyanya.

Tantangan bagi Roy adalah membangun empati terhadap tokoh-tokoh yang diangkat dalam filmnya.

"Para mentor saya membimbing saya dan terus mengatakan bahwa tidak boleh ada bahasa yang mengandung rasa iba, tidak boleh ada pembesar-besaran mengenai kemiskinan atau romantisasi kemiskinan," ujarnya.

"Mudah menjual kemiskinan kepada Eropa, bukan? Ini merupakan perjuangan yang terus berlangsung," katanya.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.