Agrinas Palma dan Pertamina Bahas Pengembangan Bioenergi dari Hulu hingga Hilir

Jumat, 11 Sep 2026, 13:20 WIB

JAKARTA — PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) bersama PT Pertamina (Persero) dan PT Pertamina Power Indonesia membahas perluasan kerja sama pengembangan bioenergi terintegrasi dengan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Pembahasan berlangsung dalam pertemuan dengan Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jakarta, pada Kamis (10/9/2026).

Ket. Foto: Pembahasan perluasan kerja sama pengembangan bioenergi terintegrasi antara PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) bersama PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Power Indonesia, dan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di Jakarta pada Kamis (10/9/2026). — Sumber: Agrinas Palma Nusantara

Kerja sama yang dibahas mencakup rantai pengembangan bioenergi dari hulu hingga hilir. Ruang lingkupnya antara lain penyediaan bahan baku, fasilitas pengolahan, infrastruktur energi, logistik dan distribusi, hingga kepastian penyerapan produk.

Dari pihak Pertamina, pertemuan tersebut dihadiri oleh Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero), Emma Sri Martini, serta Direktur Utama PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), John Anis, bersama jajaran manajemen.

Sementara itu, Agrinas Palma diwakili oleh Direktur Utama Mohammad Abdul Ghani dan Direktur Bisnis Nurhidayat.

Todotua Pasaribu mendorong agar rencana kolaborasi antarbadan usaha milik negara (BUMN) tersebut segera diterjemahkan ke dalam proyek yang konkret. Menurut dia, kerja sama perlu memberikan manfaat ekonomi sekaligus meningkatkan efisiensi rantai pasok dan mendukung ketahanan energi nasional.

Dari sisi hulu, Agrinas Palma menilai bahwa potensi lahan, kebun, fasilitas produksi, dan bahan baku yang dimiliki perusahaan dapat disinergikan dengan kemampuan Pertamina dalam pengembangan serta pemasaran energi.

Direktur Utama Agrinas Palma Nusantara, Mohammad Abdul Ghani, mengatakan bahwa perusahaan siap berperan dalam memastikan ketersediaan bahan baku bioenergi secara berkelanjutan.

“Agrinas Palma siap mengambil peran pada sisi hulu dengan memastikan ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan. Kolaborasi ini diharapkan dapat membentuk ekosistem bioenergi yang terintegrasi, mulai dari kebun, fasilitas pengolahan, infrastruktur pendukung, hingga penyerapan produk,” ujar Mohammad Abdul Ghani.

Reaktivasi Pabrik Bayas Biofuels

Salah satu agenda utama dalam pembahasan tersebut adalah rencana reaktivasi Pabrik Bayas Biofuels di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Fasilitas ini disebut memiliki kapasitas produksi sekitar 600.000 ton fatty acid methyl ester (FAME) per tahun.

FAME merupakan bahan baku biodiesel yang dihasilkan melalui pengolahan minyak nabati. Dalam ekosistem biodiesel, ketersediaan FAME menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung kesinambungan pasokan bahan bakar nabati.

Reaktivasi Pabrik Bayas Biofuels diproyeksikan menjadi salah satu langkah awal kerja sama Agrinas Palma dan Pertamina. Fasilitas tersebut juga diarahkan sebagai sumber pasokan FAME pertama yang disediakan BUMN.

Jika direalisasikan, proyek itu diharapkan dapat memperkuat keterlibatan BUMN dalam rantai pasok biodiesel nasional sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan bahan bakar nabati secara berkelanjutan.

Dikembangkan hingga Bioetanol

Selain biodiesel, pembahasan kerja sama juga mencakup pengembangan ekosistem bioetanol terintegrasi di Kalimantan Timur. Program tersebut dirancang dengan menghubungkan pengembangan perkebunan singkong dengan fasilitas pengolahan, penyediaan energi, logistik, hingga penyerapan hasil produksi.

Model integrasi tersebut menempatkan bahan baku pertanian sebagai bagian dari rantai industri energi. Dengan demikian, pengembangan bioenergi tidak hanya berfokus pada fasilitas pengolahan, melainkan juga mencakup ketersediaan bahan baku dan infrastruktur pendukung hingga pasar produk.

Ruang lingkup kerja sama Agrinas Palma dan Pertamina juga direncanakan mencakup investasi, pemanfaatan produk samping, penyediaan bahan baku, pembangkit listrik, aspek keberlanjutan, logistik dan distribusi, riset dan teknologi, serta penyerapan produk.

Setelah pertemuan tersebut, kedua pihak akan memfinalisasi perluasan ruang lingkup nota kesepahaman. Kajian teknis dan bisnis terhadap sejumlah proyek yang dinilai siap diimplementasikan juga akan dipercepat.

Kolaborasi tersebut diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan pasokan energi berbasis sumber daya terbarukan, melainkan juga mendorong hilirisasi sektor perkebunan. Pemanfaatan bahan baku perkebunan dan pertanian untuk industri bioenergi diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.